Dibenahkan Pak Emha untuk Berpanggung di Hati Manusia

“Panggung yang sesungguhnya adalah di hati manusia,” Mbah Nun menyatakan itu ketika memberi pengarahan kepada para pemain Sengkuni2019. Menjelang hari H pementasan, Mbah Nun semakin intens memperhatikan keseluruhan proses latihan. Notice juga, bahwa Mbah Nun ketika memang sudah menyatakan akan terlibat secara langsung, tidak pernah datang terlambat ke lokasi latihan. Mbah Nun selalu tiba sebelum latihan dimulai, ini mungkin tingkat kedisiplinan yang perlu kita tiru.

Tanggal 6 dan 7 Januari kemarin, Mbah Nun sudah juga terlibat dalam pengaturan adegan. Ini tidak serta merta dilakukan dengan asal tabrak ‘birokrasi’ dan protokol. Sebelumnya, pada 5 Januari Mbah Nun dengan sangat sopan meminta sedikit hak beliau sebagai penulis naskah untuk menyutradai detail-detail tertentu agar dialog pemain lebih tersampaikan sesuai dengan inti pesan dari naskah tersebut. Ini tergolong unik, seringnya seorang penulis naskah akan langsung menghambur ikut campur tanpa peduli proses yang telah dialami pemain dan sutradara. Menahan ego sebagai penulis naskah yang merasa (wajar) paling tahu apa keinginan naskah sesungguhnya teramat berat. Dari proses Sengkuni2019 ini, ternyata kita juga bisa mengambil uswah mengenai sopan santun, etika, kerendahan hati, tepa slira, stamina poso, serta sistem kerja komunal yang saling memberi ruang.

Jadilah, dua hari setelahnya para pemain berkesempatan disutradarai langsung oleh Pak Emha. Entah kenapa dari dimensi pandang teater, lebih nyaman menyebut Pak Emha. Mungkin ada getaran yang berbeda di situ, mungkin. Disutradarai oleh seorang tokoh teater yang kiprahnya sudah malang-melintang dengan pengalaman jam terbang tak berbilang, sungguh adalah kesempatan emas bagi para aktor dan aktris Sengkuni2019. Perbaikan mutu, kualitas artikulasi, aksentuasi, gerak tubuh, pemahaman dasar logika kata dan banyak hal lainnya mereka dapatkan.

Tapi Pak Emha yang sekarang mungkin sudah tidak segalak dulu. Dengar-dengar sih Pak Emha kan termasuk salah satu sutradara galak dalam dunia perteateran lawas. Tapi dalam proses penyempurnaan detail-detail pada pementasan ini, Mbah Nun lebih banyak menunjukkan sikap memomong, mengasuh, dan membimbing pelan-pelan. Arsiran ketegasan, tetap ada. Melihat dari kecermatan Pak Emha pada detail-detail kecil, tampaknya kesan bahwa pada masanya dulu beliau adalah sutradara ‘galak’ cukup bisa dimengerti.

Pada 6 Januari, para pemain dan kru juga dicek kesehatannya oleh Dokter Sita. Beliau seorang dokter yang merupakan putri dari sahabat Mbah Nun. Cek jantung, tekanan darah dan lain sebagainya diperiksa. Pak Jemek sepertinya punya tensi yang agak anomali. Tapi keseriusan ini perlu dimasukkan dalam liputan agar bisa ditiru bagi para penyelenggara pentas lain di kemudian hari.

Sementara itu Pak Bambang yang awalnya berperan sebagai Ki Sodo, dengan kesepakatan para sesepuh dipilih untuk lebih terlibat dalam ‘dewan kasepuhan’ alias para supervisor pementasan bersama Mbah Nun sendiri, Pak Toto Rahardjo (Kiai Tohar), Pak Simon Hate, dan Pak Godor. Pemuliaan sesepuh memang ciri khas dari sistem kerja komunal. Pada kelanjutan latihan, Pak Bambang lebih banyak memberi arahan dan energi semangat kepada para generasi pelanjut. Dan peran tokoh Ki Sodo Gati sendiri, kemudian diberikan pada Mas Doni yang juga adalah vokalis KiaiKanjeng dan terlibat dalam pengolahan musik bersama Pak Jijit, Pak Joko SP, serta Mas Widi. Komunal atau individual adalah pilihan, memang pilihan. Setiap sistem kerja ini punya kelebihan dan kekurangannya dan itu semua berpadu-padu dalam proses latihan Sengkuni2019.

Vibrasi komunal itu mungkin terasa sekali dan memancar hingga pada latihan di tanggal 7 Januari, Rumah Maiyah yang menjadi lokasi latihan mendadak jadi ajang reuni para sesepuh dunia seni Jogja. Malam itu seolah kita menyaksikan para tokoh tua dari rimba persilatan keluar dari liang pertapaannya dan berkumpul dalam satu forum kependekaran untuk memberi tenaga dalam tambahan bagi para penerus mereka.

Lihat saja itu ada Pak Kocil, Pak Bayu, Pak Seteng, Pak Indra Tranggono, Pak Budi Cahyono dan ada Pak Simon Hate. “Di hati kita masing-masing,” ujar Mbah Nun dengan kelakar yang mengundang tawa, pada saat sesi akhir latihan, para sesepuh ini diberi kesempatan untuk me-review proses latihan yang telah mereka saksikan. Pak Simon Hate juga sudah beberapa kali datang, mengamati serta memberi masukan yang berharga. Hanya malam ini beliau sedang berperjalanan ke tempat lain, kalau ada yang rindu pada beliau ketahuilah bahwasanya ada foto poster Pak Simon Hate berukuran besar tertempel di dinding dapur di Rumah Maiyah. Dapur itu, pada satu sisi memang penggambaran hati batin bukan?

Sedangkan dari sisi pemain dan kru bisa dilihat Mas Akbar yang sehari-harinya sibuk berbisnis, dalam pentas ini mesti menjalankan peran keaktingan yang menuntut gerak tubuh dan artikulasi, masih ditambah pula dengan memastikan kehadiran sesama pemain. Mas Penya selalu sigap memenuhi kebutuhan pementasan dari menggantikan tim musik ketika berhalangan, menjadi suplier dialog, sampai pada urusan konsumsi. Mbak Ike yang sehari-harinya adalah aktor freelance juga adalah pembuat roti handal sering membawa hasil olahan tangannya ke tempat latihan. Mbak Ais sehari-harinya bekerja di LBH (Lembaga Bantuan Hukum) menjadi pencatat adegan. Ingin sekali rasanya menulis satu persatu mengenai para pemain dan kru yang terlibat. Ada Pak Toro, ada Mas Kumbo yang selain berakting juga karena seorang legenda hidup seni rupa kemudian terlibat dalam pembuatan setting. Ada Mbak Seli yang paling hietz, ada Pak Jemek legenda pantomim yang ‘menabikan’ Mbah Nun sesuai sangu yang diterima (ada istilah baru nih “Nabi abangan”). Ada Mbak Dewi, ada Pak Margono, ada Pak Wardono, ada Mbak Ningsih. Wah banyak sekali dan semuanya berasal dari ragam-ragam wilayah hidup yang berbeda-beda

Pada 8 Januari, para pemain diberi satu hari bebas latihan. Mbah Nun punya tips-tips sendiri mengenai hal ini. Mbah Nun menganjurkan para pemain untuk rileks pada hari bebas latihan tersebut, biarkan semua hasil olahan latihan itu menep. “Pulang dari sini, kalau bisa Anda mandi sebelum tidur, saya biasanya seperti itu. Karena dengan mandi, Anda lahir menjadi baru sehingga ketika bangun Anda adalah Anda yang baru bukan hanya mengulang kelelahan hari sebelumnya,” Mbah Nun menegaskan bahwa ini hanya saran yang diambil dari kebiasaan Mbah Nun sendiri dan tentu setiap orang berhak punya keputusan akan mengikuti atau tidak.

Juga dilanjut oleh Mbah Nun, pada hari tersebut agar lebih berkontemplasi, “Yang biasa sholat ya sholat, yang lain tentu sesuai iman dan kepercayaannya, yang biasa Yoga silakan dilakukan, intinya Anda punya waktu berkontemplasi”. Menurut Mbah Nun, karena kita akan berpanggung di hati manusia, maka kita juga mesti mendekat pada Yang Maha Memiliki Hati itu sendiri. Setelah satu hari tersebut, latihan akan memasuki babak baru lagi, yakni latihan setiap hari di Concert Hall TBY yang akan jadi lokasi pementasan pada tanggal 12 dan 13 Januari 2019.

Proses latihan Sengkuni2019 ini menjadi ajang lita’arofu, saling kenal dan saling memesrai yang khusyuk, saling silaturrahim dan saling memberi ruang. Ini adalah sebuah kerja komunal, di mana semua orang bisa mejadi siapa saja. Siap melakukan apa yang dibutuhkan demi tujuan bersama dan pada saatnya nanti mereka semua akan berpanggung di hati manusia.