Sejenak Indonesia di Rumah Maiyah

Bagian dari perjalanan Cak Nun ke mana-mana buat menebarkan Sinau Bareng dan benih-benih lain yang baik ke tengah masyarakat adalah justru menyempatkan berhenti sejenak di Rumah Maiyah Kadipiro itu sendiri untuk menemui orang-orang yang meminta sowan dan silaturahmi.

Di antara mereka adalah orang-orang yang kedatangannya menjadikan pertemuan itu sebenarnya berbobot relasi politik. Tapi itu juga tergantung bagaimana politik dipahami, toh kata itu mengalami perkembangan pemaknaan. Pada titik itu, kita melihat Cak Nun memilih memosisikan semua tamu-tamu itu pada perspektif inklusivitas, memberi ruang, menemani, bahkan kerap menjadi orang tua bagi mereka.

Sebagai tamu, mereka pun mendapatkan penghormatan yang sebaik-baiknya dari Cak Nun.

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْأٰخِرِفَلْيـكْرِمْ ضَيْفَهُ 

Barang siapa percaya kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia menghormati tamunya.