Kalian Perenang di Kedalaman

Avatar

Sinau Bareng merangsang jiwa komunalitas, keguyuban, kerekatan, dan itu tak pudar oleh guyuran hujan. Malahan sebaliknya, makin mengental. Lokasi yang sejak sore diberkahi hujan yang tak kunjung berhenti sampai menjelang Sinau Bareng dimulai, bahkan mungkin satu jam pertama masih juga belum reda, justru menjadi spot yang dipenuhi ekspresi-ekspresi kesetiaan kepada proses dan berlangsungnya Sinau Bareng.

Militansi mencari ilmu juga dapat kita rasakan. Dalam situasi masih terbalut hujan, Mbah Nun bertanya apakah mau yang mendalam-mendalam ataukah yang dangkal-dangkal saja kepada mereka saat mengawali Sinau Bareng tadi malam. Mereka menjawab, yang mendalam. Mbah Nun justru ambil titik tengah: mendalam pas harus mendalam, dangkal pas memang waktunya dangkal.

Itulah salah satu suasana Sinau Bareng tadi malam, Jumat, 21 Februari 2020, di Pondok Pesantren Segoro Agung Sentonorejo Trowulan Mojokerto dalam rangka memeringati milad ke-6 ponpes tersebut. Shalawat “Asghil” yang cukup populer dihadirkan sebagai pembuka dengan aransemen KiaiKanjeng dan itu bukan sekadar pembuka melainkan juga pengguyub dan penguat satu sama lain pada semua jamaah yang hadir.

Awal tahun 80-an, dalam Jurnal Pesantren, Mbah Nun pernah menulis esai panjang berjudul “Tasawuf, Akar Budaya Jamaah”. Kurang lebih 35 tahun kemudian, yaitu tadi malam, sebagai satu contoh, apa yang ditulis Mbah Nun dapat memberi perspektif. Kekentalan suasana kejamaahan tadi malam tampaknya tidak mungkin terjadi kalau tidak karena dorongan-dorongan tasawufi, kendatipun tidak selalu mereka sadari atau bisa mereka ungkapkan secara formal konsepsional. Apalagi, tema tadi malam adalah Sangkan Paraning Dumadi. Tema yang sangat bernilai tasawuf. Dan mereka yang menyimak, dalam guyuran hujan itu, menariknya, adalah anak-anak muda.

Menariknya lagi tentu adalah tema Sangkan Paraning Dumadi yang tasawufi itu disampaikan Mbah Nun dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, sehingga mereka pun tak sadar bahwa mereka sedang berenang di suatu kedalaman akan hal-hal mendasar dari hidup ini. Persis seperti yang dikatakan Mbah Nun tadi malam, jika kalian memilih yang mendalam-mendalam, berarti kalian jago berenang dalam kehidupan. (hm)

Lainnya

Mbah Nun Ta’ziyah Meninggalnya Gus Sholah

Nandur Katresnan

Sinau Laku Hidup Secara Malaikat

Karena Hidup Kita Harus Bergembira

Dialog Ini Namanya Sinau Bareng

Buku dan Merchandise