CakNun.com

Drama Mlungsungi #34

Bayu Saptama

Namanya Bayu Saptama atau biasa dipanggil Bey Saptomo. Pemeran Perdana Menteri Kolodhadung dalam pementasan MLUNGSUNGI ini lahir di Jakarta 11 Mei 1964. Kedua orangtuanya asli Yogyakarta. Tahun 1969, Mas Bey kecil ikut orangtuanya balik ke Jogja. Pendidikan dasarnya ditempuh di kota pelajar ini: SD Keputran dan SMP Taman Dewasa Kumendaman. Lalu balik lagi ke Jakarta dan sekolah di sana: SMA Perguruan Rakyat. Setelah itu tahun 1982 balik lagi ke Jogja, dan kemudian kuliah di Akademi Peternakan Brahmaputra.

Meski kuliah peternakan, tetapi Mas Bey tinggal di lingkungan yang dekat dengan para mahasiswa seni yang kuliah di ASRI dan ASDRAFI, sehingga pernah juga menjadi “mahasiswa gelap” di dua kampus itu. Pada akhirnya Mas Bey memang memilih berkiprah dalam seni tradisi. Ia aktif dalam kegiatan ketoprak di Keraton Yogyakarta. Ikut dalam grup Ketoprtak Sapta Mandala Yogyakarta, dan kemudian Ketoprak Ringkes Tjap Tjontong Yogyakarta. Dunia ketoprak ini sudah ditekuninya sejak 1984.

Sejak 1986, Mas Bey masuk ke dunia Radio dan Sastra Jawa. Tahun itu, Mas Bey pernah menjadi penyiar dan reporter Radio Geronimo FM, dan beberapa tahun bekerja di Radio Andika dan Radio Wijang Songko Kediri. Di dunia radio ini, kemudian Mas Bey mencurahkan diri dengan menjadi penulis naskah drama radio berbahasa Jawa-Indonesia dan dimulai di Radio RBFM Yogyakarta pada 1989. Mulai 2017, Mas Bey menekuni penulisan Novel berbahasa Jawa. Beberapa naskah dramanya menyabet juara. Di antaranya, karyanya berjudul “Topeng Mentaok” meraih karya terbaik pada lomba Penulisan Novel Jawa DISBUD DIY 2018 dan karyanya berjudul “Gowang” meraih Karya Terbaik pada Lomba Penulisan Naskah Lakon Kethoprak DISBUD DIY 2019. Karya terbarunya yang terbit pada 2021 berjudul Tusuk Kondhe Nyi Demang.

Dalam perjalanan Reriyungan Teater Yogyakarta, Mas Bey merupakan salah satu saksi tahap-tahap terbentuknya gagasan pementasan MLUNGSUNGI. Pasalnya, Ia selalu diajak beranjangsana ke banyak sesepuh dan teman seniman oleh Mas Edo Nurcahyo selaku Pimpinan Produksi pementasan MLUNGSUNGI dan Pak Godor. Sampai akhirnya, Mas Bey diminta untuk menjadi Sekretaris Produksi. Mas Edo sendiri sudah dianggap seperti kakaknya sendiri. Tentang kata Mlungsungi, ada beberapa versi dialek, di antaranya: mblungsungi dan nglungsungi. Tetapi, Mas Bey yang sehari-hari mendedikasikan diri dalam bahasa Jawa punya usul agar diambil yang baku saja yaitu: Mlungsungi.

Tak hanya sebagai Sekretaris Produksi, Mas Bey kemudian diminta oleh Cak Nun untuk menjadi pemain juga: memerankan Perdana Menteri Kolodadhung yang salah satu latar belakangnya adalah berbahasa Batak. Peran antagonis yang melekat pada PM Kolodadhung menjadi challenge tersendiri baginya, dan dengan bekal sering memainkan peran antogonis di ketoprak, Mas Bey mencoba menjawab kepercayaan Cak Nun.

Lainnya

Drama Mlungsungi #13

Drama Mlungsungi #13

Mindset pemrosesan MLUNGSUNGI tidak mengikatkan diri pada prinsip atau teori teater modern maupun tradisional....

Gerakan “Mlungsungi”, Gerakan Reriungan

Gerakan “Mlungsungi”, Gerakan Reriungan

Dua malam berturut-turut (25 & 26 Maret), Reriungan Teater Yogyakarta telah mementaskan naskah “Mlungsungi” karya Emha Ainun Nadjib di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta.