CakNun.com

Bulan Hard Reset

dr. Eddy Supriyadi, SpA(K), Ph.D.
Waktu baca ± 3 menit

Ketika sedang membuka laman Instagram, lewatlah cuplikan pengajian Cak Nun di suatu saat dalam satu reel sekian puluh detik saja. Cuplikan tersebut tentang penyambutan bulan Ramadlan.

Iki lho arek-arek lagi seneng.. jare Marhaban Yaa Ramadhan, selamat datang Ramadlan dengan suka ria.” (Ini lho teman-teman ini sedang bersuka ria menyambut Ramadlan tiba’.)

Temenan seneng ta rek? (‘beneran seneng niih?…),” lanjut Cak Nun.

”Kalau segala hal yang dengan sukacita dilakukan oleh umatnya, maka Allah pasti tidak akan berfirman:    

‘Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa’.”

Namun di sini ada kata ‘diwajibkan’ di dalam Firman itu, berarti suka atau tidak suka, puasa harus dilakukan.

Mosok biasanya pagi-pagi adalah waktu yang sangat pas dan nyaman untuk menikmati secangkir kopi hitam dengan nyamikan bakwan tahu atau mendoan, lha kok ini disuruh puasa. Siang hari di tengah-tengah kesibukan kerja, untuk ‘break’ sejenak biasanya nyruput es teh, sambil menyelesaikan pekerjaan, dan sesuatu yang wajib disruput sesudah makan siang, lha kok ini disuruh menahan untuk tidak melakukan sesuatu yang kita sukai dan sekaligus melakukan sesuatu yang tidak disukai (puasa). Lha pasti kenyamanan menjadi terganggu dong.

Kecuali kalau kalau kita benar-benar cinta dan pasrah kepada Allah.

Kita melakukan puasa Ramadlan tetapi mungkin yang terjadi adalah hanya pergeseran jam makan, sebagaimana sang jenaka, penyair, dan sekaligus filsuf Abu Nawas berkata bahwa puasa yang dijalani kebanyakan umat Islam hanya sedang memindahkan jam makan (dan malah menambah volume serta macamnya).

Kemudian dia bilang bahwa banyak dari kita yang merasa jadi suci hanya karena menahan lapar, padahal pada saat bersamaan, jiwa kita sedang berpesta pora menyantap nafsu duniawi yang busuk.

Saya tidak sedang membicarakan sosoknya, tetapi yang saya kutip adalah kata-kata dan kalimatnya.

Di awal-awal bulan Ramadlan, semua yang berpuasa sedang ‘macak’ lesu, lemas dan bibir kering. Di lain pihak, kita juga sedang melihat beberapa pihak yang sedang membagi-bagikan sedekah dengan wajah angkuh, seolah dia sedang membeli kunci surga dengan sedekah yang dia berikan. Padahal mereka memberi ‘sedekah’ tersebut tidak lupa diabadikan oleh tim dokumentasi yang kemudian dalam waktu sekejap, pembagian ‘sedekah’ sudah tayang di banyak platform media sosial.

Pada saat bersamaan kita sedang melihat beberapa orang saling memamerkan seberapa lapar dan dahaga mereka. Ini adalah sebuah tragedi yang dibungkus ritual yang dikerjakan berulang-ulang dengan model yang selalu sama.

Padahal Jalaluddin Rumi bilang bahwa maksud puasa agar kita bisa menutup pintu dunia, agar jendela langit terbuka lebar. Namun yang kita lihat adalah sebaliknya. Kenyataan yang ada adalah ‘tutup mulut dari nasi dan lauk pauknya, namun membuka hati lebar-lebar untuk amarah, kesombongan, dan cinta dunia’.

Banyak di antara yang menjalankan puasa tatapi sambat: kok lapar yaa, haus juga, apalagi kalau panas terik begini…. Kok lama ya tunggu Maghrib tiba…

Puasa sejati adalah sebuah perjalanan batin, sebuah pendakian menuju cahaya Tuhan.

Bayangkan jiwa kita adalah cermin. Namun cermin ini sekarang sedang kotor oleh kegelapan berupa keinginan nafsu dunia, kesombongan, amarah, dengki, iri, dan keinginan duniawi yang lain.

Lapar yang kita jalani sekarang ini bukanlah sebuah hukuman, melainkan kain penggosok debu, agar cahaya Tuhan, Nur Ilahi bisa terpantul di sana.

Puasa Ramadlan bisa menjadi sarana ‘turun mesin’, total overhaul untuk tubuh kita: raga dan jiwa, detoksifikasi: membersihkan racun tubuh dengan mengistirahatkan saluran pencernaan dan memecah racun yang tersimpan dalam lemak saat tidak ada asupan makanan.

Proses ini mengoptimalkan fungsi hati dan usus, serta memicu autophagy (daur ulang sel rusak). Pada saat sahur/berbuka mengkonsumsi makanan sehat, kaya nutrisi, berserat tinggi, serta mencukupi kebutuhan cairan. Agar kita tidak termasuk ke dalam golongan orang yang celaka karena hanya mendapat lapar dan dahaga saja.

Dengan puasa kita juga melakukan restart, bahkan hard reset agar kembali ke performa dan kondisi yang bersih, putih, dan suci.

Lapar diubah menjadi Cahaya, dahaga menjadi jalan pintas menuju makrifat.

Semoga…

R1-1447H

Lainnya

Jalan Baru Ekonomi Kerakyatan

Jalan Baru Ekonomi Kerakyatan

Rakyat kecil kebagian remah kemakmuran berupa upah buruh murah, dan negara kebagian remah kemakmuran berupa pajak.

Nahdlatul Muhammadiyyin
NM

Topik