Sengkuni2019, Yogya-Surabaya Pasca Negara

Rombongan pemain dan kru Sengkuni2019 telah bertolak dari Yogyakarta menuju Surabaya pada sore hari tanggal 5 Maret 2019 Masehi. Segala persiapan teknis, fisik, mental, dan psikis telah didayaupayakan. Selebihnya adalah doa kiranya pembaca yang budiman berkenan menyelipkan doa pada para pemain dan seluruh yang terlibat dalam pentas kebahagiaan ini. Terlebih, kepada penulis naskah, Mbah Nun yang kita cintai.

Pada saat pentas di Yogya telah rampung, saya punya riset kecil-kecilan, mewancarai tipis-tipis beberapa kawan yang menyaksikan pementasan ini. Diam-diam saya membagi antara penikmat teater yang berdasarkan teori akademis, penikmat yang punya jam terbang tontonan hingga yang penikmat lepas.

“Berat.” Seorang kawan menggelengkan kepala perlahan, tampak seperti menahan beban peradaban di pundaknya. Saya tidak bisa simpulkan ini adalah reaksi dari orang yang suka cita setelah menyaksikan pementasan. Di tengah kepulan asap kopi dan rokok, kawan saya berseloroh, “Pementasan ini menunjukkan pada kita bahwa kita dikepung persoalan. Tapi setelah itu semuanya, pentas selesai begitu saja. Lantas apa? Tapi, saya sebagai penonton juga tahu diri, saya tidak berhak menuntut untuk diberikan solusi”. Dan kawan saya si perenung ini makin tenggelam dalam renungannya.

Dialog Katib pada awal adegan memang telah membuat pementasan ini merdeka dari segala tuntutan. Walau di satu sisi, tetap ada tanggung jawab kualitas yang dijaga oleh para pemain mengingat penonton telah meluangkan waktu dan biayanya ke gedung pertunjukan. Sengkuni2019, rasanya tidak menawarkan dan menjanjikan akan bisa atau mampu memberikan solusi instan pada persoalan sosial.

“Temui cucuku, Jagi Basudewo alias Begawan Sodoguru di negeri sebelah tenggara Afghanistan,” beberapa kawan tiba-tiba jadi rajin menggali segala hal tentang Afghanistan. Sebelah, kan berarti bukan di Afghanistannya. Saya jadi teringat film The Good, The Bad and The Ugly. Masterpiece spaghetti western besutan Sergio Leone. Dalam kisah tersebut, para cowboy mati-matian memperebutkan sebuah harta yang konon tertimbun di sebuah makam. Ternyata harta tersebut ada di makam sebelahnya. Maaf spoiler tapi itu film sejuta umat sudah lama juga.

Seorang kawan lain, yang sering mengelana di bahasan-bahasan terkini dalam alam YouTube langsung sangat yakin bahwa yang dimaksud dialog tersebut adalah Sadhguru, guru spiritual yang sedang hits di pemuda-pemuda India. Kawan saya ini sudah pernah mendengar versi Sengkuni seperti yang diutarakan dalam pementasan, melalui babaran Sadhguru di YouTube. Bahasan Shakuni yang menderita dan harus memakan bapak-ibu serta puluhan saudaranya, mendulang sekitar lima ratusan ribu viewers di YouTube.

Dan memang urusannya bukanlah tanding anti-mainstream belaka. Pada dunia sekarang, di mana manusia punya banyak pilihan aliran (stream), anti mainstream hanya ilusi. Kita hanya merasa anti-mainstream kalau kita tidak melihat stream lain. Lebih urgen adalah bersikap upstream atau above the stream kalau boleh bikin-bikin istilah mengada-ada, intinya kita melihat dengan jernih segala alir dan memutuskan alir yang paling berguna bagi dunia saat ini. Mungkin begitu. Tapi Sengkuni2019 bikin kangen juga. Saya tidak sangka bahwa Mbak Yayas yang bagian ticketing pada pentas di Yogya, tiba-tiba memposting kerinduannya pada Sengkuni209 di Yogya Januari lalu.

Baru sekitar lebih kurang satu abad yang lalu, tren nasionalisme melanda. Narasi nasionalisme sebagai anti-tesis dari kolonialisme yang menyerap sumber daya alam dan manusia di bangsa lain menjadi arus utama saat itu. Pada masanya, menjadi arus utama sangat mudah. Bisa dibilang saat itu pilihan di depan cukup terbatas. Satu-satunya narasi alternatif selain nasionalisme adalah komunisme internasionalis, tapi usianya tidak panjang. Dan beruntunglah. Karena yang usianya panjang seperti nasionalisme sekarang ini mulai membuka boroknya. Lebih parahnya lagi, ternyata nasionalisme kewalahan menghadapi tantangan masyarakat pasca-negara dan makin tidak berbeda dengan kolonialisme yang dulu dilawannya. Terlalu banyak persoalan yang tidak bisa ditangani dengan semangat kebangsaan belaka.

Manusia mulai berpikir sebagai satu ras. Ras manusia. Tapi itu punya konsekuensi logis, satu ras manusia dengan satu bumi milik bersama memang indah dibayangkan tapi di satu sisi, kerakusan dan ketamakan para korporat dengan tentakel kekuasaannya di berbagai bidang tidak bisa dikatakan telah rampung. Masuk pada era dunia milik bersama dengan relasi kuasa yang timpang bisa jadi malah mengulang penjajahan. Zaman mungkin sedang bingung tapi seperti kata Pak Kandeg, “Apa ada zaman yang tidak berisi hal semacam itu.” Adakah zaman yang tidak membingungkan?

Dulu pilihan pasca kolonialisme adalah nasionalisme, kalaupun ada alternatif selain nasionalisme bisa dibilang dia tidak muncul di permukaan arus. Risikonya, dia tidak tercatat oleh sejarah. Dan tidak tercatat sejarah berarti dikenang sebagai ketiadaaan. Sejarah berdasarkan data. Selalu begitu. Sekarang, pasca negara, pasca nasionalisme, lantas apa? Di depan pilihannya sangat banyak sehingga membingungkan bak cabang labirin peradaban. Beberapa orang saking bingungnya, ingin kembali ke masa lampau. Seperti Hitler dengan Uber Alles, Soekarno dengan glorifikasi Mojopahit, Sekarang Trump dengan make America great again atau banyak lagi.

Otak manusia punya kecenderungan recall selain spekulasi. Persoalan dalam recall memory adalah dia juga berkaitan dengan hormon yang sedang kita produksi di saat ini. Ketika kita mengenang sesuatu pada saat kondisi biologis kita baik, kenangan itu bisa dikenang baik dan bisa malah sebaliknya. Persis begitu juga data sejarah. Data sejarah diproduksi pada masa yang punya semangat zaman yang berbeda. Berapa banyak catatan tentang Wali Songo yang produksi datanya ada pada masa yang bersamaan dengan masa hidup mereka?

Huginn dan Muninn, dua gagak yang sealalu menyertai Odin bapak para dewa mitologi Nordik. Hugin dan Munnin artinya ingatan dan masa lalu, dua yang tidak selalu sejalan dan seirama. Dua ini mirip tapi selalu ada di sisi berbeda, faktanya masa lalu sudah berlalu dan kita tidak tahu apa-apa lagi tentangnya. Melainkan hanya sedikit.

Sengkuni2019 seperti mengingatkan, bahwa waktu belajar kita hampir habis. Semua narasi besar sedang mengalami pengeroposan dan keruntuhan, baik perlahan maupun ambruk seketika. UGM dibakar oleh sekam Sang Agni, ormas-ormas mulai panik melihat dirinya tak relevan dengan zaman sehingga merasa penting untuk dempet kekuasaan, kekuasaan negara yang juga sedang sama rapuhnya. Kelas-kelas keramat dalam struktur sosial makin menguning dan lapuk kitabnya, seiring manusia makin rasional. Kaum muda menemukan lingkaran-lingkaran yang mereka rasa lebih relevan dan faktual dengan hidup mereka. Ngalengka-Ngalengka sedang dibakar oleh kethek putih kecil, Anoman. Pak Jujuk Prabowo, sutradara pementasan Sengkuni2019 ini, adalah pemeran Anoman dalan pentas Mencari Buah Simalakama dulu. Sekarang Sengkuni2019.

Bus sedang melaju di jalan tol menuju timur. Ke Surabaya, dan hujan menemani, lampu dalam bis dipadamkan, udara dingin saja, kilat mengerjap-ngerjap di langit. Pak Mamad menyupiri dikerneti oleh Mas Imam, mereka sudah akrab dengan manajemen KiaiKanjeng, Mas Donny bahkan titip salam pada mereka karena dia dan tim musik (Pak Jijit, Pak Joko SP dan Mas Widi) masih ada acara lain. Teman-teman pemain di dalam bus ini, mungkin sudah tidur. Saya punya waktu membikin sedikit catatan.

Sengkuni2019 sedang berjalan ke timur, selanjutnya entah. Sengkuni2019 memang tidak menjanjikan solusi apa-apa terhadap apapun, dia juga tidak mewarisi peradaban resep di mana segala sesuatu seolah dianggap ada ahli yang bisa memberi formula praktisnya. Sekarang hampir tak ada bedanya agama dengan resep masuk surga secara instan, plus makrifat kalau anda penyuka sufi-sufian.

Sengkuni2019 juga tak berniat menang lomba anti-mainstream, toh anti-mainstream sudah sangat mainstream juga. “Mungkin karena di Indraprasta jalannya sudah tol dan di Astinapura, masih til!” begitu dialog Kizano. Bus Sengkuni2019 ini sedang di jalan til, eh bukan, jalan tol. Pembangunan sedang digalakkan, tidak bisa dipungkiri terlanjurnya sebagai negara modern pembangunan fisik menjadi penting, bahkan Maha Penting.

Terlalu berat untuk seorang diri berpikir akan ke mana peradaban manusia berjalan. Budaya sudah sulit lahir karena manusia tidak lagi merespons alam. Budaya dibekukan dan dijadikan identitas oleh makhluk bernama negara. Dosa kolonial adalah eksploitasi dan dosa nasionalisme adalah pembakuan demi pembakuan.

Kita akan ke mana? Entah. Dan tulisan ini pun sudah kehilangan jalur logic-nya. Dia dibuat hanya dengan semangat “mumpung sempat” apakah dia memberi sesuatu atau tidak pada yang membaca? Semoga, tapi kalau tidak, mau gimana lagi? Apakah menghibur? Apakah wacananya sudah sering didengar pada bahasan Harari sampai Sapolsky, mungkin? Entahlah dan entahlah.

Yang pasti, bus yang dikepung kegelapan, hujan dan malam berangin ini menuju ke timur. Menuju Balai Pemuda, pentas Sengkuni2019 pada 7 dan 8 Maret 2019 Masehi.

Selebihnya dunia akan ke mana? Kita tidak tahu, kita sudah tersesat makin dalam. Kita hanya bisa meyakinkan diri kita bahwa kita masih punya iman. Karena selain itu apalagi lagi yang kita punya?