Akik Berlafadh Allah di Freemantle Market

Catatan Perjalanan Sinau Bareng Mbah Nun dan Ibu Novia Kolopaking di Australia 16-22 November 2018, bag. 3

Rekan kita Mas Wahyu SS melaporkan, setelah mengunjungi Madrasah Darul Ma’arif sabtu siang ini dan sebelum Sinau Bareng di Bentley Community Centre, Mbah Nun dan Ibu Novia Kolopoking diajak berjalan-jalan di Freemantle Market untuk cari oleh-oleh. Buat siapa? Lho kok malah nanya. Kalian semua kan sudah dapat ilmu banyak dari Mbah Nun. Fokus ke ilmu, fokus ke ilmu ya. Jangan yang lain.

Freemantle adalah sebuah kota pelabuhan di Australia. Kota yang beberapa titiknya terlihat rapi dan enak buat dinikmati hawanya. Silakan lihat beberapa fotonya. Sedangkan Freemantle Market ini sendiri adalah sebuah pasar yang sudah sangat tua, tertera di atas pintu masuknya tahun 1879. Berjalan-jalan di kota ini, Mbah Nun dan Bu Via ditemani Mas Wahyu, Pak Anshori, dan Pak Sadat.

Di pasar ini, Mbah Nun dan Bu Via sempat mampir di warung kebab. Yang jual bernama Zakaria dan berasal dari Yordania. Tampaknya si dia juga merangkap mahasiswa S3 yang ambil konsentrasi terjemah bahasa Arab ke bahasa Inggris. Kita sama-sama tahu, ini adalah hal yang lazim bagi seorang mahasiswa di luar negeri untuk belajar dan sekaligus bekerja.

Mbah Nun mencicipi kebab di warung Mas Zakaria itu, dan asiknya Mbah Nun dikasih hadiah kentang goreng. Mengapa? Karena sebelum Mbah Nun datang, warung sepi, nah habis Mbah Nun menikmati di situ, warung jadi ramai dan laris. Yang demikian namanya berkah dan rezeki anak sholeh, Mas Zakaria.

Selain mampir di warung kebab Mas Zakaria yang kelarisan, Mbah Nun juga singgah ke tempat penjual akik. Di sini, dilaporkan oleh Mas Wahyu, Mbah Nun mendapatkan cincin akik bertuliskan lafadl Allah. Semoga kita mengerti bahwa lafadh tersebut bukan ditulis oleh penjualnya, melainkan oleh proses alami yang melekat pada perjalanan hidup batu itu, dan tidak semua batu mendapatkan takdir seperti itu.

Cerita dapat batu tersebut juga sebuah keterbimbingan spiritual tersendiri. Bagaimana? Mas Wahyu menuturkan, awalnya dia coba menelusuri dulu khusus untuk mencari kios akik atau batu permata. Sambil mengitari toko-toko lain dan hendak memberi tahu kios itu ke Mbah Nun, eh ternyata malah sempat telisipan. Begitu ketemu Mbah Nun lagi, dia langsung bilang di sana ada kios akik. Tapi ternyata Bu Via juga bilang sudah dapat. Lho malah udah dapat.

Kepada Mas Wahyu, Mbah Nun mengisahkan bahwa setiap cincin akiknya punya cerita dan keunikan sendiri, misalnya akik yang bertulis huruf Nun atau lafadl Allah. Itu Mbah Nun ceritakan saat berjalan di depan toko-toko akik sambil bertanya ke penjualnya kondisi batu yang dipegangnya, asli atau tidak, dan lain sebagainya, dan tak sampai beberapa detik tiba-tiba Bu Via bilang, “Lho ini tulisan Allah.” Begitulah ceritanya. Jadi, Bu Via yang mendapatkan atau menemukannya.

Setelah mengunjungi Freemantle Market, Mbah Nun dan Bu Via bergeser ke satu pasar lagi tak jauh dari situ, yaitu pasar bernama E Shed Market. Di sini salah satu yang didatangi Mbah Nun adalah toko peralatan militer antik. Ada jaket, rompi, tas, dan lain-lain. Semua berhubungan dengan militer.

Kemudian dari toko peralatan militer, Mbah Nun ke toko barang antik lainnya. Setelah menyaksikan semua barang-barang yang ada di sini, Mbah Nun dapat peci bulu, dan langsung dibeli. Menurut pemiliknya, Mas Bule berkumis yang tampak di foto itu berbincang akrab dengan Mbah Nun, barang-barang yang dikoleksinya selama ini meliputi barang seperti keris dari Sumatera dan Malaysia serta kunci sabuk Jawa atau stagen. Satu lagi warung souvenir dikunjungi, pemiliknya malah asli orang Indonesia, seorang Ibu yang kalau tak salah berasal dari Bogor.

Dari aneka barang-barang antik, perhatian kita arahkan lagi ke Nama E Shed Market ini. Tampaknya ada rahasia menyertai nama itu. Jika nama itu dibalik akan menjadi Market-E Shed, atau kalau segera dibaca menurut khasanah Maiyah akan lebih dekat terucap Marke(t)sot. Seringkali memang Markesot bernasib tersamarkan, tersembunyikan.

Buku Cak Nun