Pentas Hari Pertama Sengkuni2019 Surabaya

Dengan khidmat rasa syukur terpanjat kepada Sang Maha Sutradara Kehidupan, akhirnya pementasan Sengkuni2019 hari pertama, Kamis (7/3), dapat dilaksanakan selaras dengan rencana. Antrean penonton yang melakukan proses screening tiket baik Suro, Boyo, maupun VVIP mengalami peningkatan semenjak masuk waktu Maghrib. Space desk yang digunakan untuk melakukan penukaran tiket bersistem barcode tersebut menjadi salah satu bagian yang menggambarkan besarnya animo penonton pada hari pertama pementasan.

Hingga setengah jam sebelum dimulainya pementasan, antrean masih belum bisa dikatakan lengang. Sembari menunggu pementasan dimulai, para penonton menikmati proses pengabadian diri dengan properti photobooth Sengkuni2019. Di samping itu, mereka juga mengerubungi stan merchandise yang menjual barang-barang bertemakan Sengkuni2019 yang disediakan panitia di sisi timur eskalator pintu masuk gedung Balai Budaya, Surabaya.

Di dalam gedung Balai Budaya, penonton tak mengalami kegamangan dalam mencari kursi yang tertera pada tiket. Sebab, panitia sangat sigap mengantarkan para penonton tersebut pada kursinya masing-masing sesuai dengan permintaan saat pembelian tiket. Hingga beberapa menit sebelum Sengkuni2019 dipentaskan, penonton baik yang bertiket Suro, Boyo, maupun VVIP telah memenuhi ruangan gedung pementasan. Tak terkecuali para tamu undangan yang turut memenuhi barisan kursi terdepan.

Pukul 20.06 WIB, pentas yang dinanti-nanti menginjak pembukaan. Sorot lampu, backsound, mata, pikiran, dan hati penonton terpusat pada panggung. Gedung yang dominan berwarna merah juga menambahkan energi lain pada pementasan hari pertama. Seorang aktor yang berperan sebagai Bagus juga bertugas mengawali pementasan dengan menyapa penonton dan menyampaikan pedoman-pedoman yang selayaknya dipenuhi penonton selama prosesi pementasan Sengkuni2019 berlangsung.

Pementasan yang memakan waktu selama dua setengah jam ini mampu membawa penonton pada titik khusyuk dalam setiap fragmen demi fragmen yang diperankan. Naskah Sengkuni2019 yang digarap oleh Mbah Nun ini memang menghadirkan keseriusan dan kejenakaan. Sehingga, beberapa kali terdengar tawa penonton pecah memenuhi ruangan, termasuk ketika keluar sebuah celetukan-celetukan unik dan sesekali khas Suroboyoan. Di samping itu, pada saat yang sama juga sekaligus menggebrak tatanan yang sudah ada. Ini terbukti dari kandungan naskahnya yang out of the box. Sengkuni2019 adalah lorong peluang untuk bercermin baik bagi para penonton, tamu undangan, panitia, pemain, kru, karyawan gedung yang bertugas, hingga petugas keamanan.

Mbah Nun yang rawuh di hari pertama pementasan mengkulminasikan malam itu untuk berdiskusi, tanya jawab, dan melakukan pemantulan-pemantulan terkait dengan unsur-unsur Sengkuni2019. Ditemani Pak Eko ‘pemeran Katib’, Pak Joko Kamto ‘pemeran Sengkuni dan narator Sengkuni2019’, dan Pak Jujuk selaku sutradara serta Mas Rahmad yang memoderatori, Mbah Nun memberikan respons atas pertanyaan-pertanyaan yang dituangkan para penonton. Mbah Nun merespons jamaah asal Surabaya yang bertanya ihwal sisi baik dari Sengkuni. Beliau memungkinkan adanya tiga jawaban atas timbulnya pertanyaan tersebut, yaitu (1) Naskah yang tidak sanggup menjelaskan ke publik, (2) kegagalan para aktor Sengkuni2019 dalam menyampaikan pesan, dan (3) kegagalan si penanya itu sendiri dalam menangkap pesan yang disampaikan dalam Sengkuni2019.

Mulane ojok nyengkuni-nyengkuni-no uwong, mergo koen dewe yo gorong karuan gak Sengkuni,” tutur Mbah Nun. Kemudian beliau melanjutkan bahwa salah satu pelajaran yang dipetik dari Sengkuni2019 adalah tidak ada manusia di belahan bumi mana pun yang tidak memiliki potensi Sengkuni, sekecil apapun itu. “Seperti yang sering saya sampaikan dalam Maiyahan bahwa sak apik-apik’e uwong iku mesti onok elek’e, sak elek’elek’e uwong iku golek’ono apik’e,” imbuhnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Pak Sinarto yang hadir bersama pejabat-pejabat lainnya menyampaikan bahwa Sengkuni2019 menawarkan tafsir baru terhadap karakter Sengkuni yang konvensional. “Sengkuni itu pecundang, Sengkuni itu penghasut. Begitu,” ungkapnya. Pak Sinarto juga mengatakan bahwa ending dari Sengkuni2019 mengajak penonton untuk mempertanyakan pada diri kita sendiri dan membuat kita semakin merasa menyadari bahwa sebenarnya dalam diri kita juga ada Sengkuni. “Itu sebuah pemaknaan manusiawi secara baik,” pungkasnya.

Refleksi yang berakhir pada pukul 00.00 WIB ini memberikan pengalaman berbeda kepada insan yang hadir di Balai Budaya pada hari pertama. ‘Kado’ pemikiran Mbah Nun yang dipersembahkan kepada penonton itu diharapkan mampu dihadirkan sebagai benih-benih informasi tambahan, pembelajaran dan perenungan agar tidak gampang kecelé untuk menyikapi setiap peristiwa dalam menjalankan kehidupan. (Ade Rifi/Rahma Runindaru)