Belajar dari Sengkuni, Mas Ilham Belajar Tidak Menyengsarakan Sesama Manusia

Taman Budaya Yogyakarta sore ini, Sabtu, 12 Januari, ramai didatangi oleh sebagian besar anak muda dari berbagai kota. Dilaporkan oleh Redaksi CakNun.com, di antara mereka adalah rombongan pelajar dari SMAN 2 Jombang. Rombongan yang lain datang dari Jakarta, Bogor, Semarang. Beberapa di antara mereka telah datang di Yogya beberapa hari dan menginap di guest host.

Ada perhelatan apa di Taman Budaya Yogyakarta selama dua hari ini? Teater Perdikan mempersembahkan Sengkuni2019. Naskah yang ditulis Emha Ainun Nadjib akan dipentaskan pada Sabtu dan Ahad, 12-13 Januari 2019.

Antusiasme penonton menyambut Sengkuni2019 terlihat sejak beberapa hari sebelum perhelatan berlangsung. Tiket Sengkuni sold out lima hari sebelum pentas digelar.

Menyaksikan antusiasme penonton menyambut pentas Sengkuni2019, muncul pertanyaan: apa yang mendorong mereka hadir di Taman Budaya Yogya? Apakah Sengkuni2019 menawarkan janji-janji politik di tahun politik? Ataukah kita tengah memendam kekejaman sekaligus penderitaan yang entah bagaimana mengungkapkan dan memahaminya?

Berbagai tafsir dan ekspektasi bermunculan. Cak Nun, sebagai penulis naskah, menyatakan: “Pementasan ini hanya partisipasi¬†bebrayan. Hanya kontribusi pembelajaran kemanusiaan. Hanya pengasak¬†kawruh¬†di barisan paling belakang.”

Terkait dengan tafsir politik Cak Nun menegaskan melalui tulisan Sengkuni Dalam Diri: “Lakon (Sengkuni) ini juga tidak mencari, menemukan kemudian menuding figur Sengkuni dalam suatu konstelasi.”

Lantas bagaimana memasang perspektif untuk memahami Sengkuni2019 dari arah penonton?

Mas Ilham naik kereta dari Jakarta datang ke Yogya bersama “sepeda tangan”-nya tampak bersemangat. “Saya belajar dari Sengkuni betapa kejam manusia menindas manusia yang lain,” ujarnya.

Menurutnya, dari pementasan Sengkuni2019 ia akan belajar bagaimana menjadi manusia yang tidak menyengsarakan manusia lain.