Mocopat Syafaat Alhamdulillah

Kalau kita memandang diri sendiri, masyarakat, Indonesia, dunia, bahkan seluruh sejarah manusia, gampang sekali kita menemukan hal-hal yang salah, buruk, dan bikin gelisah. Tapi sebenarnya hal-hal yang baik juga ada di sana yang kita nikmati, kita setujui, dan kita syukuri.
Sejak kecil sampai dewasa, selalu ada dua-duanya, yang membuat kita mengucap astaghfirullah, dan yang membuat kita mengucap alhamdulillah.
Akan tetapi hari ini, untuk bisa sampai pada ucapan alhamdulillah, kita harus bekerja ekstra keras untuk meneliti, merenung, dan menghayati dalam-dalam.
Sementara untuk menemukan alasan mengeluh dan bersedih, kita tidak perlu mencari sama sekali. Bahannya berserakan di mana-mana, ke arah mana pun kita melangkah.
Artinya, menjadi pesimis itu murah dan mudah. Menjadi optimis dan tetap bersyukur itu mahal, dan harus diperjuangkan dengan melatih cara pandang yang penuh husnudzan atau sangka baik kepada Allah.
Kita memang tidak harus sehebat Mbah Kiai Alhamdulillah dari Pati, yang saking baik sangkanya kepada Allah, ia selalu menemukan kebaikan dalam keadaan seburuk apa pun.
Cukuplah kita ingat bahwa Allah tidak mungkin membiarkan ciptaan-Nya berjalan timpang. Dan manusia, dengan akal yang adil, hati yang bersih, dan jiwa yang utuh, bertugas menjaga keseimbangan itu, mulai dari dirinya sendiri, keluarganya, masyarakatnya, sampai negara dan dunianya.





