Ramadlan 2017

Sepanjang Ramadhan 1438 H, Cak Nun dan KiaiKanjeng tetap berkeliling mengajak masyarakat untuk terus Sinau Bareng. Bahkan memasuki Ramadhan ini bobot Sinau Bareng makin memasuki tingkatan tafakkur dan tadzakkur yang lebih mendalam.

Mbah Nun membawa masyarakat untuk menep tetapi detail-tajam dalam membaca keadaan-keadaan utamanya situasi bangsa Indonesia di mana berbagai isu atau pertentangan yang berlangsung di Indonesia belakangan atau hari-hari ini boleh jadi hanyalah dulinan dari beberapa gelintir orang saja.

Masyarakat yang bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng untuk Sinau Bareng selama Ramadhan ini pun datang dari beberapa kalangan. Ada lingkungan Kampus (Polinema Malang dan UGM Yogyakarta), jajaran pemerintahan dan masyarakatnya (Walikota Kota Batu Malang), masyarakat urban Ibukota (Kenduri Cinta Jakarta), jajaran kepolisian (Polrestabes Surabaya), komunitas-komunitas pedagang (Komunitas Malioboro Yogyakarta), dan jamaah Maiyah sendiri.

Dari Sinau Bareng ini, masyarakat khususnya generasi milenial, mendapat bahan dan alasan tak kurang-kurang untuk belajar hidup berkebersamaan dalam masyarakat, cerdas, bijaksana, dan seimbang memahami filsafat bernegara dan bermasyarakat (Nasionalisme, Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika), dan melingkar dalam menemukan siasat dan konsep kehidupan dari yang mikro sehari-hari hingga yang makro-global.

Mbah Nun mendidik masyarakat untuk memahami tingkatan manusia (Insan/makhluk bernama manusia, Abdullah/manusia sebagai hamba Allah, dan Khalifatullah/manusia sebagai penerima mandat pengelola kehidupan) dan mengajak mereka terus meningkatkan diri menuju Khalifatullah meskipun peradaban yang berlangsung saat ini justru masih pra insan atau humanisme pun belum.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image