Dua Hari Sengkuni2019: Emosi (dan) Revolusi

Menggelar satu pementasan dalam dua hari berturut-turut adalah tantangan tersendiri. Stamina tubuh dan stamina emosi pemain perlu dijaga untuk merawat kualitas yang ajeg. Seringnya, banyak orang berharap bahwa pada hari terakhir, permainan para aktor di panggung akan memuncak sehingga memberi pengalaman yang menawan. Segala macam pakem pemanggungan, dramaturugi dan sejenisnya sebenarnya juga bukan sekadar urusan indah-indahan belaka, tapi bagaimana estetika itu menjadi penunjang agar pesan naskah tersampaikan. Di sinilah kerja sama antara dua sudut pandang bertemu: penulis naskah yang biasanya konsentrasi pada isi pesan dan sutradara yang lumrahnya konsentrasi pada sisi keindahan pemanggungan.

Kalau kita berharap bahwa hari terakhir pementasan adalah gongnya, puncak dari semua capaian, kita perlu jujur untuk katakan bahwa itu tidak terjadi dalam Sengkuni2019. Dikatakan menurun juga tidak betul-betul drastis, lebih tepatnya dua hari pementasan ini memberi pengalaman yang berbeda. Bukan satu lebih baik dari yang lain, atau terserah bagaimana menilainya, tapi intinya berbeda.

Kita perlu lihat pertama-tama dari penaskahan. Ini naskah dengan tema yang bagi beberapa orang cukup ‘berat’. Dan Emha Ainun Nadjib sebagai penulis naskah juga dulu menulis naskah Tikungan Iblis, ada kesamaan dan perbedaan dalam Sengkuni2019 dengan Tikungan Iblis, kita ambil sebagai bahan komparasi. Bila kita lihat struktur tubuh dan pembabakan naskah. Tokoh utama (Iblis Smarabhumi pada TI dan Sengkuni pada Sengkuni2019) menjadi bahan omongan, diskusi atau obrolan di beberapa wilayah dan zaman (bahkan dimensi kalau dalam TI), tokoh utama yang selalu dikambinghitamkan di hampir setiap bahasan, pada puncaknya tokoh utama muncul dengan mengutarakan siapa sesungguhnya dirinya dengan teknik monolog. Dua ini, diperankan oleh Pak Joko Kamto.

Walau mirip tapi di situ ada titik tekan yang jauh berbeda. Iblis Smarabhumi pada Tikungan Iblis lebih menguras kepedihan hatinya, rasa cinta yang mesti ditebus di sepanjang alur peradaban, rasa rindu tak sudah-sudah pada kekasih Maha Kekasih. Sedangkan pada Sengkuni2019, Sengkuni muncul dengan cukup ‘galak’ menggugat zaman, manusia dan kesalahpahaman atas dirinya, kesakitan hati, dendam dan nilai moral keluarga. Tikungan Iblis menguras harunya emosi sementara Sengkuni2019 menggelorakan semangat revolusi. Dua-duanya, sukses bikin istri saya tidur(!) Karena saya tau aslinya dia tidak suka teater dan kalau nonton teater itu pasti karena saya paksa atau saya yang sedang main. Tak apa, bahkan ketika suaminya sendiri bermain di panggung, istri saya tetap tertidur di kursi penonton. Fakta bahwa dia sudah meluangkan waktu untuk datang ke gedung pertunjukan (walau-hanya-ganti-tempat-tidur) buat saya sudah cukup, tidak bisa meminta lebih. Intinya, bahwa istri saya tertidur tolong jangan dijadikan tolok ukur kualitas pementasan.

Saya tidak terlibat di Tikungan Iblis, hanya menonton dan pengalaman membeli tiket lesehan tapi nyolong kursi VIP buat saya cukup jadi bekal untuk mencegah hal macam itu terjadi. Tapi keamanan bukan kerjaan saya di sini. Saya bertugas sebagai bisa disebut stage manager. Paling bungsu dalam tim kerja ini, agenda awal saya adalah menyusun rangkaian kasar adegan hasil olahan sutradara. Yang saya dapati adalah sekitar dua puluh jalur lalu lintas keluar masuk pemain dengan sub adegan (total tidak kurang dari dua puluh lima), dengan penempatan set dan properti yang berubah-ubah (dan mesti kembali pada saat tertentu), serta pergantian kostum pada beberapa pemain.

Saya bermain teater bukan betul-betul pro juga, sekadar hobi dan penyaluran emosi. Tapi sejak bermain tahun 2008 jalur enterance paling rumit yang pernah saya alami hanya sekitar 7 kali keluar masuk, itu saja sudah ada risiko kelupaan jalur. Masuk lewat wings mana, keluar lewat wings yang sebelah mana. Wings panggung seberang atau wings yang sama. Wings yang sama tapi beda depan belakangnya, atau wings berbeda tapi sama arah. Ada sisi di mana menjadi aktor seperti bermain logika catur, berharap semua aktor bisa mengingat itu tanpa perlu pengingat akan sangat berisiko.

Berkali-kali dalam pengalaman saya sebagai aktor dulu, ada lawan main yang ikut keluar panggung lewat jalur saya sehingga logika cerita jadi terganggu (misal: setting rumah, aktor masuk ke adegan panggung dari wings sebelah kiri, logika cerita berarti pintu rumah aktor di kiri. Kalau ada tamu, berarti asalnya dari wings kanan. Nanti adegan tamunya pulang, dia keluar dari kanan dong. Pernah terjadi, tamunya keluar adegan dari wings kiri juga yang artinya secara logika cerita tamunya bukannya pulang tapi IKUT MASUK RUMAH, kan tidak sopan)

Syukurlah sepanjang dua hari Sengkuni2019 tidak ada kejadian salah masuk dan salah keluar. Pilihan tidak masuk sekalian daripada nanti susah keluar adalah lebih masuk akal dan yang ini, kalau penonton cukup jeli secara logika cerita ada kejadiannya.

Balik ke Tikungan Iblis, ini mungkin materi naskah yang imbang bobotnya, tapi pada teknis saya tidak melihat kerumitan serupa. Tikungan Iblis lebih banyak bermain pada wilayah perpindahan nuansa, adegan kepurbaan yang membuat kita teringat pada gambaran awal peradaban ala Stanley Kubrick dalam “2001: A Space Odyssey” (produksi tahun 1968) misalnya. Walau cukup kolosal jumlah pemainnya, tapi tidak terdapat kenjelimetan adegan dan yang terutama kalaupun ada perubahan set itu agak sedikit dan dilakukan kru.┬áTapi kerumitan Sengkuni2019 adalah perubahan set itu dilakukan dalam adegan terutama dilakukan oleh Wayang dan Kizano. TI banyak bermain dengan panggung berlevel (low-middle-high) yang cukup ekstrem. Low bisa sangat low high-nya sangat tinggi ke langit. Dan tentu pencahayaan, kegelapan, lighting magis mendominasi TI.

Maka begini, somehow Muhammad Ainun Nadjib, Mbah Nun dengan sangat hormat dan ta’dhim saya. Berbeda sifatnya sebagai penulis naskah dengan sosok beliau yang kita kenal sangat memomong dan menyayangi. Dalam penaskahan Tikungan Iblis dan Sengkuni2019, kita bisa melihat emosi yang tidak kita lihat dalam majelis-majelis Maiyah, pemilihan kata dan diksi yang cukup sadis. Bila difilmkan, mungkin dua ini bisa setara level berdarahnya dengan film-film besutan Tarantino. Bila saya tidak begitu kenal apa itu Maiyah, siapa Mbah Nun misalnya, hampir pasti saya akan menyimpulkan bahwa Mbah Nun adalah orang yang berbeda dengan Muhammad Ainun Nadjib yang menulis dua naskah epik ini.

Dari sisi olah adegan, TI memberi penajaman kesuraman untuk pilihan diksi-diksi dalam naskah yang sadis tapi indah. Sedangkan Sengkuni2019 memberi balancing. Pada TI adegan berdarah walau tidak vulgar (dan sesuai juga dengan selera estetik penikmat teater Yogya yang lebih suka metafor daripada adegan blokosuto cetho wela-wela) pembunuhan disuramkan, dimerahkan dan ditajamkan.

Sedang pada Sengkuni2019, diksi naskah yang penuh dengan kanibal, bunuh, sembelih itu diseimbangkan dengan pewarnaan dan kostum ceria. Istilah saya sih Pak Jujuk selaku sutradara memberi “warna Majalah Bobo” dan secara selera pribadi, saya suka sekali pada pewarnaan ini, benar-benar indah dan menyenangkan secara pewarnaan. Panggung TI, kita sebut saja tancep kayon, panggung seperti beku dalam waktu dan penonton disedot masuk ke alam yang berbeda. Sementara Sengkuni2019, panggungnya bergerak menari, dan sejak awal “panggung telah dirobek” dengan dialog-dialog yang menginformasikan bahwa “Ini adalah pementasan, ini panggung”. Maka sejak itu pula kita tahu, pementasan ini tidak berniat menyedot penonton ke alamnya.

Bukan berarti pasti mudah tim belakang panggung TI, hanya tantangannya jelas berbeda. Secara detail, hari I dan hari II Sengkuni2019 juga memberi efek yang bedanya seperti itu walau tidak setajam bila dibandingkan dengan TI. Hari pertama, beberapa adegan berhasil comical dan komedik, tawa menggetarkan kursi penonton. Contrasting adegan cukup berhasil, gerbang komedi adalah bekal apik menuju puncak tragedi. Adegan Pak dan Bu Kandeg, Ki Sodogati dan Punar yang jelatais kebatinan itu membawa tawa, Mas Bagus dan Timsuk adalah gerak sindiran yang terbaca menertawakan kahanan. Wayang dengan stamina awal cukup memberi istirahat mata untuk penonton dan Kizano sukses bikin geli-ngilu. Puncaknya, monolog Sengkuni adalah surprise effect buat penonton, setelah dilambungkan dengan tawa penonton dibanting kepada haru biru. Jujur saja saya sendiri di belakang panggung sempat meneteskan air mata mendengar Sengkuni mengutarakan isi hatinya pada hari pertama itu.

Bagaimana hari kedua? Berbeda. Tidak ada tawa yang meledak di hari kedua. Apakah memang penonton yang datang adalah tipikal filsuf-petapa atau, memang beberapa hal dalam adegan justru lebih mengedepankan pesan ketimbang perasaan. Pada kali kedua ini, semua tokoh jadi tampak punya tingkat IQ yang setara dengan kebijaksanaan yang sama. Hari pertama kita diajak merasakan, hari kedua kita diajak berpikir. Baik mana? Perlu mana? Tentu dua-duanya perlu imbang. Gerak tubuh sang aktor juga terpengaruh sedikit banyak. Pada hari pertama beberapa gerak mikro tampak menonjol, getaran otot, lengan yang mengejang, Sengkuni seperti orang yang memendam kesedihan sampai syaraf-syarafnya korslet. Gerak mikro tidak selalu sampai ke penonton terjauh, tapi bila bicara sublime message, gerak mikro tidak bisa dikalahkan.

Tapi amukan Sengkuni memang justru sangat revolusioner di hari kedua. Sengkuni di hari kedua ini Sengkuni yang membantai, marah, muntah, liar, menghajar, membentak dan memaki. Gerak tubuh Sengkuni pada hari kedua bukan lagi pembesaran gerak atau proyeksi (dalam istilah akting) tapi sudah sampai pada tiwikrama. Sengkuni pada hari kedua adalah monster yang mengamuk mengerikan!

Saya tidak akan heran kalau setelah menonton Sengkuni hari kedua ini ada penonton yang pulang tiba-tiba mau merobohkan negaranya.

Oh baiklah, itu terlalu ekstrem. Tapi begini, kalau hari pertama kita diajak berempati merasakan kepedihan hati yang terpendam, pada hari kedua kita diajak untuk memikirkan amarah yang dimuntahkan.

Jadi kalau kita lihat pada inti pesan naskah, Sengkuni hari pertama secara ilmu kahuripan, mungkin bukan hal yang jadi capaian. Yang sampai adalah capaian estetik emosi, sedangkan pada hari kedua yang tersampaikan adalah ilmu dan pemikiran. Secara teknis, treatment adegan semestinya perlu berbeda. Pada pementasan yang menguras emosi, permainan timing dan tempo antar adegan sangat penting sedikit dipercepat. Ini agar larutan emosi penonton tidak sempat terlalu mengendap, sebab emosi agak sukar pulih. Bila pada satu babak penonton sedih dan ada jeda cukup lama antar adegan, maka kesedihan itu bisa masuk terlalu dalam, kejeron, sehingga switch emosi pada babak selanjutnya bisa berisiko rusak. Namun pada pentas yang konsentrasinya pada isi pikiran, justru jeda sangat perlu diperlambat. 10-20 detik kehampaan panggung setelah fade-out bisa memberi waktu pada penonton untuk mencerna pemikiran yang baru saja dia terima. Seperti kalau sedang menyuap makanan, beri waktu mengunyah. Bila orang belum selesai mengunyah sudah disuap, risikonya adalah tersedak atau termuntahkan.

Uniknya, pentas Sengkuni2019 ini bisa dikelola dengan dua sajian yang satu tapi beda. Pemain dan tim panggung semua sama, tapi seperti dua sajian dengan resep yang sama, dimasak orang yang sama pas dicicipinya sama-sama enak tapi enaknya berbeda. Kenapa bisa begitu? Sepenuhnya saya tidak tahu. Seperti Narator dan Sengkuni, yang dalam dialog kita bisa tahu bahwa Narator ya Sengkuni tapi Sengkuni tidak Narator. Mana Sengkuni dan mana Narator, tidak ada peralihan make up, kita bisa melihatnya dari detail-detail gerak tubuh. Narator tetap Narator dan dia ajeg, sementara Sengkuni selalu menampilkan wajah berbeda. Sama tapi beda, loro ning atunggil, itu berlaku kalau kita membandingkan TI dengan Sengkuni2019. Juga Sengkuni2019 sendiri pada hari pertama dan kedua, juga tokoh Sengkuni dan Narator. Satu emosi satu revolusi. Saya hanya bisa percaya bahwa yang menonton diperjodohkan dengan Sengkuni-nya masing-masing.