Menemui Sedulur Muslim Busselton

Salah satu muatan acara pertama Mbah Nun dan Bu Via di Busselton adalah menemui sedulur-sedulur muslim di sana. Acara berlangsung di Senior Citizen Center Busselton.

Tentang Busselton dan teman-teman muslim di sana, rekan kita Iqbal Aji Daryono (Duh siapa sih dia?) berbagi catatan untuk kita. Busselton adalah sebuah kota kecil di pantai, berjarak sekitar 230 km di selatan Perth dengan perjalanan darat sekitar dua jam.

Ngobrol sampai pagi dengan Mbah Nun dan Ibu Via.
Ngobrol sampai pagi dengan Mbah Nun dan Ibu Via.

Karakter masyarakat muslim di Busselton dan sekitarnya lumayan unik. Jumlah mereka tentu sangat sedikit. Kebanyakan warga muslim di Busselton adalah mereka yang menikah dengan orang Australia warga setempat. Pada gilirannya, ini membuat mereka jadi golongan yang serba terjepit.

Sebagian di antara mereka suaminya mau masuk Islam, sebagian tidak. Jadi secara “syar’i” dipandang bermasalah, sehingga banyak ustadz ortodoks yang malas melirik ke mereka.

Masyarakat dengan corak sosiologis seperti inilah yang dihadapi Mbah Nun. Dari mereka muncul cerita-cerita problem yang paling umum dialami.

Misalnya ada yang cerita bagaimana mereka sebenarnya sangat merindukan suasana Islami. Bisa beribadah dengan bebas, tetapi akses sulit. Komunitas muslim sangat minoritas. Guru ngaji pun tidak ada.

Ada juga mereka yang anak-anaknya akhirnya tercerabut dari akar Islam. Anak-anak itu dididik cara Islam dengan segala keterbatasan. Tetapi, karena tradisi Australia remaja umur 18 tahun sudah mandiri, tak sedikit anak-anak itu yang akhirnya memilih tidak memeluk agama Islam. Ini yang sering bikin orangtua mereka menangis.

Mendengar cerita-cerita itu, Mbah Nun membesarkan hati mereka akan “posisi istimewa” mereka. Mbah Nun menyitir sabda Kanjeng Nabi Muhammad yang menegaskan bahwa umat yang hebat itu bukanlah mereka yang beriman dan hidup bersama Nabi, tetapi mereka yang hidup jauh setelah zaman Nabi, tidak pernah berjumpa Nabi, namun tetap beriman.

Maka, menurut Mbah Nun, ibaratnya orang sholat satu kali di tempat seterpencil Busselton, dengan muslim yang sangat segelintir dan lingkungan Islam yang blas nggak ada, itu nilainya jauh lebih tinggi daripada orang Mekah yang naik haji. Ibaratnya.

Mbah Nun juga menyampaikan tentang kenikmatan dan kemuliaan. Kalau sekadar cari kenikmatan itu gampang. Tetapi untuk berderajat mulia, manusia harus menempuh ujian. Apa yang didapatkan muslim Busselton itu akan sangat baik jika diposisikan sebagai proses untuk terus meningkatkan derajat kemuliaan diri.

Sekalipun merespons cerita-cerita mixed marriage—pernikahan antar ras atau agama yang berbeda—itu, suasana acara berlangsung gayeng dan adem. Bahkan Bu Ade Scaf menyajikan suguhan Bakso. Rekan kita Iqbal Aji Daryono diduga kuat ikut makan bakso itu. Mana sudah numpang foto pula sama Mbah Nun. Mayan ha ha.

Ya sudah, tengkiyu Mas Iqbal. Bahagia selalu sama istri dan anak-anak di sana. Kalau pas nyetir mobil Big Van-nya jangan disambi update status facebook terus. (HM)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image