Cuaca cukup cerah siang-sore itu (21/10). Beberapa masyarakat menikmati bapak-bapak KiaiKanjeng soundcheck untuk pergelaran Sinau Bareng malam itu. Sebagian yang lain berfoto ria, selfie, di atas bebatuan besar yang berbentuk menyerupai jamur. Karena banyak batu-batu besar seperti jamur itulah area ini dinamakan Bukit Jamur.

Malam itu panitia punya hajat Sinau Bareng dalam rangka soft launching Bukit Jamur sebagai sebuah destinasi wisata baru di Bungah, Gresik. Lokasi acara merupakan sebuah perbukitan kapur dengan kontur tanah yang tidak terbayang jemek-nya jika terkena hujan.

Tidak ada yang bisa menyangka dan mengira dengan persis apakah malam itu hujan turun atau tidak. Semua sudah ditata dan dirancang sedemikian rupa untuk berlangsungnya acara dengan lancar dan meriah. Sama seperti bernegara, semua direncakan dengan gegap gempita oleh pengelolanya seakan hari esok bisa diatur seenaknya, dianggapnya Tuhan tidak ada dan tidak berdaya atas keinginan-keinginan para penguasa.

Dan malam itu sebelum acara dimulai, tidak hanya deras, hujan turun disertai badai. Sound dan panggung yang telah ditata menjadi kacau persambungan jalur-jalur kabelnya akibat sebagian alat musik harus diringkesi. Mixer dan ala-alat lain harus ditutupi terpal.

Setengah jam kemudian hujan reda. Waktu dimulainya acara semakin mendekat. Penataan ulang sound dan lighting dilakukan pelan-pelan. Dan dipastikan tidak bisa dirancang seperti sebelum hujan. Lighting tidak bisa digunakan semua seperti semula. Dan mixer pun hanya satu yang dihidupkan tidak seperti biasanya dengan dua mixer.

Area tanah di lokasi pun menjadi lumpur. Dan di atas lumpur itu jamaah tetap duduk menyimak Sinau Bareng. Melihat kuatnya niat jamaah untuk belajar dengan jauh-jauh datang ke lokasi yang memang sangat jauh dari area penduduk, belum lagi duduk berbasah-basah di atas lumpur, Mbah Nun menggembirakan hati dan mendoakan ketulusan hati mereka.

Mbah Nun dan KiaiKanjeng memandu Sinau Bareng tetap menjadi kebahagiaan bersama. Salah satu pesan Mbah Nun terkait dengan wisata yakni ada beda keberangkatan kesadarannya antara wisata dengan ziarah. Jika ziarah berangkat dengan kesadaran ingat kepada Allah, sedangkan umumnya konsep wisata tanpa kesadaran tersebut. Untuk itu maka semua harus berangkat dengan kesadaran ingat kepada Allah agar tempat wisata Bukit Jamur ini menjadi berkah.

Pukul 01.00 dinihari Sinau Bareng berakhir. Dengan tanpa alas kaki lagi, jamaah mengantri salaman dengan berjalan di atas lumpur. Ketulusan jamaah menjalani itu semua didoakan Mbah Nun semoga Allah segera membereskan semua urusan-urusan mereka.

Sinau Bareng di atas Lumpur Bukit Jamur