Ngopi Pagi Bareng Mbah Nun di South Perth

Catatan Perjalanan Sinau Bareng Mbah Nun dan Ibu Novia Kolopaking di Australia, 16-22 November 2018, bag. 2

Tadi malam kami tiba di rumah pukul 23.30, dan selanjutnya beristirahat. Kemudian pagi ini, pukul 5.45 kami sudah berangkat menuju sebuah apartemen di South Perth. Persisnya di lantai 8, teman-teman telah menunggu kedatangan Mbah Nun dan Ibu Novia. Acaranya adalah Ngopi Bareng. Yang menuanrumahi adalah Pak Kaji Edan alias Pak Onny, salah seorang warga Indonesia yang jadi tokoh di Perth. Seorang seniman yang ke mana-mana sarungan dan srandalan. 

Benar-benar ngopi bareng, dan sarapan pagi, yang diperhangat dengan obrolan santai. Tak ada backdrop atau apapun terpasang. Hanya saja di akun medsos Pak Kaji Edan tersiarkan satu undangan di mana caption-nya Ia tulis begini: “Monggo lho… Nggak Harus Masuk Islam Koq. Lha wong hanya ngopi2 ama ngobrol koq yes.” Teman-teman tentu bisa memahami konteks caption seperti itu di sebuah masyarakat yang mayoritas warganya non-muslim. Ini adalah sebuah undangan berbasis kejembaran dan keluasan cakrawala dalam memahami agama dan manusia. 

Suasana pagi pun sangat mendukung, yaitu mendung, padahal mestinya agak panas karena musim Spring. Apa karena kehadiran Mbah Nun ya sehingga alam di sini turut presensi dengan caranya sendiri. Begitu dalam hati sempat terlintas. Ah, lewati. Dari tempat ngopi ini terpapar pemandangan sungai besar atau Swan River, serta lajur jalan utama yang masih terlihat sepi, karena memang ini hari Sabtu, libur kerja. Jadi nggak enak sama Mbah Nun. Beliau tak pernah libur. Nyatanya, pagi ini, dan sejak kemarin, berada di Australia, buat menyapa, menemani, dan berbagi untuk kami-kami di sini. 

Hari ini pun jadwal Mbah Nun cukup padat di sini. Usai Ngopi Bareng pagi ini, agak siang Beliau akan berkunjung ke Madrasah Daarul Ma’arif, dan sorenya Sinau Bareng. Nah, di Madrasah Daarul Ma’arif yang berlokasi di Kenwick Community Centre ini, Mbah Nun akan diminta memberikan nasihat untuk para santri dan orangtua. 

Ngopi Bareng di tempat Pak Onny ini tadi membawa kami semua menyimak Mbah Nun berbagi kepada kami sejumlah topik dan terutama perspektif yang kami bisa serap sebagai cara dalam melihat sesuatu. Beliau paparkan perbedaan antara khoir, ihsan, dan haqq dan bagaimana aplikasinya dalam hubungan di antara kita. Nyenggol dikit pula mengenai pilpres, bahwasanya kita sebenarnya tak tahu siapa di balik yang berkontestasi itu. 

Yang kami perlu juga catat sungguh-sungguh adalah penjelasan Mbah Nun bahwa kesalahpahaman yang dialami umat Islam ini dimulai dari generasi awal kaum Muslimin ketika Islam mulai diformalisasi, padahal Islam dalam bahasa Inggrisnya adalah liberal atau to liberate, yang berarti membebaskan. Mbah Nun juga cerita tentang filantropi yang esensinya berhubungan dengan peristiwa kebaikan atau shadaqah. Dari sini pula, teman-teman mendengarkan pengalaman Mbah Nun bersama tim SAR DIY tepat delapan tahun lalu di bulan November saat Merapi punya gawe. 

Di situ ada satu ilmu yang kami petik yaitu, sebagaimana Mbah Nun sampaikan, bahwa sebenarnya kita punya kesempatan menawar musibah dengan memohon kepada Allah melalui shalawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Gayung bersambut, teman-teman kemudian banyak mengajukan pertanyaan kepada Mbah Nun, di antaranya bagaimana menghadapi kelompok yang suka melarang-larang, membid’ahkan, dan mengkafirkan. Satu di antara cara yang disampaikan Mbah Nun adalah menghadapi mereka dengan ndagel-ndagel sithik secara budaya dengan target mereka akan capek-capek sendiri. Demikian sedikit yang bisa saya laporkan dari Ngopi Bareng pagi ini.