Teater (dari dan) untuk Berkecerdasan Kolektif

Seiring berlangsungnya ragam aktivitas di lingkaran Kadipiro, waktu berjalan menuju hari H rencana pementasan #Sengkuni2019, meski masih dua bulanan dan sepanjang rentang waktu itu, kita akan ikut belajar kepada proses persiapan keluarga besar Teater Perdikan ini.

Ini menarik, karena “kelompok” teater yang akan pentas sangat berpikir perlunya suatu jalan atau kondisi di mana antara kelompok teater itu dengan calon penontonnya bisa bersama-sama bersiap. Tidak ujug-ujug para penonton, ketika berada di dalam gedung, baru tahu perihal apa yang ditampilkan, mulai dari tema, konteks, dan lain-lainnya. Semuanya berjalan bareng. Itulah sebabnya liputan berkala #Sengkuni2019 akan hadir di sini secara eksklusif. Suatu pemuliaan tersendiri kepada calon penonton, bukan?

Positioning yang demikian ini agaknya lahir dari suatu kesadaran yang telah tertanam jauh dari miliu yang melahirkan Teater Perdikan ini. Dulu-dulunya, teater-teater di Indonesia mengiblat kepada teater modern Yunani. Dari konsep pemanggungan, artistik, dan komponen lainnya. Tak terkecuali naskah-naskah yang dimainkan, mengadopsi dan mengadaptasi naskah teater Yunani. Teater Dinasti, satu komunitas teater di Yogyakarta yang menjadi mata rantai latar belakang “genealogis kultural” Teater Perdikan ini, tidak mau mengikuti sepenuhnya pola modern itu.

Terutama soal naskah. Masa naskah harus dari luar, apa tak ada ide yang lahir dari realitas di kita sendiri? Lalu, Teater Dinasti mencoba memulai mengolah problem-problem sosial politik di sini, dan di sinilah sebuah tradisi baru dibangun. Tradisi yang coba mengambil dari diri dan kanan kiri hidup mereka sendiri, bukan sesuatu nun jauh di sana. Yang demikian ini dipengaruhi oleh pergaulan sehari-hari. Orang-orang yang terlibat dalam teater itu adalah orang-orang yang berelasi dengan atau di dalam kehidupan sehari-hari itu, di warung, di pasar tradisonal, di pos kampling, lapangan, gang-gang, dengan sesiapa saja. Jadi kita tahu pada akhirnya, ini soal bagaimana memposisikan diri di hadapan gejala industrial, kemodernan, dan kapitalisme.

Selanjutnya, mereka para kerator kreatif Teater Dinasti mencari pola-pola pemanggungan yang unik dan berangkat dari khasanah lokal. Lokal ini salah satu maksudnya adalah dalam urusan pengucapan, dialek, gaya dan pola bahasa, juga simbol-simbol maupun properti dalam pemanggungan. Apa perlunya? Coba kita simak apa-apa yang terjadi di ranah luar, yang terjadi dengan masuk dan massifnya industri, yang dipilihnya adalah panggung yang warna-warni, gemerlap, gerak lagu yang riang gembira dan dengan muatan-muatan komunikasi yang ringan. Nah ini juga pernah mengena dan mempengaruhi sebagian besar panggung teater kita.

Tetapi, teater Dinasti menempuh yang berbeda dengan itu, mengajak audiens untuk kontemplasi, berpikir kritis, dan menggapai nilai-nilai yang lebih tinggi. Dilihat dalam cara diskursif, apa yang dilakukan oleh Dinasti adalah contoh bagaimana modernitas “ditaklukkan” melalui karya atau produki yang transformatif tanpa meninggalkan nuansa tradisi. Catat pula, bahwa pilihan ini lalu melahirkan satu sisi kreatif lain yaitu terbentuknya konsep kenduren, kenduren gagasan, tak ada pusat kuasa pengetahuan, dan dari sinilah lahir penyutradaraan kolektif, penyutradaraan bersama. Ini juga yang berlangsung dalam Pentas Pak Kanjeng sekitar 25 tahun silam. Demikian pula dengan penggarapan #Sengkuni2019 ini.

Kita kemudian bisa membaca bahwa menghindarkan satu kuasa penyutradraan tadi adalah sebentuk cara berpikir yang postmodern. Jika diigabung seluruhnya, pendekatan, paradigma, dan pilihan-pilihan Teater Perdikan ini menampakkan satu manajemen hidup bahwa tradisi, modernitas, dan posmodernitas harus dikhalifahi, diolah. Tidak boleh kentir dan mbegeg di satu arus saja. Manusia di atas itu gelombang, tidak keseret, atau tunduk.

Konsep penyutradaraan bersama dan kenduren tadi itu juga menemukan relevansinya ternyata karena jika diamati pada berbagai gejala saat ini ada kecenderunga ke depan orang akan lebih suka kepada organisasi yang tidak structured banget, tapi mencari yang lebih longgar, yang bikin orang tidak hilang kamanungsan-nya, tidak hilang bebrayannya, dan dalam teater orang tidak tenggelam dalam kuasa satu orang sutradara. Hidup perlu berbagi.

Paradigma yang berikutnya terbangun ialah teater itu mengabdi kepada komunikasi. Artinya, dipertimbangkan betul apakah penonton bisa memahami gagasan dalam naskah yang dipentaskan ataukah tidak, bukan sekadar yang terpenting orang-orang teater ini bisa mengekspresikan diri saja. Tidak. Audiens dan penonton diposisikan sebagai partner dialektis. Sebagaimana pada pementasan sebelum-sebelumnya, Teater Perdikan dengan #Sengkuni2019 juga menempuh paradigma yang sama.

Wal hasil, sejak dari sejarah, proses, dan hingga metode-metode yang ditempuh, semuanya menjadi proses pembelajaran bagi setiap yang terlibat, belajar bersama, belajar kemanusiaan pada manusia (satu sama lain), tak ada yang lebih unggul, tak ada lebih merasa aku ini lebih takwa, saleh, atau alim, lebih duluan berhijrah… lhooo… tak ada yang merasa lebih pintar dan mengerti, semua menyumbangkan sesuatu dan berbagi. Mari cerdas bersama. Bahagia juga bersama.