Cahaya Maha Cahaya

Cahaya Maha Cahaya
Penyairpun Bukan

Penyairpun Bukan

Penyairpun bukan
Aku hanya tukang
Mengembarai hutan
Menggergaji kayu

Tempayan Agung

Tempayan Agung

Satu matahari hanya menyinari satu mili, tetapi jauh dari atas tempayan itu memancar cahaya yang lain, yang tak kutahu sumbernya tapi kupercaya pasti berasal dari lampu kecil di atas istanaNya

Aku Berenang di Lautan Darah

Aku Berenang di Lautan Darah

Aku berenang di lautan darah
Yang terbuat dari Tuhan dan sejarah
Gelombang rindu dendam
Suara tangis terlalu panjang

Sekelompok Orang

Sekelompok Orang

Sekelompok orang, lelaki perempuan, tua muda, bahkan beberapa kanak-kanak di antara mereka, duduk di pojok pasar

Kuda Bersayap

Kuda Bersayap

Kudaku bersayap terbang ke tuhan
Sayap kanannya cinta
Yang kiri kepahitan

Sakitku Ringkik Kuda

Sakitku Ringkik Kuda

Sakitku ringkik kuda, kudaku merajuk meronta, kudaku mengangkat kaki sematahari, kudaku sakit meringkik, meringkik-ringkik

Cahaya Maha Cahaya

Cahaya Maha Cahaya

Hari pertama cahaya maha cahaya
Cahaya maha cahaya tak bisa dikisahkan
Bisa, mungkin. Tapi kita ini dungu
Ilmu kita tingkat serdadu

Tidur Hanya Bisa PadaMu

Tidur Hanya Bisa PadaMu

Tidur hanya bisa padaMu
Ketika larut badan tak mengada
Sudah khatam segala tangis rindu
Tinggal jiwa kusut dan sebuah lagu

Kekasih, Dengar, Dengar

Kekasih, Dengar, Dengar

Kekasih, beribu tahun meringkus ruang, mengembarai waktu, menguntiti ilmu, bersujud gemetar, memanggang diri di sepenuh rahasia

Tiga Kendaraan Cinta

Tiga Kendaraan Cinta

Pengembara yang telah mengarungi berpuluh-puluh abad rahasia kehidupan, berkisah kepadaku bahwa bagi perjalanan manusia disediakan tiga kendaraan cinta.

Dalam

Dalam

segala tak enak dikerjakan
kecuali hening sembahyang

diri sedang tak dunia
diri sedang tak bercanda

Exit mobile version