CakNun.com

Epitaf di Tengah Gurun: Kematian Seorang Pemimpin dan Dendam yang Tak Selesai

Toto Rahardjo
Waktu baca ± 3 menit

Kita menyaksikan Timur Tengah seperti menyaksikan layar kaca: berpendar, berisik, dan tergesa-gesa. Nama-nama disebut dengan nada tinggi. Vonis dijatuhkan sebelum jeda. Seakan sejarah adalah potongan klip berdurasi tiga puluh detik.

Di sana ada seorang lelaki tua bernama Ali Khamenei.

Bagi sebagian orang, ia adalah simbol kerasnya sebuah rezim. Bagi yang lain, ia penjaga api revolusi. Tapi sejarah tak pernah sesederhana label. Sejarah adalah endapan waktu—dan waktu selalu lebih sabar daripada opini.

Ia lahir di Mashhad, kota ziarah yang religius dan padat oleh doa-doa yang menggema dari makam Imam Reza. Namun kesalehan kota tak menjamin kenyamanan hidup. Khamenei tumbuh dalam kemiskinan. Bukan kemiskinan yang romantik dalam puisi, melainkan kemiskinan yang membuat seorang anak belajar menahan lapar dan harga diri sekaligus.

Barangkali di sana mula rasa itu terbentuk: rasa curiga pada kemewahan, rasa pedih melihat jurang antara istana dan lorong sempit.

Kita lupa bahwa sebelum ia menjadi Rahbar, ia adalah tahanan. Di bawah rezim Mohammad Reza Pahlavi, polisi rahasia bekerja dalam sunyi. Sel-sel isolasi tak mengenal musim semi. Di ruang tanpa jendela itulah seorang pemuda belajar bahwa kekuasaan bisa berwajah dingin dan asing. Tubuhnya disiksa; pikirannya dipaksa bertahan.

Revolusi 1979 meledak bukan hanya oleh teori, tapi oleh akumulasi luka. Dan setelah revolusi, luka tak serta-merta sembuh. Tahun 1981, sebuah bom merobek lengannya. Tangan kanannya lumpuh. Sejak itu, tubuhnya menjadi arsip: ia membawa sejarah bukan hanya dalam pidato, tetapi dalam saraf yang tak lagi utuh.

Ketika perang dengan Irak berkobar pada dekade 1980-an, dan embargo menghimpit negeri itu, ia berada di pusat badai. Dunia Barat—yang bagi sebagian orang adalah janji modernitas—bagi dirinya adalah ingatan tentang intervensi dan pengkhianatan. Trauma kolektif bangsa itu bertemu dengan trauma personal seorang pemimpinnya.

Nietzsche pernah menulis bahwa ingatan adalah luka yang tak ingin sembuh. Tapi politik sering menjadikan luka sebagai kompas. Dalam diri Khamenei, pengalaman menjadi tafsir. Kecurigaan pada “asing” bukan sekadar slogan; ia adalah hasil sedimentasi dari penjara, ledakan, dan perang.

Apakah itu membenarkan setiap keputusan keras? Tidak. Sejarah menjelaskan, tetapi tidak selalu membebaskan. Namun tanpa memahami asal-usul luka, kita hanya akan melihat permukaan: retorika tanpa akar, ketegasan tanpa sebab.

Kita hidup di zaman ketika opini lebih cepat dari empati. Padahal, tokoh-tokoh besar—baik yang kita kagumi maupun kita cela—tidak pernah lahir dalam ruang steril. Mereka dibentuk oleh kemiskinan, oleh interogasi, oleh kematian kawan-kawan seperjuangan, oleh rasa dikhianati atau merasa dikepung.

Maka mungkin yang perlu kita tunda adalah hasrat untuk menghakimi dengan tergesa. Sejarah, seperti gurun, menyimpan jejak yang tak selalu terlihat dari udara. Untuk memahaminya, kita harus turun, berjalan, dan membiarkan pasir menempel di kaki. Di sana, di antara butir-butir luka itulah, keputusan-keputusan keras itu menemukan asalnya.

Jika kemarin kita melihat sosok Khamenei sebagai figur sejarah yang dibentuk oleh penjara, oleh bom, dan oleh sebuah revolusi yang panjang, hari ini ia telah menjadi bagian akhir dari sejarah itu sendiri — dibunuh bukan oleh musuh internal, tetapi oleh kekuatan asing yang selama ini menjadi kutub kritiknya.

Kematian Khamenei adalah paradoks sejarah: ia tumbuh dari luka masa kecil, dirajut oleh resistensi terhadap dominasi asing, dan berakhir oleh agresi yang dibebankan dari luar. Seperti yang pernah dikatakan Walter Benjamin, sejarah sering dibacakan oleh pemenang — tetapi sejarah juga ditulis oleh tragedi. Khamenei adalah sebuah peristiwa yang berulang: perlawanan yang berujung pada benturan, retorika yang berujung pada peluruhan tubuh, ideologi yang berujung pada kehancuran jasmani.

Ketika bom menutup hidupnya, dunia tidak berhenti sejenak untuk bertanya: apakah ini kemenangan atau hanya salah satu bentuk baru trauma sejarah?

Iran mengumumkan berkabung selama 40 hari. Di jalan-jalan Teheran, ada yang menangis, ada yang takut; di sisi lain, ada juga yang memandangnya sebagai akhir dari era kekuasaan yang represif. Tensi global meningkat, pasar energi berguncang, dan negara-negara di kawasan bersiap menghadapi kemungkinan konflik yang lebih luas.

Dalam konteks humaniora, kematian seorang pemimpin bukan sekadar laporan berita — ia adalah epitaf yang dibaca oleh generasi. Epitaf itu tidak hanya mencatat kapan ia lahir dan di mana ia mati, tetapi apa yang dunia katakan tentangnya ketika ia tiada. Adakah ia dikutuk, diimani, ditakuti, atau dilematis, semua itu adalah fragmen dari ingatan kolektif.

Pertanyaannya kini bukan lagi “mengapa ia dihabisi?” melainkan “apa yang akan dilakukan generasi yang mewarisi luka ini?” Ketika trauma masa lalu menjadi alasan untuk aksi kekerasan baru, kita duduk pada lingkaran setan sejarah: di mana setiap pembalasan membawa dendam lebih dalam lagi.

Sejarah, seperti gurun yang pernah menempanya, kini berdiri di hadapan kita dengan pertanyaan yang lebih sunyi: apakah kita memahami trauma bukan sebagai takdir, tetapi sebagai tanda — bahwa kekerasan itu sendiri harus dipahami, lalu dihentikan?

Kematian Khamenei adalah akhir sebuah bab, tetapi juga awal dari seluruh teka-teki baru yang tak kalah berat untuk direnungkan. Karena ketika tubuhnya berdiam dalam tanah sejarah, ingatannya bergaung di medan konflik yang kini tak lagi mengenal jeda.

Toto Rahardjo
Pendiri Komunitas KiaiKanjeng, Pendiri Akademi Kebudayaan Yogyakarta. Bersama Ibu Wahya, istrinya, mendirikan dan sekaligus mengelola Laboratorium Pendidikan Dasar “Sanggar Anak Alam” di Nitiprayan, Yogyakarta
Bagikan:

Lainnya

Jalan Baru Ekonomi Kerakyatan

Jalan Baru Ekonomi Kerakyatan

Rakyat kecil kebagian remah kemakmuran berupa upah buruh murah, dan negara kebagian remah kemakmuran berupa pajak.

Nahdlatul Muhammadiyyin
NM

Topik