Tidak terbayang apa yang ada di benak Anwar Ibrahim ketika saat itu, 18 Mei 2011, usai beliau mengisi sebuah acara di Yogyakarta tiba-tiba meminta kepada panitia untuk bisa sowan kepada Cak Nun. Padahal tidak ada agenda bertemu Cak Nun dalam rangkaian acara Anwar Ibrahim di Indonesia.

Juga sulit menyangka Anwar Ibrahim yang dikenal secara internasional dari negeri seberang, jauh-jauh dari Malaysia di sela-sela acara resminya di Indonesia mendadak menemui Cak Nun yang tidak kita bayangkan ada hubungannya dengan dia. Namun saat itu Anwar Ibrahim merasa perlu bertemu Cak Nun untuk bertukar pikiran dan meminta pendapat.

Pengalaman perjalanan kiprah politiknya panjang. Mulai dari menjabat beberapa pos menteri dalam kabinet Mahathir Mohamad sejak 1984 hingga puncaknya sebagai Wakil Perdana Menteri. Tinggal selangkah lagi Anwar Ibrahim menjadi Perdana Menteri Malaysia, dan ia “putra mahkota” kesayangan Mahathir yang memang disiapkan untuk posisi itu.

Namun Tuhan punya skenario lain. Dan tidak ada kawan abadi di politik Malaysia. Anwar Ibrahim tahun 1998 dipecat Mahathir. Kemudian dituduh korupsi dan melalui sidang yang kontroversial ia divonis penjara enam tahun ditambah tuduhan melakukan sodomi.

Tahun 2011 ketika datang ke Kadipiro, ia sudah dibebaskan dari penjara dan kembali ke politik sebagai Pemimpin Oposisi di Parlemen Malaysia.

Anwar Ibrahim sangat senang bisa berdiskusi banyak tentang politik global dengan Cak Nun. Dan dalam diskusi itu, salah satunya, Cak Nun menyatakan bahwa seorang Anwar Ibrahim dengan karir politiknya yang panjang dan sebagai seorang pemikir muslim bisa berbuat banyak untuk Islam dan dunia. (jj)

Cak Nun dan Datuk Anwar Ibrahim