Pada festival Lima Gunung tahun 2017, seorang seniman dari Komunitas Lima Gunung membuat patung burung Garuda. Tingginya kurang lebih tiga meteran, dan lebar sekitar lima meter. Ini ukuran yang jauh lebih besar dari gambar garuda yang ada di ruang kelas atau di kantor-kantor, pun dimensinya berbeda. Aura atau wibawa Garuda itu pun jadi lebih terasa.

Sang seniman membuatnya dari damen dan pang-pang pohon yang telah mengering, termasuk pohon lombok, dan kerangkanya dari bambu. Keberadaannya menjadi salah satu pemandangan karya yang ada di antara karya-karya lain yang dihadirkan dalam Festival Lima Gunung yang ke-16 ini.

Tatkala malam tiba, pencahayaan atau sorot lampu sekitar area utama acara memberikan visualitas yang artistik. Entah apa yang ada dalam gagasan dan imajinasi si seniman, sehingga memilih membuat garuda ini yang membuatnya lebih dari sekadar karya seni. Mungkin dia punya pikiran yang hendak disampaikannya.

Juga entah apa yang terlintas dalam pikirannya, ketika Mbah Nun usai menyampaikan “obrolan” dalam pengajian Mari Goblig Bareng itu, dia menghampiri Mbah Nun dan mengajaknya naik ke atas burung Garuda itu. Setengah berlari penuh semangat Mbah Nun ketika naik, pun pada saat turun.

Di atas burung Garuda yang ia rajut dengan tangannya itu, sang seniman dan Mbah Nun mengangkat tinggi tangannya dan melambaikannya, seperti mengajak garuda ini dan orang-orang di situ untuk terbang tinggi. Seperti Mbah Nun yang selama ini mengajak semua anak bangsa Indonesia mengenal jati dirinya, asal-usulnya. Mengenal siapa Garuda, agar memiliki ilmu yang benar tentang Garuda. Mbah Nun mengajak untuk berpikir semisal Garuda yang menjadi lambang negara kita itu apakah enis burung atau nama burung, apakah ia jantan atau betina, dan mengapa Garuda Menebus Ibu Pertiwi. Karena ketepatan pemahaman akan Garuda akan menentukan arah perjalanan bangsa Indonesia ke depan. Kita diajak Mbah Nun menyadari bahwa bangsa ini adalah bangsa bermental Garuda, bukan bangsa bermental Emprit.

Bermental Garuda