Indonesia adalah Bangsa Brahmana

Atas nama bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan sebagai sebuah negara pada tanggal 17 Agustus 1945. Perjuangan setelah proklamasi kemerdekaan untuk meraih cita-cita luhur sebagai sebuah bangsa tentu memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Setiap peralihan kekuasaan dan jalannya tiap-tiap pemerintahan di tiap zaman senantiasa menghadapi tantangan yang berbeda pula. Kini setelah 77 tahun eksistensi bangsa yang berada di Asia Tenggara bernama Indonesia ini masih tetap tangguh di tengah arus globalisasi dan banjir informasi yang tidak lagi dibatasi teritorial negara. Mungkinkah semangat kebangsaan orang-orang dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga Rote ini dipupuk oleh slogan NKRI harga mati?

Nusantara terdiri dari ratusan suku bangsa dengan ribuan logat bahasa. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan lebih dekat dengan bahasa Melayu walaupun mayoritas bangsa ini bersuku Jawa. Kalau hanya soal banyak jumlah pengguna bahasa mestinya Indonesia menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa utama. Namun kesepakatan sebagai sebuah bangsa yang tertuang dalam naskah Sumpah Pemuda menyatakan bahwa bahasa persatuan adalah Bahasa Indonesia. Meski demikian, dengan kesepakatan satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa bukan berarti kepulauan mesti jadi satu benua dan keberagaman suku bangsa dan bahasa di Nusantara dihilangkan dan menyisakan satu bahasa tunggal Indonesia saja. Bhineka Tunggal Ika bukanlah menghapus perbedaan, melainkan menjadikan keberagaman itu sebagai kekayaan bangsa untuk setiap suku bangsa saling mengenal dan memahami satu dan lainnya.

Tetapi orang Sumatera bukanlah bangsa Malaysia, sedangkan mutiara-mutiara hitam Papua adalah bangsa Indonesia, dan pulau Timor kini tidak lagi dihuni oleh sebuah bangsa. Kenyataan ini jika diungkapkan akan menggelitik benak kita sebagai sebuah bangsa. Perlu ada narasi yang mampu mengukuhkan semangat kebangsaan kita supaya bangsa ini tidak sekedar kumpulan dua ratus jutaan orang yang begitu saja menjadi bangsa karena lahir, besar dan beranak-pinak dalam satu teritorial negara. Walaupun mungkin hanya karena itu alasan yang mampu kita hadirkan, setidaknya kenyataan ini dapat disadari supaya kita tidak terlalu kecewa pada kesenjangan sosial dan disintegrasi bangsa yang pernah terjadi.

‌Jargon senasib sepenanggungan menjadi tidak relevan ketika penyebab kematian bisa dipermainkan oleh segelintir orang yang seharusnya menjadi teladan keamanan. Hukum dikondisikan supaya pidana mendapatkan maklum. Pendidikan dipetakan berdasar zonasi untuk menutupi ketidakmampuan sekolah negeri dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa. Malah kewajiban negara dalam menyiapkan generasi penerus bangsa sebagian dipasrahkan pada swasta. Keadilan sosial yang mana jika minyak goreng melangit sementara petani sawit menjerit lantaran dibandingkan harga cabai rawit bedanya bumi langit. Sepenanggungan yang bagaimana jika orang tua berfoya-foya menghamburkan harta lantas sepeninggalnya justru mewariskan hutang kepada anak-cucunya.

‌Kebebasan demokrasi benar menyamakan derajat aspirasi setiap orang, tapi ketika cuan menjadi panutan, kemerdekaan menentukan pilihan hanya jadi lawakan. Di sebuah forum internasional ada yang terang-terangan menjadikannya bahan bercanda. Di Somalia perlu 20-30 hari supaya hasil pemilu diketahui, di Amerika hanya butuh beberapa jam, sedangkan di Indonesia hasilnya sudah diketahui sebelum pemilu. Dengan berbagai cara, rekayasa-rekayasa dibuat yang penting bisa berkuasa. Sampai-sampai abaikan kemanusiaan yang adil dan beradab.

Sebagai sebuah bangsa yang besar, pemimpin negara adalah putra terbaik bangsa yang terpilih untuk mengurusi rumah tangga bangsa. Adanya sudah semestinya, tidak perlu bersolek dia sudah berwibawa. Tidak perlu pura-pura garang, dia pembawaannya memang berkarisma. Di kancah internasional, di antara negara-negara tetangga, keberadaannya dinantikan sebagai peran utama. Hadirnya mendamaikan mencerminkan besar bangsa yang telah melahirkannya. Bangsa yang memangku peradaban bumi, bangsa yang berkuasa tapi kekuasaannya bukan untuk menindas.

Edisi Agustus 2022 ini, Kenduri Cinta berkolaborasi bersama Progress Management akan menggelar pementasan naskah teranyar dari Emha Ainun Nadjib “Waliraja-Rajawali” yang akan disutradarai oleh Jujuk Prabowo dengan melibatkan Teater Perdikan dan Gamelan KiaiKanjeng. Melalui naskah ini, Cak Nun akan mengajak kita untuk mengenal kembali tentang siapa sebenarnya diri kita, bukan hanya sebagai individu saja, tetapi juga sebagai entitas sebuah Bangsa.

Cak Nun pula yang mengusulkan tema “Bangsa Brahmana” sebagai tema di Kenduri Cinta edisi Agustus 2022 ini. Sepertinya memang ada benang merah antara tema “Bangsa Brahmana” dengan naskah “Waliraja-Rajawali” ini. Ada apa sebenarnya? Apakah ada pesan tersendiri yang akan disampaikan oleh Cak Nun pada Kenduri Cinta edisi Agustus 2022 ini? Tentu saja, jawabannya baru akan kita ketahui saat gelaran Maiyahan Kenduri Cinta akhir pekan nanti, 13 Agustus 2022.

Bertepatan dengan bulan kemerdekaan, tepat kiranya kita berkumpul dengan segala syukur sembari menyelami nasionalisme yang selama ini menyelimuti dada kebersamaan kita sebagai bangsa. Coba kita telisik dalam diri semangat kebangsaan itu, apakah sudah mendarah daging hingga meresap ke sumsum tulang atau sekedarnya pernak-pernik atribut kostum? Sampai jumpa di Plaza Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Merdeka!!!