Kiamat sebagai Doktrin

Di sebuah ruang seminar di Amerika, seorang profesor fisika bernama Steven Starr pernah berbicara tentang sesuatu yang tak kasatmata: musim dingin nuklir. Ia terlibat dalam program pengendalian dan penanggulangan senjata nuklir pada era Ronald Reagan, ketika dunia masih terbelah oleh tembok ideologi dan tombol-tombol merah disimpan di meja para jenderal. Ia tahu, bukan dari dongeng, bagaimana satu hulu ledak bisa menghapus kota; bagaimana ribuan hulu ledak bisa menghapus musim.
Kita hidup dalam paradoks: senjata konvensional terus dipamerkan dalam perang-perang regional, tetapi bayangan sesungguhnya adalah nuklir—diam, tersimpan, menunggu. Ketika orang menghitung kemungkinan konfrontasi antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, kalkulasi militer sering terasa seperti permainan catur yang rasional. Tank melawan drone. Rudal dibalas rudal. Tetapi rasionalitas itu retak ketika nuklir disebut. Sebab nuklir bukan sekadar senjata; ia adalah metafora tentang akhir. Dengan puluhan ribu hulu ledak tersebar di bumi—milik negara-negara besar, termasuk Israel—kata “kiamat” tak lagi sepenuhnya teologis. Ia menjadi teknologis.
Namun manusia tak pernah puas dengan angka. Ketika statistik tak lagi cukup menjelaskan kecemasan, kita beralih ke mitos. Kita mengingat pelajaran agama masa kanak-kanak: tentang Dajjal, Imam Mahdi, dan Nabi Isa yang turun menjelang akhir zaman, bertemu di Yerusalem—kota yang sejak dulu lebih sering diperebutkan daripada dipahami.
Di titik ini, tafsir dan politik sering berpelukan secara gelisah. Nama-nama kontemporer diseret ke panggung eskatologi: konspirasi global, sindikat bayangan, tokoh-tokoh yang dipandang sebagai penyelamat atau penjahat kosmik. Imajinasi kita bekerja seperti “otak-atik gathuk”: mencocokkan nubuat dengan peta militer, menyulam ayat dengan laporan intelijen. Vladimir Putin dipandang sebagai figur apokaliptik oleh sebagian, sementara pemimpin Iran seperti Ali Khamenei dibaca dalam kerangka mesianistik oleh yang lain. Tapi barangkali yang bekerja di sini bukanlah wahyu, melainkan kecemasan kolektif.
Filsuf Jerman, Hans Jonas, pernah mengingatkan tentang “heuristik ketakutan”: bahwa dalam peradaban teknologi tinggi, rasa takut justru perlu dipelihara agar kita bertanggung jawab. Nuklir membuat manusia, untuk pertama kalinya, memiliki kapasitas eskatologis—kita bisa menciptakan kiamat tanpa menunggu trompet malaikat.
Di sinilah perbedaan antara iman dan strategi militer menjadi penting. Eskatologi agama berbicara tentang makna; strategi militer berbicara tentang daya hancur. Yang satu memberi pengharapan di ujung sejarah; yang lain bisa mengakhiri sejarah itu sendiri.
Maka pertanyaannya bukan siapa Dajjal atau siapa Mahdi dalam peta geopolitik hari ini. Pertanyaannya: mengapa kita begitu mudah mengubah konflik politik menjadi drama kosmik? Mungkin karena dalam dunia yang dipenuhi rudal hipersonik dan doktrin pre-emptive strike, kita memerlukan narasi yang lebih besar dari sekadar kalkulasi pertahanan.
Yerusalem tetap sebuah kota—dengan batu, debu, dan manusia biasa yang ingin hidup. Tetapi di atasnya, selama ribuan tahun, manusia menggantungkan langitnya sendiri. Dan nuklir, dengan segala dinginnya, mengingatkan kita: kiamat modern tak turun dari langit. Ia lahir dari laboratorium, dirawat dalam doktrin, dan disimpan dalam silo bawah tanah—menunggu keputusan manusia.
Barangkali justru di situlah eskatologi paling sunyi bekerja: bukan dalam penunjukan tokoh, melainkan dalam kesadaran bahwa akhir zaman selalu mungkin—dan karena itu, tanggung jawab selalu sekarang.
Mungkin yang paling berbahaya hari ini bukanlah hulu ledak yang tersimpan di silo-silo baja itu. Yang paling berbahaya adalah kesediaan kita untuk membayangkan kiamat sebagai sesuatu yang “pantas terjadi”—sebagai panggung terakhir tempat para tokoh besar menyelesaikan takdirnya.
Padahal, jika musim dingin nuklir benar-benar datang seperti yang pernah diperingatkan Steven Starr, ia tak akan memilih siapa Mahdi dan siapa Dajjal. Ia tak akan memilah yang saleh dari yang sinis. Ia hanya akan menurunkan suhu bumi, mematikan panen, dan membuat anak-anak yang tak tahu geopolitik ikut membayar harga. Di situ, semua tafsir akan membeku.
Kita boleh berbicara tentang nubuat, tentang Yerusalem, tentang kekuatan pre-emptive strike dan keseimbangan teror. Tetapi barangkali pertanyaan yang lebih mengganggu adalah ini: jangan-jangan kiamat bukan peristiwa yang menunggu kita di depan, melainkan pilihan yang perlahan kita normalisasi hari ini.
Jika demikian, akhir zaman bukanlah rahasia Tuhan. Ia adalah keputusan politik.
