Kun Fayakun Menggema di Stadion Gelora Bung Tomo

Kehadiran Mbah Nun sangat penting buat Persebaya dan para pendukungnya, Bonek-Bonita. Beliau sebagai orang tua dinantikan barokah doanya. Salah satu doa khusus yang dimintakan oleh Azrul Ananda, Presiden Persebaya, adalah agar pada 2020 ini Persebaya tidak dijauhkan dari para pendukungnya. “Supaya kita merasakan kejayaan itu di sini,” harapnya.

Mbah Nun sejenak kemudian membawa semua Bonek Bonita khidmat berdoa. “Aku wis tuwek ndek kene. Pokoke tak dongakno, tak surung seko mburi. Bismillah Ya Qawiyyu Ya Matin Ya Qawiyyu Ya Matin. Hayya ‘alas Sholah Hayya ‘alal Falah. Mari kita memasuki tahun kemenangan Persebaya di puncak klasemen di seluruh Republik Indonesia… kabeh Al-Fatihah,” ajak Mbah Nun.

Seluruh Bonek Bonita yang memenuhi Stadion Gelora Bung Tomo tadi malam segera membaca Al-Fatihah bersama. Sang Presiden Persebaya Azrul Ananda memejamkan mata dengan kedua tangannya bertangkup di wajahnya, khusyuk dan bersungguh-sungguh mengikuti doa Mbah Nun, memohon kepada Allah untuk terkabulnya semua harapan dan cita-cita Persebaya.

Sesudah bersama membaca Al-Fatihah, sebagaimana di puncak doa di Maiyahan, Mbah Nun meneriakkan tiga kali Innama amruhu idza aroda syai`an an yaquula lahu, dan langsung disambut gemuruh kun fayakun dari Bonek-Bonita dari semua penjuru tribun Stadion.

***

Seperti para personel KiaiKanjeng, tadi malam dalam event spesial dan penting bagi Persebaya dalam memasuki musim 2020 ini, bertajuk Mbonek Bareng Cak Nun: Noto Ati, Ngukir Prestasi, Mbah Nun diminta mengenakan kaos Persebaya berwarna hijau dan bertuliskan “Wani” yang merupakan kata Satu Nyali-nya Persebaya dan Bonek-Bonita.

Di panggung KiaiKanjeng di depan ratusan ribu Bonek-Bonita, Mbah Nun duduk di kursi ditemani Azrul Ananda, Kapoltabes Surabaya Kombespol Sandi Nugroho, dan Danrem Bhaskara Jaya Kolonel Inf. Sudaryanto. Beliau mengenakan peci Maiyah merah putih. Di panggung itu pula, Mbah Nun memandu Sinau Bareng, memandu tahap-tahap Bonek dan Bonita menemukan formula semangat yang diambil dari nilai-nilai hidup yang mendasar. (Helmi Mustofa)

Buku Cak Nun Majalah Sabana