Memproses Presiden Soeharto Lengser

Teman-teman Jamaah Maiyah, foto yang Anda lihat ini adalah foto satu atau pertama dari dua kali Mbah Nun berada di Istana Negara, yakni pada 19 Mei 1998.

Seperti bisa Anda lacak ke dalam dokumentasi media, atau Anda dengarkan dari tuturan para om-om kalian, tahun 97 dan 98 adalah puncak dari gelombang besar yang menghendaki Presiden Soeharto turun dari jabatannya yang telah diduduki selama 30 tahun lebih.

Gelombang demonstrasi mahasiswa dan para aktivis berlangsung di kota-kota besar di Indonesia dalam jumlah dan eskalasi yang kian meningkat. Desakan untuk Soeharto turun dari kursi kekuasaan tak terelak lagi. Tapi pertanyaannya, bagaimana cara dan proses menurunkan Soeharto? Apakah demonstrasi, termasuk yang di depan gedung DPR/MPR kala itu otomatis langsung bisa menurunkan Soeharto? Sementara itu, mereka juga belum pernah demonstrasi di depan Soeharto. Soeharto masih sangat berkuasa ketika gelombang demonstrasi itu berlangsung, bahkan ketika kerusuhan-kerusuhan meruyak di mana-mana.

Jelaslah di sini dibutuhkan satu langkah krusial lagi agar Soeharto bisa turun. Di situlah, Mbah Nun yang juga sedari dulu selalu bersikap kritis dan vokal terhadap kebijakan-kebijakan Orde Baru, mengambil peran di hari-hari penting di bulan Mei 1998 itu, yang tak semua tokoh Reformasi saat itu punya cara untuk meminta Soeharto turun, di mana cara-cara itu tak mungkin keluar dari lembaga negara yang ada seperti DPR atau MPR yang saat itu dianggap bagian dari Orde Baru yang justru harus direformasi.

Tidak mungkin lembaga yang tidak dipercaya ini menggelar Sidang Istimewa yang secara efektif bisa menurunkan Soeharto. Mereka semua masih taat dan takut sama Soeharto. Tidak juga bisa berharap kepada partai politik.

Demikianlah, untuk menerobos kebuntuan itu, pada 16 Mei malam, Mbah Nun beserta Cak Nur, Malik Fajar, Oetomo Danandjaya, dan Drajat rapat merumuskan empat prosedur turunnya Soeharto dengan pertimbangan empat prosedur ini dapat meminimalisasi korban, terutama di pihak rakyat dan mahasiswa, serta efektif secara kenegaraan.

Kemudian esoknya pada 17 Mei 1998, Mbah Nun bersama empat tokoh tersebut menggelar konferensi pers di Hotel Wisata Jakarta untuk menyampaikan dan meminta agar Pak Harto segera turun dari jabatan.

18 Mei 1998, di luar dugaan, atas permintaan Mbah Nun dan empat tokoh ini, Mensekneg Saadillah Mursyid mau dan memberanikan diri untuk menyampaikan usulan serta mekanisme lengser yang telah dirumuskan tadi. Ternyata Pak Harto menyatakan bersedia dan setuju, tetapi meminta ditemani dalam proses turun dari jabatan Presiden. Ini adalah satu tahap krusial yang telah terlampaui dengan baik.

Untuk memberi gambaran situasi ini, Mbah Nun menyitir sebuah ungkapan dari pesantren. Man yualliqul jaros. Silakan dicari sendiri artinya. Intinya, siapa yang mau dan bisa menemui langsung kepada Soeharto yang notabene orang yang masih berkuasa penuh untuk meninggalkan kekuasaannya.

Maka, pada 18 Mei itu, pukul 20.00, Pak Harto menelepon Mbah Nun dan Cak Nur. “Mohon kita ketemu besok untuk menyiapkan agar lengsernya saya tidak menimbulkan guncangan dan korban.”

Tanggal 19 pagi mereka bertemu di Istana. Mbah Nun pinjam sepatu Pak Bahriman, sekarang Guru SMA Muhammadiyah Denpasar, yang saat itu setia menemani Mbah Nun dalam situasi krisis dan genting Reformasi. Pak Harto minta 5 orang ini dilengkapi menjadi 9 orang dari para sesepuh, termasuk KH Ali Yafie dan Gus Dur. Mbah Nun dan Cak Nur meneguhkan saran agar Pak Harto turun dari jabatan Presiden. Pak Harto tertawa lebar ketika Mbah Nun berempati dengan mengemukakan, “Pak Harto tidak jadi Presiden kan “ora pathèken”. Wong sudah 32 tahun menjabat. Cak Nur menambahkan: “Bukan hanya ora pathèken, tapi sudah tuwuk.” Itu bahasa Jombang untuk “sangat puas sampai hampir bosan”.

Begitulah, teman-teman, permintaan dan perumusan prosedur turunnya Pak Harto yang dilakukan Mbah Nun dan empat orang tadi telah diterima oleh Pak Harto. Sebagai proses pembelajaraan kita, kita perlu mengembangkan imajinasi bahwa situasi saat itu yang dilanda semangat besar menurunkan Soeharto menyisakan beberapa hal penting yang tak sempat dipikirkan. Misalnya, kalau Soeharto sudah turun siapakah yang menggantikannya? Apakah orang yang masih dari Orba yang jelas berada posisi tidak Reformasi? Ataukah bagaimana?

Semua orang saat itu tampaknya terfokus hanya pada Soeharto turun, tapi bagaimana tahap setelahnya, tampaknya tak banyak terdengar rumusannya dari para tokoh lain, baik aktivis maupun para mahasiswa. Apa yang diformulasikan Mbah Nun bersama empat orang tadi, dalam konteks ilmu politik sangat patut kita catat karena mengisi celah besar itu. Kita sebagai anak-cucu Mbah Nun perlu belajar lebih dalam mengenai hal ini. Untuk pembelajaran itu, Mbah Nun sejak saat situ sudah menyiapkan tulisan yang telah terhimpun menjadi buku Mati Ketawa Cara Refotnasi dan Saat-saat Terakhir Bersama Soeharto: 2,5 Jam di Istana. Baca dan dalamilah buku itu.

Buku Cak Nun