Mensyukuri Sengkuni yang Mempertautkan Hati

Sengkuni2019. Baik yang dipentaskan di Yogyakarta maupun yang di Surabaya telah rampung dilaksanakan. Tapi kita tahu, Sengkuni2019 bukan sekadar pementasan. Dia bukan hanya perlu disyukuri karena telah terlaksana, tapi kemudian bagaimana pancingan Sengkuni mampu membawa para penyimaknya kepada tahapan logika-logika dan analisa baru kepada atmosfer kehidupan bangsa, dunia dan peradaban. Maka mensyukuri Sengkuni2019 adalah harapan akan perubahan dan harapan terhadap hari esok. Frekuensi Sengkuni masih menggetar-getarkan ruang, waktu dan hati.

“Kita masih tetap menjajal kemungkinan kelanjutan Sebgkuni,” ucap Mbah Nun malam itu. Sekitar pukul 20.00 WIB. Tanggal 23 Maret 2019 M di Rumah Maiyah syukuran sederhana dilangsungkan. Pak Jujuk sebagai sutradara, para pemain dan para tim pendukung berkumpul bersama Mbah Nun untuk mengekspresikan rasa syukur yang teramat dalam ini. Pak Toto sebagai sesepuh dan marja’ Sengkuni juga marja’ para JM membuka acara dan mempersilakan agar setiap hadirin menyampaikan kesannya selama mengikuti proses Sengkuni2019 ini.

Pak Jujuk Prabowo dengan resmi dan ceria menyampaikan rasa terima kasih yang sangat dalam kepada para panitia baik yang di Yogyakarta maupun yang di Surabaya. “Panitia sangat guyub, tidak ada batasan pemain, kru dan panitia. Semua menjadi sedulur,” kata Pak Jujuk. Bukankah ini yang paling penting dari segala produk estetika kesenian? Mempersambungkan dan mempertautkan hati manusia. Minimal pada lingkaran kecil Sengkuni2019 itu telah terbina dengan harmonis. Tim Mas Heri di Yogya dan Tim Mas Veri dan Cak Rahmad di Surabaya memang tidak hadir malam hari ini, tapi kebersamaan dan persaudaraan pasca Sengkuni tidak mungkin lagi diputuskan. Semua menjadi sedulur dalam satu proses Sengkuni.

Beberapa efek sosial dari Sengkuni2019 mulai terasa. Dunia pedalangan telah mendapati referensi baru mengenai Sengkuni, mungkin ke depan kita akan melihat pentas wayang dengan versi Sengkuni yang seperti ini. Memang versi ini sudah pernah dibahas oleh Sadhguru di India, dan Mbah Nun pernah menyampaikan bahwa versi carangan Sengkuni ini memang bukan karangan Mbah Nun sendiri. Artinya, pancingan Sengkuni adalah agar kita mau membuka wawasan, terus update dan upgrade pemahaman. Tajdid tanpa henti. Banyak di luar sana komunitas seni yang merasa pementasan sukses hanya diukur dari jumlah penonton, ingar-bingar di media atau menjadi bahasan di media sosial.

Sengkuni masih di jalan sunyi. Namun menurut Mbah Nun biar Mbah Nun saja yang bernasib tersingkir dari media massa dan kewartawanan. Perdikan mungkin memang bukan komunitas teater yang media darling. Bukan komunitas kesenian yang pentas seperti apapun tetap akan dipuji oleh wartawan. Tapi Mbah Nun menunjukkan ketidaktegaan pada teman-teman pejuang Teater Perdikan, “Cukup saya yang bernasib seperti itu. Teman-teman Perdikan jangan mengalami seperti saya”. Tulus rasanya ungkapan Mbah Nun. Hujan deras sekali malam itu. Ditemani Soto Kudus dan teh panas, obrolan mengalir.

Hadir pula malam itu Pak Bambang yang sangat disepuhkan di Teater Perdikan. Pada mula proses Sengkuni2019, Pak Bambang diproyeksikan memerankan Ki Sodo. Namun kemudian karena satu dan lain hal, Pak Bambang digantikan oleh Mas Doni yang malam itu datang dengan kacamata baru. Ternyata ada berita duka bahwa ibunya Pak Bambang telah mangkat. Ini agak mengejutkan para pemain Sengkuni beberapa hari setelah pentas di Surabaya ketika beritanya tersebar di grup. Malam hari itu, kesempatan Pak Bambang menyampaikan secara resmi berita duka tersebut. Rupanya meninggalnya ibu Pak Bambang sangat berdekatan waktunya dengan keberangkatan pemain Sengkuni2019 ke Surabaya. Maka Pak Bambang menyimpan kabar tersebut. “Saya tidak ingin menganggu teman-teman dengan berita yang saya bawa,” ungkap beliau. Haru.

Mbah Nun menyatakan sedalamnya ungkapan bela sungkawa diikuti seluruh pemain dan tim Sengkuni. Entahlah, Sengkuni2019 memang selalu punya kejutannya sendiri. Itu terasa selama proses, selama pementasan, bahkan hingga pementasan telah selesai. Sengkuni ini, apakah masih akan memberi kejutan baru lagi? Sengkuni lagi-lagi masih misteri. Cukup berarti syukur. Berlanjut artinya penuh semangat.

Banyak kemungkinan yang dibahas pada malam hari itu, juga obrolan-obrolan tentang peristiwa di masa lalu. Karena semua sesepuh di Teater Perdikan ini memang sedulur lama, konco lawas yang punya segudang pengalaman tak habis-habis dibahas semalam suntuk. Kisah pertengkaran Pak Jemek dengan Pak Simon Hate ketika pentas di Malang, dan berakhir dengan perdamaian karena perjumpaan tak sengaja di lokalisasi Kalisari mengundang tawa tak habis-habis ketika diceritakan oleh Mbah Nun.

Untuk generasi muda, pengalaman-pengalaman ini tentu penting untuk dikenang. Dia akan jadi tabungan sejarah, karena percayalah Sengkuni2019 telah mengantarkan kita pada gerbang zaman yang baru.