Bersama Prof. Dr. Arief Budiman

Sebelum beracara di kampus IAIN Salatiga, Cak Nun menyempatkan diri menjenguk ilmuwan dan sosiolog senior Indonesia, Prof. Dr. Arief Budiman di Salatiga. Semasa Orde Baru, Arief Budiman adalah salah satu tokoh di mana, bersama sejumlah tokoh terkemuka Indonesia lainnya, Cak Nun berdialektika dalam mengkritisi kondisi Indonesia. Sering Cak Nun dan Arief Budiman terlibat dalam pemikiran keindonesiaan lewat forum-forum diskusi, seminar, pernyataan bersama, maupun melalui dialog-tulisan di media massa.

Pak Toto Rahardjo menceritakan, ketika Cak Nun menjadi saksi yang meringankan untuk Bambang Isti Nugroho, yang diadili karena tuduhan hendak mendirikan negara komunis di zaman Orde Baru, Cak Nun bicara lantang di Gedung Pengadilan bahwa, “Mestinya yang ditangkap itu bukan Isti tapi dedengkotnya, yakni Arif Budiman dan Emha Ainun Nadjib.”

Dalam kecintaannya kepada Indonesia, sebagai ilmuwan sosial sekaligus aktivis, tak banyak yang mencatat bahwa sesekali Arief Budiman juga turut berbicara tentang topik-topik keislaman di Indonesia. Anda bisa membacanya di antaranya dalam buku yang diangkat dari diskusi di Jawa Pos berjudul Mencari Ideologi Alternatif dan Islam Demokrasi Atas Bawah. Malam ini, Cak Nun menjenguk Prof. Arief Budiman, memeluknya hangat, dan mendoakannya.