Sengkuni2019 “Film” Bagus yang Sulit Didapat

Sebagaimana pada hari pertama, pementasan Sengkuni2019 hari kedua di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta berjalan lancar. Jumlah penonton sama seperti malam sebelumnya. Hanya saja para penonton di hari kedua ini rata-rata sudah menukar tiket lebih awal, sehingga tidak perlu terjadi antrean panjang menjelang acara dimulai, dan benar saja, para penonton yang datang usai Maghrib kebanyakan sudah langsung segera naik ke atas tanpa mampir ke meja penukaran tiket, yang artinya tinggal tahap masuk gedung acara saja.

Tetapi beda dengan hari sebelumnya, siang hari menjelang sore, hujan lebat mengguyur kota Jogja, menyebabkan beberapa pemain yang sore itu harus sudah tiba di lokasi perlu ngiyup dulu agar tidak basah kuyup kehujanan. Suasana hujan itu bahkan bisa kita saksikan dari seseorang yang mengenakan jas hujan sedang menukar tiket, dan ini tak apa, lebih bagus daripada mepet-mepet waktu dimulainya acara.

Kemudian, kembali sama seperti hari sebelumnya, penonton pada hari kedua ini juga berasal dari berbagai daerah: Sukabumi, Blora, Bojonegoro, Lamongan, Bandung, Blitar, Jakarta, Surabaya, Klaten, Pacitan, Magelang, Purwodadi, Cilacap, Salatiga, Bekasi, dll. Data sekilas asal kota penonton ini menampilkan satu sisi profil antuasisme yang layak kita catat tersendiri dan kita apresiasi.

Di antara mereka, terdapat sepasang suami istri yang mengajak serta anaknya, sore itu tiba di lokasi. Rupanya datang dari Bekasi. Mereka sekeluarga ini suka menonton film (sejarah, dokumenter, dan action), dan ini mereka lakukan sekaligus sebagai metode pembelajaran bagi anaknya. Berdasarkan pengalamannya berakrab ria dengan film, mereka menyimpulkan tidak selalu mudah mencari film yang bagus. Dari situ, mereka berpendapat dengan menganalogikan Sengkuni2019 ini seperti film bagus yang sulit didapat. Karenanya, begitu ada, mereka tak ingin menyia-nyiakan kesempatan baik dan langka ini.

Mirip dengan yang dikatakan keluarga di atas, seorang anak muda dari Jakarta bercerita dia hobi nonton film dan teater. Dia bilang, sulit mencari pentas teater yang “sesuai”. Dengan yang diharapkan dan dicarinya tentunya. Ia berpendapat Sengkuni2019 ini adalah pentas teater yang “sesuai” itu.

Menjelang pukul 18.45 WIB gelombang penonton makin banyak volumenya mulai berdatangan dan masuk lewat dua arah yang tersedia. Sama seperti malam sebelumnya, mereka semua adalah penonton-penonton yang baik dan mengindahkan tata tertib yang telah disusun panitia. Sembari menunggu masuk, mereka bisa membeli merchandise kaos Sengkuni2019 atau beli minum dan snack di stan Syini Kopi (tapi makan minum di luar gedung).

Ketika acara sudah berlangsung, dari dalam gedung, dari jajaran para penonton, kita juga mendapati ekspresi-ekspresi antusiasme terhadap pentas Sengkuni2019 ini. Ada penonton yang cara nontonnya dengan mendekatkan kepalanya ke kursi depannya, seakan ingin lebih dekat dan tak ingin terhalang pandangannya, padahal dia sendiri sudah duduk di area depan.

Tetapi, atmosfer utama dari penonton yang menyaksikan Sengkuni2019 yang berdurasi hampir tiga jam adalah semuanya hikmat dalam menyimak berjalannya pentas Sengkuni2019. Tak ada berisik dan suara ramai. Suara tawa gerr hanya muncul pada saatnya, dan sesudah kembali tenang, karena kembali perhatian tertuju kepada narasi dan adegan yang berlangsung, demikian hingga puncak, dan akhir acara. Salut pula untuk mereka, bahwa usai acara, mereka tak beranjak meninggalkan gedung, dan selanjutnya mengikuti sesi diskusi bersama Cak Nun sebagai penulis naskah dan para pemain serta sutradara.