Habib Anis: Mlungsungi, Sebuah Keharusan Sejarah

Di antara kolega yang datang menyaksikan pementasan Drama “Mlungsungi” pada hari pertama, Jumat 25 Maret 2022, di TBY adalah Habib Anis Sholeh Ba’asyin. Atas pementasan drama “Mlungsungi” ini Habib Anis punya testimoni, berikut ini:

Foto: Adin (Dok. Progress)

“Bagi saya sisi menarik dari pagelaran teater “Mlungsungi” adalah keberhasilannya merangkul penggiat kesenian, utamanya teater, lintas generasi lintas kelompok dalam satu kerja sama; sehingga masing-masing bisa saling belajar, saling memberi dan menerima dalam keguyuban silaturrahim. Tentu ini bukan kerja yang mudah, dan sejauh pengetahuan saya belum pernah dilakukan di mana pun.

Bagi saya ini menarik, karena semangat kebersamaan semacam ini pulalah yang juga secara sekaligus merupakan jawaban dari persoalan-persoalan yang diangkat dalam drama “Mlungsungi”.

Saya kira ini pesan penting yang bisa kita petik bila kita sungguh-sungguh mengupayakan perubahan ke arah yang lebih baik. Mlungsungi adalah sebuah keharusan sejarah.

Seperti kita tahu, “Mlungsungi” sendiri mencoba ‘memotret’ persoalan-persoalan aktual yang dihadapi dunia dan (itu juga berarti) Indonesia saat ini dengan cara pandang yang sama sekali berbeda. Ada ‘dunia bawah’, yang diwakili oleh rakyat yang kebingungan. Ada ‘dunia tengah’ yang diwakli oleh elite kekuasaan. Ada ‘dunia atas’ yang diwakili oleh tiga leluhur dan kelompok setan (uniknya, kelompok setan ini lebih dekat dengan ‘dunia tengah’).

Dari sini, masalah-masalah pokok peradaban umumnya, dan masalah Indonesia khususnya dihadirkan. Dengan cara ini, mau tak mau orang dipaksa memandang semua persoalan tersebut sebagai sebuah kesatuan yang berjalin berkelindan sedemikian rupa; sehingga agak sulit diurai bagian per bagian.

Ini semua mengerucut pada hanya satu kemungkinan perubahan: Mlungsungi, melepas semua beban sosial budaya sejarah yang cenderung menyandera kemampuan respons manusia terhadap keadaan yang mengelilinginya. Dan seperti yang sudah saya sebut di depan, salah satu miniaturnya adalah proses keguyuban pendukung pementasan ini, yang menyebut dirinya sebagai Reriungan Teater Yogyakarta.”