CakNun.com

Bernafsu Puasa

Redaksi
Waktu baca ± 2 menit

Manusia hadir di hamparan semesta bukan sebagai kecelakaan kosmik, melainkan sebagai tajalli Allah. Kita diciptakan dari “Cipratan Cinta” Ilahi untuk memikul mandat ganda yang agung: sebagai Abdullah yang tunduk menghamba di hadapan-Nya, dan sebagai Khalifah yang “gagah berani” mengelola bumi dengan kasih sayang.

Dunia ini, dalam kacamata Maiyah, hanyalah laboratorium ujian sementara. Sebuah terminal transit untuk sekadar “mampir ngombe” (singgah minum). Kita tidak sedang membangun istana abadi di sini, melainkan sedang menanam benih-benih kebaikan, merajut nilai, dan menabung bekal ruhani untuk menempuh perjalanan pulang menuju kampung halaman sejati di keabadian. Menjalankan laku Sangkan Paraning Dumadi–innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun.

Untuk menempuh perjalanan yang terjal dan penuh tikungan ini, Allah tidak membiarkan kita berjalan dengan tangan kosong. Dia membekali manusia dengan sangu kendaraan terlengkap. Mobilnya adalah Tubuh. Mesinnya adalah Nafsu (energi). Setirnya adalah Akal (pengarah teknis). ​Sopirnya adalah Hati (pemimpin). Bensinnya adalah Makanan/Rezeki. ​Petanya adalah Al-Qur`an.

Mobil yang paling cepat bukanlah yang mesinnya paling besar, tapi yang remnya paling pakem. Tanpa rem, kecepatan adalah kehancuran. Puasa adalah rem itu. Namun, meski sudah memiliki rem, kecelakaan hidup masih bisa terjadi ketika “Mesin” (Nafsu) mengambil alih setir, atau “Setir” (Akal) mengabaikan Peta, sementara “Sopir” (Hati) tertidur lelap.

Puasa–sebuah seni mengerem–juga memiliki batas. Puasa pun harus Imsak. Hanya hingga maghrib tiba. Karena bila kita lanjutkan puasa melewati batas itu, selebihnya hanya nafsu.

Maka dari itu, Mbah Nun mengajak kita untuk waspada. Bahkan terhadap puasa itu sendiri. Apakah puasa memang teknologi pengendali yang memastikan kita memegang kendali penuh atas “gas” nafsu. Atau malah justru sebaliknya, menjadi bernafsu ngelakoni–yang katanya sih–puasa dan puasa sungguhan.

Lainnya

Rahmatan lil ‘Alamin-nya Mannna?

Rahmatan lil ‘Alamin-nya Mannna?

Setelah diawali dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an dan lantunan beberapa sholawat, Cak Nun langsung naik ke panggung bersama dengan beberapa sahabat-sahabat lama yang aktif di Persada Studi Klub (PSK) yang dua hari sebelumnya mengadakan acara peringatan 47 tahun PSK di Rumah Maiyah Kadipiro.

Kenduri Cinta
Kenduri Cinta

Topik