Sengkuni2019 Bongkar Imajinasi dan Logika

Ketika nama Sengkuni disebut, selalu saja yang muncul dalam benak kita: Sengkuni adalah tokoh antagonis dalam perang Baratayudha. Sejauh-jauh sejarah ilmu pengetahuan kita tentang Sengkuni pun berkata sama: Sengkuni sosok sangat jahat, yang memprovokasi terjadinya peperangan antara Pandawa dan Kurawa. Hal yang sama, dalam bingkai perpolitikan di Indonesia, ketika kita melihat ada siapa yang berbuat curang, jahat, hasad, iri dan dengki, dengan mudah kita kemudian menyebutnya sebagai Sengkuni.

Coba saja kita daftari nama-nama tokoh politik di Indonesia hari ini, dengan mudah kita kemudian juga memberi label mana saja di antara mereka yang menurut kita pantas kita sebut Sengkuni. Namun pertanyaannya sebenarnya, apakah kita benar-benar memiliki ilmu sejarah untuk mengetahui kehidupan Sengkuni? Apakah sebelumnya kita juga mengetahui bahwa Sengkuni melakukan semua hal termasuk memprovokasi Perang Baratayudha sebenarnya dalam rangka membela martabat keluarganya?

Pementasan Sengkuni2019 membuka cara pandang serta sudut pandang yang baru terhadap siapa sosok Sengkuni. Pada adegan-adegan awal saja, penonton sudah dibuat terhenyak, ketika tokoh bernama Narator seolah-olah sedang memerankan tokoh Sengkuni yang hendak memakan daging saudaranya sendiri.

Lho, bagaimana ini? Kok memakan daging saudaranya sendiri? Di sinilah awal mula Sengkuni2019 membuka pemahaman baru kita yang selama ini salah kaprah tentang Sengkuni. Sejahat-jahatnya manusia, sebengis-bengisnya manusia, tidak akan ada yang sampai tega hati memakan daging saudaranya sendiri, bahkan daging Bapak dan Ibunya sendiri, yang ia mutilasi sendiri, sekaligus juga mereguk darah segar dari tubuh-tubuh saudaranya dan bapak ibunya sendiri.

Adalah Sengkuni yang meyakini bahwa Gandari, kakak perempuannya harus menikah dengan Pandu. Pandu adalah idola Sengkuni. Bagi Sengkuni, Pandu adalah sosok manusia yang unggul kepribadiannya. Dan menurut perhitungan Sengkuni, berdasarkan bibit, bebet, dan bobotnya, Pandu adalah orang yang tepat untuk menikahi Gandari.

Namun Raja Gandhara saat itu menerima lamaran Prabu Drestarasta untuk menikahi Gandari. Singkat cerita, sebelum menikah dengan Destrarasta, Gandari dinikahkan dengan seekor kambing. Dan ketika pada akhirnya Prabu Drestarasta mengetahui bahwa Gandari adalah janda dari seekor kambing, ia murka. Kerajaan Gandhara diserbu, 100 bersaudara keluarga kerajaan dipenjara, dan hanya diberi jatah satu butir nasi setiap hari bagi masing-masing anggota keluarga.

Dari sinilah penderitaan Sengkuni bermula. Yang diketahui oleh banyak orang, Sengkuni adalah salah satu penghasut terjadinya perang Baratayudha yang melibatkan Pandawa dan Kurawa. Namun sebenarnya ada sejarah panjang dari perjalanan Sengkuni yang kemudian menyebabkan ia berhak untuk melakukan itu semua.

Tapi sebenarnya tidak penting juga siapa itu Sengkuni. Dalam pementasan Sengkuni2019 ini pesan yang hendak disampaikan bukan tentang siapa itu Sengkuni dan bagaimana latar belakang Sengkuni. Melalui naskah Sengkuni2019, Cak Nun hendak menyampaikan pesan kepada penguasa, bahwa kesemrawutan pengelolaan negara di Indonesia ini harus segera dihentikan.

Sengkuni melakukan kejahatan atas dasar alasan yang sangat kuat. Dia harus menanggung penderitaan yang sedemikian pedih, yang tidak ada satu pun manusia dalam sejarah kehidupan manapun yang bisa dibandingkan dengan penderitaan yang dialami Sengkuni. Dendam yang dibawa Sengkuni adalah dalam rangka membela martabat keluarga yang telah diperhinakan oleh Prabu Drestarastra. Sengkuni memikul tangung jawab moral untuk mengembalikan martabat keluarganya.

Lantas, para penguasa di negeri ini yang semena-mena menguasai aset-aset yang seharusnya dikelola untuk kesejahteraan rakyat, justru mereka sibuk menumpuk harta, menindas, memanipulasi, dan menghina nilai-nilai kemanusiaan rakyat mereka sendiri.

Fragmen di mana Pak Kandheg sangat berat hatinya mendapati anaknya, Mas Bagus, yang sangat percaya diri mencalonkan diri menjadi seorang pejabat tinggi adalah anomali dengan apa yang kita lihat sehari-hari di Indonesia. Banyak orang kepincut ingin menjadi pejabat, anggota dewan di parlemen, bahkan menjilat penguasa untuk sekadar menjadi salah satu anggota dewan direksi atau komisaris salah satu perusahaan milik BUMN.

Sudah terlalu banyak orang berteriak bahwa dengan cara masuk ke dalam pemerintahan ia akan mengusahakan perubahan bagi jalannya pengelolaan negara. Yang terjadi kemudian justru mereka sengaja tidak memperbaiki fondasi kehidupan bangsa ini, namun malahan membiarkan rapuhnya fondasi itu, karena hanya dengan membiarkan kebobrokan itu mereka bisa terus menikmati kekuasaan.

“Kalian tidak menderita, sehingga kalian mudah untuk menjadi pemimpin”
“Kalian tidak miskin, sehingga kalian bisa membayar untuk menjadi penguasa”
“Kalian bisa sekolah tinggi, sehingga kalian bisa menjadi politisi”

“Saya jahat karena ditindas”
“Saya jahat karena menderita”

“Sedangkan kalian jahat, satu-satunya alasan adalah karena memang jiwa kalian bodoh, kepribadian kalian hina, mental kalian rendah, moral kalian busuk. Karena mental kalian memang rendah. Kalian merusak tanah air bangsa kalian. Kalian tebangi pohon kekayaan bangsa kalian untuk kalian jual kepada para penjajah.”

Gugatan demi gugatan Sengkuni dalam pementasan Sengkuni2019 ini membuka wacana baru tentang siapa Sengkuni. Tidak salah adanya kita memiliki pemahaman bahwa Sengkuni adalah sosok antagonis dalam kehidupan. Namun, itu tidak lantas berarti kita berhak mengaku diri sebagai Pandawa sebagaimana kita dengan mudah menuduh-nuduh orang lain sebagai Sengkuni. Sebab, dalam diri kita masing-masing juga terdapat potensi untuk menjadi Sengkuni.

Seperti testimoni yang diungkapkan oleh Syeikh Nursamad Kamba, banyak orang hari ini melakukan kejahatan namun tidak mau jujur mengakui bahwa kejahatan yang ia lakukan adalah atas dasar hasrat-hasrat yang terpendam dalam diri mereka sendiri. Maka jangan-jangan kita menuduh orang lain sebagai Sengkuni karena memang kita tidak ingin jati diri Sengkuni dalam diri kita diketahui oleh orang lain?

Atau juga jangan-jangan kita salah sangka terhadap mereka yang berada dalam gerbong Pandawa. Seperti digugat juga oleh Sengkuni tentang sosok Kresna dalam pementasan Sengkuni2019 ini. Kresna adalah sosok yang menghasut Arjuna untuk melepaskan busur panah sehingga pecahlah peperangan melawan Kurawa. Ketika Bambang Ekalaya harus berduel melawan Arjuna, Kresna pula yang menghasut Arjuna untuk membunuh Bambang Ekalaya, bahkan Kresna sendiri yang menyusun siasat pembunuhan Bambang Ekalaya itu.

Jadi, kalau memang mau jadi Sengkuni, silakan ukur dulu perjalanan hidupmu. Apakah memang penderitaan hidupmu seperti yang dialami oleh Sengkuni?