CakNun.com

Puasa dan Fungsi Otak

dr. Eddy Supriyadi, SpA(K), Ph.D.
Waktu baca ± 3 menit

Berbagai ihwal yang berhubungan dengan puasa (Ramadlan) digali dengan berbagai cara dan di berbagai ajang disiplin ilmu. Mulai dari ilmu gizi, ilmu biokimia, ilmu sel, kedokteran olahraga bahkan sampai ilmu kejiwaan dan psikologi ikut membedah permasalahan puasa ini dihubungkan dengan disiplin ilmu masing-masing.

Saya tersentak ketika ada yang nyeletuk tanya, ”Apa hubungan antara puasa dengan kecerdasan? Apakah orang yang berpuasa serta merta akan menjadi cerdas?”

Saya hela napas dalam. Mempersiapkan jawaban agar pas, bisa diterima akal, dan semoga bisa diterima semua pihak. Saya akan berbicara dalam beberapa aspek kecerdasan.

Pertama, hubungan puasa dan kecerdasan bisa dilihat dari dua sisi yaitu sisi biologis (otak dan tubuh) dan sisi psikologis (cara berpikir dan kontrol diri).

Puasa mempunyai dampak biologis puasa pada otak. Saat berpuasa, tubuh beralih dari menggunakan gula ke lemak sebagai energi. Perubahan ini terjadi sesudah 12 jam kita berpuasa.

Kalau kita di Indonesia ini rata-rata berpuasa adalah 14 jam, maka pada saat berbuka, sebenarnya tubuh mulai bertransisi untuk menggunakan lemak sebagai ‘bensin’ dari tubuh. Nah, perubahan BBT (bahan bakar tubuh) dari gula ke lemak ini bisa memicu beberapa hal:

Pertama: proses autophagy yaitu proses “bersih-bersih” sel yang membantu kesehatan sel otak. Yang dibersihkan adalah sampah tubuh, sel yang sudah mati, sel yang tak berguna, bahkan juga sel kanker.

Kedua: terjadi peningkatan faktor pertumbuhan otak seperti BDNF (Brain-derived neurotrophic factor). Zat ini adalah protein dalam keluarga neurotrophin yang bertindak sebagai faktor pertumbuhan untuk otak dan sistem saraf pusat, sering disebut sebagai “nutrisi” atau “pupuk” bagi sel otak.

BDNF sangat penting untuk kelangsungan hidup, pertumbuhan, diferensiasi, dan plastisitas neuron (sel saraf). Fungsi dan peran utama BDNF adalah mendukung pembentukan, perkembangan, dan kelangsungan hidup neuron, khususnya di hipokampus, korteks, dan otak depan.

Zat ini juga berperan dalam memperkuat koneksi antar neuron (sinapsis), yang sangat penting untuk pembelajaran dan memori jangka panjang. Neurogenesis: Membantu dalam pembentukan neuron baru dan dalam proses perbaikan saraf: Berperan dalam memperbaiki sel saraf yang rusak. 

Penurunan kadar BDNF dikaitkan dengan penurunan kemampuan belajar, memori, dan penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer, Parkinson, serta gangguan mental seperti depresi dan PTSD (Post Traumatic Stress–Disorder). Jadi zat ini sangat berhubungan dengan memori dan belajar.

Ketiga: kadar gula darah menjadi lebih stabil yang berakibat pada beberapa orang merasa lebih fokus. Beberapa penelitian menunjukkan pola makan seperti intermittent fasting dapat membantu menciptakan kejernihan mental pada sebagian orang, meski hasilnya berbeda-beda.

Kedua, puasa merupakan latihan fungsi eksekutif (kontrol diri).

Ketika kita berpuasa dengan benar, bukan hanya biologis dan fisik saja yang terdampak. Puasa juga melatih kemampuan yang berhubungan dengan kecerdasan non-akademik, seperti: menunda keinginan (delay of gratification), mengatur dan menata emosi serta disiplin. Kemampuan ini terkait dengan fungsi eksekutif otak, yang bersifat penting untuk pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.

Selain itu ada beberapa tinjauan kecerdasan yang lain selain IQ, yang dihubungkan dengan puasa, yaitu:

Kecerdasan Emosional (EQ):

Puasa dalam aspek psikologis dan spiritual, puasa sering disertai refleksi diri, doa, atau meditasi. Aktivitas yang dilakukan ini bisa: menurunkan stres, meningkatkan kesadaran diri, membantu fokus mental.

Kondisi mental yang lebih tenang sering membuat orang merasa lebih jernih dalam berpikir. Pengendalian Diri: Menahan lapar, dahaga, dan amarah melatih emosi untuk tetap stabil dan sabar. Empati: Rasa lapar menumbuhkan empati sosial terhadap mereka yang kurang beruntung.

Kecerdasan Spiritual (SQ):

Ketakwaan: Puasa meningkatkan kesadaran akan pengawasan Allah (taqwa), yang memperhalus budi pekerti. Puasa juga membantu seseorang menemukan tujuan hidup yang lebih tinggi dan ketenangan batin.

Secara keseluruhan, puasa Ramadlan melatih manusia untuk mencapai keseimbangan antara pikiran, hati, dan jiwa, sehingga menghasilkan manusia yang sehat secara fisik, mental, dan emosional.

Yang bisa kita ambil dari paparan tadi adalah: Puasa tidak otomatis meningkatkan IQ, tetapi bisa mendukung kesehatan otak dan meningkatkan fokus. Selain IQ ada juga EQ dan SQ.

Hubungan puasa dan kecerdasan bisa dilihat dari dua sisi: biologis dan psikologis. Jadi bukan berarti puasa langsung membuat seseorang “lebih pintar”, tapi ada beberapa proses yang bisa mendukung fungsi otak.

R31447H

Lainnya

Jalan Baru Ekonomi Kerakyatan

Jalan Baru Ekonomi Kerakyatan

Rakyat kecil kebagian remah kemakmuran berupa upah buruh murah, dan negara kebagian remah kemakmuran berupa pajak.

Nahdlatul Muhammadiyyin
NM

Topik