CakNun.com

Bangsa Brahmana yang Kehilangan Pijar

WaliRaja RajaWali
RajaWali WaliRaja
Lahirlah kembali Bangsa
Permata Katulistiwa
Bangkitlah bangkit berdiri
Inilah harga diri
Dunia tak bisa membeli

Sudah sering kita mendengar saran agar kita tidak perlu lagi mengingat kejayaan nenek moyang kita. Sejarah memang ditulis oleh mereka yang memenangkan peperangan. Sementara kita yang tidak mengalami masa-masa peperangan itu, hanya ditanggali dongeng-dongeng yang pada akhirnya memang hanya menjadi pemanis perjalanan hidup. Saat kita membangga-banggakan pencapaian nenek moyang, seketika itu pula kita dihardik untuk tidak terlalu mengglorifikasi kejayaan masa lampau itu.

Membaca tulisan terbaru dari Cak Nun yang berjudul Hati Yudhistira dan Mripat Srikandhi, saya menyadari bahwa memang Bangsa ini semakin nyata sudah menjauh dari sejarahnya. Tak perlu kita melihat jauh hingga 1928, 1945, 1965 atau 1998. Cukup menengok sedikit saja sejak tahun 2012.

Setelah lepas dari rezim Orde Baru, kebebasan berpendapat menjadi satu hal yang dibanggakan oleh bangsa Indonesia. Benar adanya, saat Soeharto berkuasa, kita sangat terkekang. Tak bisa bebas mengungkapkan pendapat. Siapa saja berani mengkritik penguasa, nyawa taruhannya. Dan saat rezim Orde Baru lengser, kebebasan berpendapat menjadi satu hal yang lumrah, meskipun pada faktanya bangsa ini tidak benar-benar siap dengan kebebasan berpendapat itu sendiri.

Siapa yang menjamin bahwa pendapat kita tidak bertentangan dengan pendapat orang lain? Siapa yang menjamin bahwa pendapat kita tidak menyakiti perasaan orang lain? Siapa pula yang bisa menjamin bahwa pendapat yang kita ungkapkan bisa diterima oleh semua orang? Dan begitulah faktanya hari ini, kita tidak benar-benar memiliki kebebasan untuk berpendapat. Kita hanya bebas berpendapat saat kita berada di lingkungan orang-orang yang sependapat dengan kita.

Polarisasi yang terjadi hari ini bukan hanya sekadar Sunni-Syi’ah, Sudra-Brahmana, Islam-Non Islam, Utara-Selatan, Timur-Barat. Polarisasi yang semakin tidak bisa dipahami demografinya. Hari ini kawan, besok menjadi lawan, lusa menjadi kawan lagi. Begitu seterusnya siklus yang berlaku. Siapa yang menguntungkan, itulah yang menjadi kawan. Tanpa kita sadari, kita semakin fasih menjadi oportunis.

Tak perlu dibedah lagi melalui sebuah simposium untuk menjelaskan bahwa Bangsa Indonesia ini memang memiliki potensi yang luar biasa. Dalam segala bidang. Toh pada akhirnya, kita tidak mau dan juga tidak mampu untuk menjadi macan yang sesungguhnya. Setiap lima tahun, bangsa ini merayakan hajatan besar untuk secara sadar kembali merasakan penipuan massal. Dan tidak pernah merasa kapok, untuk kembali menyelenggarakan hajatan itu lima tahun setelahnya. Tangguh benar memang kita ini.

Akhir pekan ini, Cak Nun akan mementaskan satu naskah teater yang berjudul WALIRAJA-RAJAWALI, dengan sutradara Pak Jujuk Prabowo melibatkan Teater Perdikan dan Gamelan KiaiKanjeng. Sebuah naskah yang secara khusus disiapkan oleh Cak Nun untuk kembali menjadi piweling buat kita, Jamaah Maiyah, agar semakin kuat kuda-kudanya, semakin tangguh hati dan jiwanya dalam menyambut hajatan besar 2024.

Ada satu dialog dalam pementasan ini yang menyiratkan pesan yang sangat jelas, agar kita jangan sampai salah lagi dalam memilih pemimpin yang tidak tepat. Melalui naskah teater ini, Cak Nun mengajak kita semua sebagai rakyat Indonesia untuk membiasakan berunding, rembug dan berdiskusi untuk merumuskan sendiri dalam memilih pemimpin. Karena memang tidak bisa lagi kita hanya mengandalkan pandangan kaum cerdik pandai di negara ini. Jangan lagi kita mudah kagum kepada kaum intelektual. Sebagai rakyat, kita harus segera melatih kepekaan untuk mendengarkan hati nurani kita sendiri, berdasarkan pengetahuan yang kita miliki sebagai rakyat dan warga negara.

Ketangguhan bangsa Indonesia ini sudah sangat teruji. Dua tahun pandemi Covid-19, kita mampu bertahan hidup. Kesulitan demi kesulitan hidup yang dialami, tidak menjadi alasan untuk menyerah. Sesulit apapun hari-hari yang harus dijalani, semua mampu dilewati dengan berbagai dinamikanya. Seharusnya, fenomena ini semakin mendewasakan kita sebagai sebuah bangsa.

Semoga, setelah dua tahun ini kita mengambil jeda untuk sejenak menyegarkan kembali napas kita, benar-benar menjadi momentum untuk kita kembali berpijak pada kuda-kuda yang tepat. Semoga kita semakin titis dalam meneropong zaman, tidak mudah lagi tertipu dengan sesuatu yang semu. Semoga momen ini menjadi momen yang tepat untuk kita bangkit kembali untuk menjadi Bangsa Brahmana yang sejati, yang memiliki Hati Yudhistira dan memiliki pandangan Mripat Srikandhi.

Bangsa Nusantara
Bangsa Kakilima
Bangsa Nusantara
Rakyatnya gagah perkasa
Tanah air Nusantara
Berkah dari Yang Kuasa
Sorga yang menjelma

Disangga lima kakinya
Gagah perkasa langkahnya
Patah satu masih empat
Hilang dua masih tiga
Hilang tiga tetap dua
Seperti lain-lainnya
Tetap tegak langkahnya
Menempuh jalan sejarah
Bangsa senusantara
Makhluk unggul sluruh semesta
Enam belas Agustus
Sembilan belas empat lima
Besoknya lahir Nusantara

ALLAHUMMA SHALLI ‘ALA MUHAMMAD
ALLAHUMMA SHALLI ‘ALA MUHAMMADIN
WA ‘ALA AALIHI, WA ‘ALA AALIHI
WA SHAHBIHI WA SALLIM

Lainnya

Mafaza dan Diskursus Baru Tentang Timur-Barat Peradaban

Mafaza dan Diskursus Baru Tentang Timur-Barat Peradaban

Setahun lebih hidup di Arnhem, Ibu kota provinsi Gelderland, saksi bisu operasi Market Garden dengan jejak operasi penerjun payung terbesar dalam sejarah Perang Dunia II, mungkin tidak terlalu kuat menyisakan rasa, aroma, nuansa, dan logika Barat yang sempat terekam dalam memori ke-Timur-an saya.