Geliat Sengkuni2019 di Surabaya

Setelah kurang lebih tujuh jam perjalanan dari Yogyakarta, Rabu (6/3) dini hari rombongan pemain sekaligus kru Sengkuni2019 telah tiba di Surabaya. Cuaca hujan menyertai. Surabaya adalah kota kedua bagi pagelaran Sengkuni2019, yakni pada 7 dan 8 Maret 2019. H-1 alias hari Gladi resik. Seluruh komponen yang terlibat memaksimalkan dirinya sesuai bagian dan porsinya.

Menghela udara siang, para awak yang tergabung pada perahu Teater Perdikan tengah serius mengadaptasikan diri dan menyamakan hati dengan ruang dan waktu gedung Balai Budaya yang akan menjadi tempat pagelaran Sengkuni2019 ini. Di sisi lain, intensitas berproses penggiat Bangbang Wetan juga semakin meningkat untuk menyiapkan segala yang diperlukan. Sikap gotong royong yang ditunjukkan penggiat Bangbang Wetan menjadi kunci dalam persiapan ini.

Orientasi ini menjadi tradisi setiap Surabaya menjadi pilihan gelanggang pagelaran-pagelaran. Tak hanya pemain, kru, dan panitia, animo penonton juga memiliki antusiasme tinggi seperti saat pagelaran Presiden Balkadaba tahun 2009 & Nabi Darurat Rasul Ad-Hoc tahun 2012 yang juga pernah diselenggarakan di Surabaya. Pun dalam pagelaran Sengkuni2019 yang digelar dalam dua hari ini, dari 1500 tiket yang disediakan hanya tersisa beberapa kursi kosong saja.

Antusiasme mereka terus terjaga ketika prosesi gladi resik. Di samping panitia yang terus berjalan mempersiapkan segala kebutuhan pada saat hari H, para pemain dan kru tampak fokus pada detail step by step gladi resik.

Rabu malam, selepas Isya’, Mbah Nun melingkarkan seluruh pemain di atas panggung untuk mengawali adaptasi dengan latar Balai Budaya agar nantinya mampu memuncakkan keharusannya baik selepas gladi resik, pra maupun pasca pementasan.

Pak Jujuk, selaku sutradara Sengkuni 2019 juga terlibat langsung di dalam gladi resik ini. Sementara itu, Mbah Nun berpesan bahwa titik berat ‘latihan akhir’ pada malam ini adalah pada keluwesan gerakan dan pengolahan badan agar mampu nyawiji satu sama lain.

Selain itu, Mbah Nun selaku penulis naskah dan maestro yang memiliki sensibilitas rasa sangat tinggi, menyampaikan beberapa catatan tentang bagian-bagian yang perlu diperbaiki, terutama pada musikalitas dalam dialog, yang meliputi intonasi, nada, pelafalan, dan tempo. “Pakaian kata itu musik,” tutur Mbah Nun.

Hingga gladi resik usai, para panitia masih bersama-sama nyengkuyung segala persiapan dalam memberikan suguhan terbaik demi menyambut para penonton esok hari. Open gate sendiri akan dimulai sejak pukul 18.00 WIB, sedangkan pementasan dijadwalkan akan dimulai pukul 20.00 WIB.

Dari sisi persiapan teknis, sejak Selasa pagi panitia Sengkuni2019 telah ‘mendiami’ Balai Pemuda, karena semua perlengkapan yang dibutuhkan dalam pementasan yang dikirim dari Yogyakarta tiba pada Selasa pagi. Meski ternyata barang-barang baru masuk Rabu dini hari, semua keadaan bisa dihadapi tangguh. Akses jalan yang sempit dan cukup jauh dari panggung, serta harus menaiki tangga terlebih dahulu, adalah kondisi yang dapat diatasi dengan dingin. Demikian pula dengan akses masuk untuk ‘instalasi’ terkait properti, yaitu tata lighting dan sound juga pada lahirny mampu di-handle dengan gigih. “Lampu-lampu itu kan harus dipasang di atas, sementara tidak ada jalan untuk ke sana, selain pakai scafolding,” kata koordinator teknis properti Perdikan.

Di sini, tim Perdikan merasa senang karena sangat terbantu oleh panitia yang stand by sejak pagi di lokasi. Ia pun mengaku dengan banyaknya jumlah panitia yang membantu, hal itu membuat beberapa teman Perdikan bisa sedikit ‘lebih santai’.

Suasana persiapan berlangsung hingga Rabu sore ketika para panitia tetap on dalam semua kesibukan sesuai tugas masing-masing, dan yang menarik, semua itu diliputi suasana kegembiraan, guyup, dan enjoy. Dan bagi Anda semua yang belum beli tiket, masih ada waktu untuk mendapatkan tiket pementasan Sengkuni2019 ini. Panitia akan membuka stand tiket on the spot bagi Anda yang belum sempat membeli di ticket box. (Rifi dan Rahma)