Mbah Nun dan Tiga Sekawan dari Pelosok Western Australia

Catatan Perjalanan Sinau Bareng Mbah Nun dan Ibu Novia Kolopaking di Australia, 16-22 November 2018, bag. 6

Minggu 18 November 2018 pukul 7 pagi, kami melanjutkan perjalanan ke lokasi acara berikutnya di Margaret River Community Resource Centre. Kali ini tempatnya sekitar 300 km dari kota Perth. Margaret River walaupun sangat jauh dari pusat kota, tapi tempat ini tujuan wisata terkenal dan ramai. Ada perkebunan anggur, pabrik pengolah coklat, ombaknya tujuan untuk selancar. Saya sendiri belum pernah ke sini, hehehe, padahal sudah 17 tahun lebih tinggal di Perth. Berkah mengantarkan Mbah Nun saya bisa katut ikut mengunjungi tempat itu. Ada beberapa keluarga orang Indonesia yang tinggal di sana. Sengaja kami datang ke sana mengajak Mbah Nun utk menjumpai mereka.

Sepanjang perjalanan rasanya seperti di negeri antah berantah. Yang tampak hanya jalan tol dan ladang. Kami sempat istirahat berhenti sejenak untuk melepas lelah dan mengepulkan asap kehidupan.

Pukul 11 kami tiba di lokasi acara. Alhamdulillah acara berlangsung dengan lancar. Perihal muatan acara bisa teman-teman simak pada cerita Mbak Nila sebelum tulisan ini. Suasana kekeluargaan Indonesia kembali terasa kental seperti biasanya. Hidangan makan siangnya menu Indonesia seperti bakso, gulai kambing, urap, kue-kue, dll. Yang hadir sekitar 30 orang. Cukup banyak untuk ukuran lokasi yang sangat jauh dari pusat kota Perth. Jadwal acara yang seharusnya berakhir jam 2 siang molor sampai hampir jam 4 sore saking asyik dan serunya diskusi Sinau Bareng.

Malamnya, setelah tiba di Busselton tempat bermalam kami, yaitu di rumahnya Mas Ali, sekitar 45 Km dari Margaret River. Ada salah seorang hadirin yang “bertawasul” lagi melalui saya untuk menemui Mbah Nun. Ada tiga sekawan yang hadir di acara sinau bareng tadi ingin sekali bertemu lebih lanjut dengan Mbah Nun. Tadi siang adalah perjumpaan pertama kali mereka dengan Mbah Nun secara langsung. 

Kalau misal ada orang yang tinggal di Yogya atau Jawa Timur kenal Mbah Nun itu umum. Tapi kalau yang “ngefans” ini tinggal di pelosok Western Australia, bagi saya ini tidak umum. Ternyata mereka selama ini kenal dan mengikuti Maiyahan melalui YouTube. Bahkan salah seorang dari 3 sekawan tersebut yaitu Mas Grendy yang asli Malang sudah kenal Mbah Nun dari kecil tapi belum pernah jumpa secara langsung. Bahkan ayahnya penggemar Mbah Nun. Mas Grendy ngomong sampai terharu. Dia bilang punya energi ketersambungan batiniyah yang kuat terhadap Mbah Nun. Kami dibawakan Mas Grendy tempe kering pedas makanan kesukaan Mbah Nun.

Saya mau cerita sedikit tentang tiga sekawan ini. Mereka baru saling ketemu di  Western Australia ini dan yang saya perhatikan mereka mempunyai beberapa kesamaan. Seperti istri mereka merupakan warga negara Australia atau orang bule dan sama-sama menyukai musik reggae. Dari yang saya dengar dari teman-teman di sini mereka ini musisi. Mas Grendy gitaris, Mas Midi perkusi dan Bang Eky vokalisnya. 

Uniknya hari ini, tanggal 18 November bertepatan dengan ulang tahun dan minggu cutinya Bang Ekky. Misal tidak cuti minggu ini sudah pasti tidak akan jumpa Mbah Nun tadi. Bang Ekky ini bekerja di site pertambangan. Jadi model shift-nya 2 minggu bekerja dan 1 minggu cuti. Kejadian ini mirip kisah sahabat saya yang sempat di-PHK saat Mbah Nun rawuh tahun lalu, kemudian langsung mendapatkan kerja setelah Mbah Nun meninggalkan Perth. Bahkan minggu ini seharusnya jadwal sahabat saya itu bekerja selama 2 minggu, tapi kok ndilalah-nya ada perubahan jadwal sehingga dapat cuti kerja dan bisa ketemu Mbah Nun lagi. Apakah ini kebetulan? Kalau saya nggak terlalu yakin dengan yang namanya kebetulan. Yang saya pasti yakin ini sudah diatur Allah.

Perbincangan dengan mereka malam itu sangat hangat dan menggembirakan. Hingga ketika perbincangan harus diakhiri, saya melihat akhlak mulia Mbah Nun ketika si Mbah mengantar mereka ke depan halaman saat berpamitan. Bahkan ditunggu sampai mobil mereka berlalu. Beberapa kali Si Mbah mengatakan, “Aku gak tego”.

Buku Cak Nun