Cintailah Sesama, Tidak Menuhankan Apapun Selain Allah

Catatan Perjalanan Sinau Bareng Mbah Nun dan Ibu Novia Kolopaking di Australia, 16-22 November 2018, bag. 5

Minggu 18 November 2018, hati saya mengharu biru dengan kedamaian (damai di perut, hati, mata dan kuping).

Jam 12.30 saya datang terburu-buru karena telat setengah jam dari jam pertemuan sesuai undangan.

Sambil menyeret Ekky Siwabessy dan Midi Harso serta mendaulat mereka membawa keripik dan tart coklat, kami beriringan menuju ruangan di Margaret River Community Center (kedua anak saya juga ikut).

Ternyata saya tidak telat, para hadirin dan juga tokoh utama: Cak Nun dan Mbak Novia, masih makan. Saya terselamatkan.

Tanpa menunggu lama. Anak-anak langsung saya “buang” ke depan biar main sama anak-anak lainnya.

Saya, dengan kecepatan penuh, langsung menghajar Bakso teh Ade Scaf.
Enam bakso plus tiga calo-jagung masuk ke perut dalam waktu singkat.
Keluwen dan nggragas. Ben!

Episode kedua, saya melahap kari ayam, suwir ayam pedas dan tumis daging.
Wareg! Cuma bisa kedip-kedip setelahnya.

Tak lama, seluruh hadirin masuk ke ruangan yang telah disediakan. Saya juga.

Acara “Sinau Bareng” dibuka dengan doa dan bacaan shalawat. Dan pujian itu jadi semakin istimewa saat Mbak Novia Kolopaking bershalawat dalam berbagai irama lengkap dengan tabuhan rebana juga. Acara jadi semakin meriah dan seluruh hadirin juga ikut menyenandungkan pujian tersebut.

Mbak Novia juga sempat membawakan lagu apik yang berkisah mengenai rintihan manusia pada Sang Pencipta. Rintihan kepasrahan batin manusia pada segala ujian yang diberikan Sang Maha Kuasa.

Saya sampai membik-membik mendengarnya. Luar biasa indah suara mbak Novia itu. Dan luar biasa damai hati saya mendengar lirik lagunya. Andai saya mendengar lagu ini empat tahun silam, mungkin episode ingin mati tidak pernah hadir di benak saya. Ah, Tuhan memang Yang Maha Tahu akan rencana terbaik buat kita, dan juga saya.

Lanjut, Cak Nun dibantu Pak As’ad sebagai penerjemah (Dewan Syuriah NU di Western Australia) dan Bu Ade sebagai penerjemah suara dua (kayak paduan suara ada suara duanya), memulai diskusi dengan bahasan yang ringan yaitu BERHUBUNGAN alias relationship.

Sayangnya, saya sering keluar masuk ruangan saat diskusi itu karena dengar indigo bengak-bengok di luar. Jadi tidak full meresapi secara kata-per-kata.

Inti yang saya tangkap begini:

1- Pernikahan itu jihad terbesar manusia karena suami dan istri akan sering dan masih harus saling belajar memahami satu sama lainnya, selamanya.

2- Ada kawan yang curhat karena suaminya “susah dikasih tahu” dan melenceng dari “akidah”. Cak Nun kasih wejangan bahwa sebagai istri ya selayaknya tetap baik-baik sama suami. Semakin mendekat ke Allah biar dibantu dikasih jalan keluar. Cak Nun bilang, kalau suami pulang ya dibaik-baikin. Misalnya kakinya dicuci…. lalu saya menyahut kencang: “Pakai air panas Cak!” Ooopsssss… hadirin bergemuruh.

3- Hubungan tidak melulu suami istri. Hubungan Pencipta dengan ciptaan-Nya. Hubungan manusia dengan alam. Hubungan pemerintah rakyatnya dan sebagainya (saya keluar ruangan dan nggka tahu Cak Nun kemudian cerita apa gara-gara indigo mbengok lagi).

4- Cak Nun mengibaratkan hubungan Tuhan dan Manusia itu seperti pemerintah dengan rakyatnya. Juga seperti suami dengan istrinya. Tuhan memberikan kenikmatan dunia pada manusia, nah imbal baliknya ya Tuhan meminta manusia menyembah hanya kepada-Nya (itu bayaran pajak kita ke Tuhan). Pemerintah juga begitu. Ada pajak yang diminta setelah pemerintah menyiapkan segala fasilitas buat rakyat. Suami juga demikian… dia menyiapkan segalanya demi kebahagiaan istri dan keluarga, nah imbal baliknya, istri ya berlaku baik pada suami. Disiapkan dulu, baru meminta dan yang diminta ya harus ikhlas memberi. Begitu ulasan pendeknya.

5- Cak Nun mengakui dan ikhlas kalau Tuhan itu diktator. Kan terserah Tuhan mau apa. Wong kita ini ciptaan Tuhan kan? Ya bebas saja Tuhan mau apa sama kita. Ya kita ndak bisa menolak?… Ya bener juga sih, hehe, ini untuk memberi wejangan terakhir pada kawan yang tadi curhat mengenai suaminya yang susah dikasih tahu.

6- Kemudian ada pertanyaan mengenai hate speech atau ujaran kebencian (jeng jeng jenggggggggg). Suasana mulai serius. Si penanya mempertanyakan banyaknya orang yang diklaim sebagai ustadz/ulama tapi kemudian menebarkan hate speech lewat medsos. Tanggapan Cak Nun datar dan santai: OJOK DIREKEN (tidak perlu digubris). Perkelahian di medsos itu hanya untuk level kalangan menengah, menengah ke atas dan para elite. Yang kalangan bawah, adem ayem saja kok. Mereka tidak terpengaruh hiruk-pikuk di medsos. Cak Nun bisa bilang begitu karena sering diundang pengajian di desa-desa yang pesertanya puluhan ribu orang dan mereka tidak begitu peduli dengan hate speech di medsos. “Ya ada, tapi gak banyak. Masalah Pilpres sama sekali ndak berpengaruh sama kehidupan mereka kok,” kata Cak Nun. Si penanya sebenarnya belum puas tapi tertawa lebar saja.

7- Terakhir, Cak Nun berpesan agar kita semua saling mencintai sesama, semuanya. Dan tidak menuhankan simbol, organisasi bahkan manusia. Tidak menuhankan capres. Tidak menuhankan apapun selain Tuhan Yang Maha Esa.

Acara kemudian ditutup dengan lagu kemesraan yang dinyanyikan bersama-sama untuk memperkuat indahnya kebersamaan kita. Untuk mendamaikan hati. Untuk saling mencinta sesama.

Malamnya, saya kembali lagi menjumpa Cak Nun dan Mbak Novia di rumah mas Ali Deas dan Mbak Yuyun Deas, demi memperoleh kenang-kenangan tanda tangan di buku beliau yang judulnya Markesot Bertutur.

Saya grogi benar dekat beliau. Semoga aura “mokong” saya ndak kebaca.

Terima kasih kepada seluruh panitia atas terselenggaranya acara Sinau Bareng ini.

Love to you all.

Buku Cak Nun