Mbah Nun berkeliling diundang oleh masyarakat mulai tahun 1972, pertama di kampung Jogoyudan, tepian Kali Code, belakang Jl. Mangkubumi Yogya sebelah timur. Kalau mengenang itu semua Mbah Nun sendiri sampai hari ini belum paham kenapa masyarakat mengundangnya.

Mbah Nun resminya dikenal sebagai Penyair dan rajin menulis esei di koran-koran Yogya seperti Kedaulatan Rakyat, Suluh Marhaen (kemudian menjadi Berita Nasional), Mertju Suar (kemudian menjadi Masa Kini), Pelopor Yogya, Eksponen dll. Kemudian berkembang ke media-media Jakarta: Kompas, Sinar Harapan, Tempo, Gatra, Mimbar Demokrasi, sampai Matra, Zaman, Femina, Kartini dan lain-lain.

Rambut Mbah Nun gondrong sampai bawah punggung, berpakaian “preman”, pakai gelang besar di tangan kiri. Tidak begitu mengerti etika berpakaian, tidak punya banyak celana dan baju, lebih sering pakai kaos oblong, serta tidak mengerti trend estetika kapan baju dimasukkan ke celana dan kapan dilepas. Tidak bisa dipahami Mbah Nun diminta semacam pengajian di kampung-kampung, kampus-kampus, di markas organisasi mahasiswa seperti HMI, PMII, IMM atau bahkan GMNI.

Tahun 1976 berinteraksi dengan Teater Dinasti, menuliskan lakon-lakon “Geger Wong Ngoyak Macan”, “Patung Kekasih”, “Keajaiban Lik Par” dll. Juga menemani Teater Salahudin, Teater Jiwa dll. Naskah Mbah Nun “Perahu Retak” akan digelar kembali oleh Gutheng yang dulu bermain di lakon itu, kemudian aktif di perfilman dan akan kembali menyutradarai teater.

1976 Mbah Nun mulai mengajak pemusik Dinasti Nevi Budianto, Joko Kamto dll, untuk merintis pergelaran “Musik Puisi”. Nevi dan Joko sampai hari ini merupakan tulang punggung Kelompok Kiai Kanjeng. Sesudah dirintis pentas di Cemara Tujuh UGM dll, penyelenggaraan lebih serius “Musik Puisi” di Gedung Senisono (sekarang bagian dari Gedung Agung Yogya) adalah Burhan Muhammad, yang beberapa tahun silam dipanggil Allah dalam posisi sebagai Dubes RI di Pakistan. (Tentang kiprah beliau dalam kaitannya dengan pergerakan Mbah Nun sejak era 1970-an akan ditulis khusus). “Musik Puisi” adalah suatu jenis aransemen yang mengharminukan fungsi puisi dan musik secara seimbang.

Preman Pengajian