CakNun.com

Litaskunu Fii Maiyah, Menemukan Ketentraman di Maiyah

Kenduri Cinta edisi Mei 2024
Dok. Kenduri Cinta

Shohibu Baity menjadi pamungkas gelaran Kenduri Cinta edisi Mei 2024. Sebuah ritual yang selalu dilakukan beberapa bulan belakangan, setelah rilis resmi dari Koordinator Simpul Maiyah dan Progress Management agar setiap Simpul Maiyah memuncaki Maiyahan dengan Shohibu Baity. Sebuah nomor mistik yang mengantarkan kekhusyukan, memuncakkan kepasarahan serta pengharapan kepada Allah, sebagai tuan rumah dalam diri kita sendiri.

Spirit Shohibu Baity menjadi salah satu pondasi kuat bagi Jamaah Maiyah. Pada setiap bait lirik syairnya, kita menemukan ketentraman tersendiri saat menyelami relung maknanya. Mbah Nun tidak main-main saat menulis lagu ini. Konon, lagu ini dibuat dalam waktu singkat, dan direkam secara langsung pada waktu yang sama di Kadipiro. Rekaman yang juga bisa kita temukan dalam berbagai platform audio saat ini adalah rekaman live, satu kali take, yang kemudian dirilis.

Istiqomah. Penggiat Kenduri Cinta mencoba untuk istiqomah pada perilaku yang mungkin tidak sulit. Sesederhana untuk istiqomah dalam memuncaki Maiyahan setiap bulan dengan Shohibu Baity. Saat Wirid Wabal dirilis oleh Mbah Nun, penggiat Kenduri Cinta pun istiqomah membuka Maiyahan dengan melantunkan Wirid Wabal tersebut. Berlangsung hingga sekitar 3 tahun. Kalau istilah teman-teman penggiat; gondelan ijazah’e Mbah Nun.

Dok. Kenduri Cinta

Terserah apapun istilahnya. Pada prosesnya, Maiyah sebagai sebuah komunitas tetap memerlukan padatan untuk memacu kreativitas. Dengan kreativitas yang dipacu untuk terus diasah dan diolah, maka akan lahir sebuah inovasi. Inovasi itu tidak melulu soal teknologi. Inovasi tidak selalu berkaitan dengan Artificial Intelligence. AI hanya satu dari bentuk inovasi. Toh pada akhirnya inovasi secanggih apapun tetap bergantung pada manusianya.

Begitu juga dengan Maiyah sebagai sebuah komunitas. Semua akan kembali kepada manusianya bagaimana mengkreatifi akal pikirannya untuk mengolah forum agar berlangsung. Bukan hanya berkesinambungan secara konsisten digelar. Namun juga bagaimana agar forum Maiyahan bulanan menjadi sebuah laboratorium pembelajaran, bukan hanya berbagi ilmu, tetapi juga berbagi kebahagiaan, berbagi senyum, berbagi keindahan. Maka kita menyadari bahwa Maiyah adalah sebuah panggung dengan seribu podium. Maiyah menjadi panggung bagi siapa saja yang datang. Narasumber yang hadir hanya sebagai pemantik saja. Interaksi dengan Jamaah Maiyah sebetulnya adalah sebuah wahana ilmu yang luar biasa, bagaimana setiap Jamaah berhak untuk bertanya kepada narasumber. Bahkan bukan hanya bertanya, mengungkapkan ketidaksetujuan atas wacana yang dipaparkan pun tidak menjadi soal.

Di Maiyah, demokrasi betul-betul diberlakukan. Tidak ada sekat di Maiyah, semua datang atas keinginan diri sendiri, duduk melingkar bersama, sinau bareng dan merasa memiliki atas forum itu. Semua menjaga kebaikan forumnya, semua mengusahakan keindahan forumnya, dan semua menemukan kebenaran dari forum itu sendiri, yang kemudian dibawa kembali ke rumah masing-masing. Menjadi bekal bagi setiap individu.

Lainnya