Surat Kepada Kanjeng Nabi

Judul : Surat Kepada Kanjeng Nabi
Tahun : 2015
Penerbit : Mizan Pustaka

Buku ini telah mengalami banyak cetak ulang oleh Mizan, namun pertama kali dipublikasikan tahun 1996. Kalau hendak menengok kritik-kritik Cak Nun tahun 90-an, maka buku ini sangat cocok. Buku ini sebagian besar merupakan “gugatan” Cak Nun kepada kondisi sosial, ekonomi, budaya, maupun pendidikan di Indonesia. Pada era itu analis internasional acap menyebut Indonesia masuk transisi “lepas landas” yang diproyeksikan menjadi Macan Asia baru. Pada pusaran itu Cak Nun tak absen melontarkan gagasan kritis yang diamsalkan sebagai surat seorang Emha kepada Kanjeng Nabi. Cak Nun mengutip, “Di negeri kami ini, umatmu berjumlah terbanyak dari penduduknya. Di negeri ini, kami punya Muhammadiyah, punya NU, Persis, punya ulama-ulama dan MUI, ICMI, punya bank, punya HMI, PMII, IMM, Anshor, Pemuda Muhammadiyah, IPM, PII, pesantren-pesantren, sekolah-sekolah, kelompok-kelompok studi Islam intensif, yayasan-yayasan, mubalig-mubalig, budayawan, seniman, cendekiawan, dan apa saja. Yang tak kami punya hanyalah kesediaan, keberanian, dan kerelaan yang sungguh-sungguh untuk mengikuti jejakmu.”

Buku Cak Nun