Sengkuni2019, Yogya-Surabaya Pasca Negara
Rombongan pemain dan kru Sengkuni2019 telah bertolak dari Yogyakarta menuju Surabaya pada sore hari tanggal 5 Maret 2019 Masehi.
Rombongan pemain dan kru Sengkuni2019 telah bertolak dari Yogyakarta menuju Surabaya pada sore hari tanggal 5 Maret 2019 Masehi.
“Akhirnya nonton teater lagi. Terakhir Saya nonton sekitar 20 tahun yang lalu loh”, begitu ungkap seorang kawan baik saya dari Semarang saat bareng-bareng duduk ngleseh di selasar menunggu saat pementasan Sengkuni2019 dimulai.
Di antara penonton Sengkuni2019, terdapatlah dua orang bernama Rofiq dan Rian yang menonton pada malam pertama.
Walaupun kisah Sengkuni diangkat dari sejarah masa silam dan dihadirkan kepada kita melalui dunia pewayangan, pentas Sengkuni2019 ini adalah sebuah pembacaan kembali di masa kini, baik dari sisi cara yang baru dalam memahami sejarah Sengkuni seperti tercermin dalam gagasan yang ada pada naskah maupun komponen-komponen kekinian lain yang mendukung kualitas panggung.
Datang dari Pati, ditemani anak-anaknya, Habib Anis menonton Sengkuni2019 pada malam pertama, dan berikut komentarnya seusai menyaksikan Sengkuni2019:
“Saya melihat gambar besar.
Sebagaimana pada hari pertama, pementasan Sengkuni2019 hari kedua di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta berjalan lancar.
Ketika nama Sengkuni disebut, selalu saja yang muncul dalam benak kita: Sengkuni adalah tokoh antagonis dalam perang Baratayudha.
Salah seorang sahabat lama Mbah Nun, Pakde Herman dari Solo, yang juga sudah akrab di mata teman-teman Jamaah Maiyah terutama lewat suara tembang Jawa-nya, menonton pentas Sengkuni2019 pada malam pertama, dan punya komentar berikut ini:
“Ada sesuatu yang berbeda dari pementasan Sengkuni2019 malam ini jika dibandingkan dengan pementasan wayang kulit biasanya, tetapi yang terpenting adalah semoga pementasan malam ini menjadi pembelajaran kita bersama bahwa dalam khasanah wayang kulit Sengkuni adalah sesuatu yang buruk yang bersifat negatif.
Gong ketiga berbunyi. Tak lama, MC mengisi ruang panggung. Sorot lighting fokus.
Mula-mula susur galur berjuta kisah kehilangan arah adalah sejarah yang berdarah.
Rekan kita, Amien Subhan, dari Jakarta menyaksikan pementasan Sengkuni2019 pada malam pertama, dan berikut dia punya komentar setelah selesai menontonnya:
“Tidak mudah untuk menghadirkan Sengkuni di zaman now, apalagi sampai kehadirannya disambut baik oleh masyarakat.