Ketika Mazhab Teragamakan, Carangan Terpakemkan, Maka Berkuasalah Atas Waktu

Tidak hanya berlaku sebagai penulis naskah yang lantas lepas tangan, Mbah Nun sering pula di sela kesibukan mengikuti secara langsung jalannya proses latihan Sengkuni2019. Begitu juga pada hari Kamis 3 Januari 2019 kemarin, Mbah Nun hadir dan serius mengamati berjalannya latihan yang saat ini mulai mempraktikkan penggunaan kostum. Pada akhir latihan para pemain beserta kru mendapat kesempatan untuk mendengarkan masukan dan beberapa koreksi langsung dari Mbah Nun.

Beberapa hal dalam penulisan naskah ini memang cukup mendetail bahkan bisa kita katakan perlu presisi yang cukup matematis. Misal yang jadi bahasan malam hari itu dibabarkan oleh Mbah Nun, adalah berapa jumlah orang yang dimakan oleh Sengkuni? Berapa bersaudara dia? Siapa yang menyertai dan ikut termakan? Dijumlahkan dengan ayah-ibunya sendiri? Walau tampaknya sederhana pemahaman mengenai naskah ini tentu sangat berguna bagi para pemain. Sebaik-baiknya pementasan adalah ketika naskah dan pesannya benar-benar merasuk pada para aktor.

“Lumayan, minimal anak-anak muda yang main jadi Kizano kan jadi kenal dan belajar mengenai Sengkuni. Di situ saja kita sudah bathi (mendapat untung) sebenarnya,” cair saja obrolan malam itu di pendopo Rumah Maiyah, di mana sehari-harinya latihan diadakan. Sejak tanggal 2 Januari hingga tanggal 8 latihan akan terus diadakan tanpa henti, kemudian pemain akan beristirahat dan menjelang pementasan semua kesibukan akan bepindah ke lokasi acara nantinya digelar yakni di Concert Hall, TBY. Ini juga tentu untuk mulai penyesuaian pada tata panggung dengan ukuran yang sebenarnya, musik, sound serta lighting.

Mbak Ratih yang berperan sebagai Bu Kandeg dan Gandari pada sesi tersebut menghaturkan terima kasih sedalam-dalamnya, karena ternyata Mbah Nun telah menjawab apa yang sesungguhnya selama ini menjadi ganjalan baginya selaku pemain namun belum sempat beliau ungkapkan. Benarlah akan susah seorang aktor dan aktris untuk total dalam peran bila ada susatu yang tidak selesai dipahami apalagi untuk diresapi. Mbak Ratih merasa sangat beruntung karena ternyata tidak perlu menguar tanya, jawaban telah disajikan oleh Mbah Nun.

Kemudian Mbah Nun juga menambahkan pada beberapa sesepuh seniman yang turut hadir, terutama untuk disampaikan pada yang konsentrasi di bidang pedalangan. Bahwa Mbah Nun meminta agar pementasan ini dimaafkan karena memakai versi yang mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan pakem pedalangan yang mainstream. “Misal soal jumlah saudara Sengkuni, itu saja bisa berbeda. Tapi kalau dibutuhkan kita punya data dan catatannya” bahasan ini dilanjutkan oleh Mbah Nun dengan bahasan mengenai pakem dan carangan. “Apa yang kita kenal sekarang ini sebagai pakem kan juga bisa saja aslinya carangan. Atau bisa saja ada carangan yang karena sudah ditampilkan puluhan hingga ratusan kali sehingga orang tahunya yang pakem yang seperti itu”. Ini seperti juga cara kita mengenal agama Islam. Menurut Mbah Nun, Islam yang sampai pada kita sekarang ini juga adalah hasil dari tafsir-tafsir carangan, hasil peresapan mazhab-mazhab pemikiran yang kemudian membaku seiring zaman dan lama-lama orang menyangka yang seperti itulah yang pakemnya Islam. Teragamakanlah mazhab-mazhab tanpa disadari oleh ummat muslim. Dicontohkan oleh Mbah Nun misal soal wudhu, bahwa Alah sendiri tidak mendetailkan perintah mengenai wudhu, hanya menyuruh membasuh muka. Lantas para cerdik cendekia, menafsirkan soal urut-urutannya, jumlah membasuhnya, dimasukkan dalam kitab-kitab lantas “karena kita juga perlu berrendah hati, supaya jadi seperti murid yang patuh ya sudah tidak apa-apa kita ikuti saja” ungkap Mbah Nun dengan sedikit bercanda. Sayangnya, pada pola pikir mazhab carangan yang terpakemkan dan teragamakan beberapa persoalan ini tidak bisa dianggap cair. Sehingga perdebatan makin menjadi-jadi saja adanya di luaran sana.

Kita hidup pada era mazhab membaku, tafsir dipertentangkan, carangan dipakemkan, ormas dituhankan. Kita perlu sadari itu tapi juga bukan untuk kita menyalah-nyalahkan segala mazhab pemikiran yang terlanjur dipakemkan. Kita juga perlu paham teknis-teknis pakem yang berlaku. Seperti juga pementasan Sengkuni2019 ini, ada beberapa perombakan atas mazhab-mazhab teater yang berlaku. Namun Mbah Nun tetap memperhatikan juga presisi teknis keaktingan yang kira-kira sesuai standar pakem yang berlaku. Jadi ini bukan sekadar asal pembongkaran standar belaka, kita perlu bisa juga baca kitab untuk kemudian bisa menjembar berkata bahwa itu sekadar kitab carangan, pun dalam akting seperti itu. Mbah Nun memperhatikan misalnya pada beberapa pemain yang dalam melafalkan dialognya masih tampak terburu-buru. Pembaca yang budiman bila pernah merasakan bermain di atas panggung tentu paham bahwa speed, tempo dan nada bisa sangat berbeda dari cara kita berbicara sehari-hari. Ada beberapa pemain yang menurut Mbah Nun terlalu cepat membacakan dialog. Ini dibahasakan oleh Mbah Nun, sering terjadi “karena kita belum berkuasa atas waktu”. Maka inilah, Sengkuni2019. Ajakan agar kita bisa lebih mengkhalifahi pakem dan carangan serta berkuasa atas waktu.