Totalitas Jemek Supardi

Menjelang pukul 19.30 WIB, antrean penonton masih panjang di depan loket penukaran tiket. Sementara, yang sudah tukar tiket pun langsung bergegas ke atas untuk memasuki gedung Concert Hall TBY dan segera mengambil tempat duduk sesuai nomor yang tertera di tiket.

Ada pula seorang penonton yang tampak gupuh karena membawa koper, hendak ditaruh mana, apakah boleh dibawa masuk gedung. Rupanya dia datang dari Bekasi dan sekalian mau pergi ke Magelang. Ia seret kopernya bak pemandangan di Bandara. Untunglah teman-teman panitia telah mengantipasi sehingga koper tersebut bisa dititipkan, dan dia dapat menikmati Sengkuni2019 dengan nyaman dan enak.

Sementara itu, para pemain di belakang panggung sudah siap sedari usai Maghrib. Mbah Nun juga telah datang dan langsung menemani para pemain, memberikan support penuh, dan dari suasana di balik panggung ini, dari pancaran wajah para pemain, sutradara, serta tim lain benar-benar terasa bagaimana totalitas mereka dalam mempersiapkan pementasan Sengkuni2019.

Saat para pemain telah berdiri melingkar di belakang panggung untuk menyatukan energi dan memanjatkan doa bagi kelancaran pentas malam ini, yang merupakan puncak pertama dari rangkaian panjang latihan demi latihan sejak bulan Oktober 2018, Pak Jemek Supardi yang memerankan tokoh Sengkanu tampak dari tadi duduk istirahat. Saat itu pula Ia menunjukkan kepada rekan-rekan Teater Perdikan akan totalitasnya dalam berteater dengan mengatakan kepada Mbah Nun dan teman-teman lain, “Sebagaimana Pak Hadri yang meninggal ketika latihan, kalau ini adalah malam terakhir saya, saya ikhlas dan bangga karena dipanggil Tuhan di panggung teater.”