CakNun.com

Lebaran Sita

Photo by Mufid Majnun on Unsplash

Lebaran sebentar lagi
Berpuasa sekeluarga
Sehari penuh yang sudah besar
Setengah hari yang masih kecil
Alangkah asyik pergi ke masjid
Shalat Tarawih bersama-sama

Lirik lagu Bimbo mengalun pelan terdengar sayup di antara riuh aktivitas harian pagi ini. Ada perasaan yang bercampur aduk dengan mendengar lagu tadi. Bukan saya saja yang merasakannya, tetapi orang-orang di sekeliling saya turut berkomentar tentang lagu tadi. Ada yang bersorak gembira.

“Yeeeeay… sebentar lagi lebaran, makan ketupat lebaran dengan opor ayam daaan… tidak puasa lagi.”

Ekspresi kegembiraan terbebasnya dari ‘kewajiban’ (baca: beban) berpuasa di bulan Ramadhan tergambar jelas. Seakan puasa di bulan Ramadhan menjadi semacam karung berat yang dipanggul kemana-mana setiap hari. Puasa yang (sekadar) berarti menahan lapar dan dahaga ‘terpaksa’ harus dilakukan.

Saya bertanya kepada teman-teman perawat dengan pertanyaan yang sama. “Lebaran sebentar lagi tiba, dan Ramadhan sebentar lagi pergi, bagaimana perasaan kalian?”

Ada yang terdiam menunduk sembari bergumam, “Yaaaahh.. Ramadhan sudah mau pergi lagi.”

Ada yang bimbang, “Antara senang dan sedih sih…. Tapi bingung juga menjawabnya.”

Yang jelas para ‘guru guruku’ selalu ingin lebaran di rumah, di kampung, ketemu sanak saudaranya. Mereka kebanyakan tidak mau menikmati suasana lebaran di Rumah Sakit, menjalani kemo dengan berbagai macam rasa dan efek sampingnya.

Saya dan teman teman saya akan berusaha mengakomodasi keinginan mereka, para ‘guru-guru’ saya. Padahal jadwal kemoterapi sudah disusun dengan rapi, diusahakan untuk tidak maju atau mundur dari jadwal yang sudah ditetapkan. Akan tetapi ‘Lebaran’ atau ‘Idul Fitri’ merupakan sesuatu yang sangat bernilai. Semua insan muslim tak terkecuali, tua-muda, laki-perempuan, besar-kecil, nenek-kakek, ibu-bapak, desa-kota tidak ingin melewati hari itu dengan berdiam diri di rumah, apalagi harus berada di rumah sakit.

Tetapi bagi yang sangat menderita dan sangat ‘sakit’ maka tidak ada pilihan untuk ‘ngamar’ di Rumah Sakit, dan kami pun akan menemani dengan ikhlas serta riang gembira. Rasanya teman-teman di bidang medis apakah dokter, koas, sampai residen, ada yang lebih banyak menjalani Idul Fitri dengan jaga di RS. Tentu ada perasaan dan suasana yang ‘hilang’.

Alhamdulillah mereka ini selalu diberi kesehatan, sehingga bisa menemani mereka yang sedang mondok di RS, menjalani pengobtan sebagaimana mestinya.

Bukan mereka saja yang menjalaninya, menikmati lebaran di RS, ada pula teman-teman apoteker, satpam, cleaning service, koas, residen, fellow dan semua yang terlibat selalu stand by mendampingi mereka yang perlu didampingi.

Saya jadi ingat kenangan beberapa tahun silam, pas lebaran gini, pas jaga, tiba-tiba ada saja yang datang dengan membawa rantang yang berisi opor ayam, ketupat dengan segala perlengkapan hidangan lebaran.

Saya masuk ruangan di mana Sita dirawat, di tangannya sudah siap lembar protokol pengobatannya. Sita adalah ‘guru’ saya yang sudah kesekian kali menjalani pengobatan. Usianya sudah menginjak remaja. Keinginannya sudah mulai banyak sesuai dengan usianya. Banyak pertanyaan kritis muncul darinya. Saya pun bersiap menerima curhat-curhatnya.

Ndhuk… kok kowe mesam mesem ono opo?” Tanya saya. (Neng kamu senyum-senyum ada apa?)

Ibunya yang juga seorang perawat di Puskesmas yang sedang duduk di samping bed-nya hanya diam dan sudah tahu bagaimana perangai anak gadisnya ini. Sepertinya si Ibu tahu apa yang akan ditanyakan si bocah yang lahir dan besar di kaki gunung Lawu yang sangat sejuk ini.

“Emang enggak boleh po senyum?” jawab Sita.

“Emang ada tanda – dilarang senyum – ?” balas saya.

Dia pun nyengir. Hari ini hari terakhir di siklus ini dan tampaknya semua OK OK saja sehingga pengobatan tahap berikutnya dilanjutkan minggu depan.

“Dok, aku mau nanya” lanjutnya sambil menunjukkan lembar protokol kemonya.

“Minggu depan kan jadwalnya masuk obat lag….”

“Hmmmm iya,” sahut saya sambil mengamati lembar protokol pengobatannya.

“Lab bagus, klinis bagus maka tidak ada alasan untuk menundanya, lagian kamu kan sudah pernah masuk obat itu…,” lanjut saya.

“Boleh engga mundur seminggu?” pinta Sita.

Belum sempat saya menjawab, Sita sudah bersuara lagi, “Minggu depan kan lebaran… Mosok aku lebaran di Rumah Sakit lagi. Lebaran tahun lalu dan sebelumnya aku selalu menjalani kemo di sini,” lanjutnya.

Saya hanya terdiam, membenarkan ucapannya dan sekaligus menunggu curhatnya lagi.

“Iya…,” jawab saya pelan.

“Boleh ya Dok,” pintanya sambil matanya mulai berkaca-kaca.

“Mau ngapain sih lebaran di rumah?” tanya saya

“Ahh kaya Dokter enggak tau aja. Ya lebaran pengen senang kumpul keluarga, ayah, ibu, nenek, kakek, adik adik, makan ketupat lebaran, ketemu teman-teman di kampung, sowan ke tetangga-tetangga, pokoknya meriahlah Dok lebaran di tempatku,” jawab Sita.

“Pakde saya yang dari luar negeri juga mau datang, sudah lama saya tidak ketemu, dan Pakde khusus datang menjumpai saya,” terus Sita.

Saya terdiam beku di antara mata saya yang tertuju pada protokol pengobatan dan permintaan Sita yang sangat sangat manusiawi. Menurutinya berarti akan memundurkan satu-dua siklus pengobatan dengan segala implikasinya. Sedangkan tidak menurutinya berarti membuatnya sedih dan bisa berakibat hilangnya semangat untuk tetap menjalani pengobatan. Pikiran yang kaku dan kolot sebagai orang medis yang sok tahu ditambah minimnya pengetahuan akan rahasia Allah tentang sehat dan sakit ini kadang akan berakibat munculnya arogansi.

“Mosok aku lebaran di sini lagi?”celetuk Sita membuyarkan lamunan saya.

Saya menatap gadis belia ini sambil tersenyum, “Kamu suka kalau lebaran di rumah?” tanya saya.

“Tentu saja!” jawabnya singkat.

Saya teringat kalimat dari guru saya, bahwa dokter itu ibarat seorang koki. Bila dia membuat masakan yang bernama ‘nasi goreng’ pasti ada bahan dan bumbu standar. Ada nasi, telur dengan bumbu bawang merah, bawang putih, garam dan kadang kecap.

Ada pula yang senang ditambah dengan udang, sayur, irisan bakso, kacang kapri, sosis dan lainnya sesuai dengan kreasi si koki. Cara masaknya pun berbeda-beda, ada yang telornya dimasak duluan campur dengan bumbu-bumbu, baru nasinya dimasukkan, ada pula yang telurnya dipecah di atas nasi yang sudah bercampur dengan bumbu.

Tidak ada masalah dengan semua variasi dan kreasi. Yang penting produk akhirnya adalah nasi goreng yang lezat.

Maka saya tatap Sita sambil bilang, “Pulanglah hari ini dan lanjutkan kemo sesudah lebaran.”

Seketika itu juga Sita mendekati serta langsung memeluk saya sambil pecah tangis gembiranya.

“Terima kasih, Dok, ” bisiknya pelan.

Sayup-sayup masih terdengar bait akhir lagu Bimbo tadi,

Lebaran sebentar lagi
Tak ada miskin, tak ada kaya
Semua sama di depan Tuhan
Yang berbeda cuma amalnya
Semua ingin Lailatul Qadar
Semoga kita mendapatkannya

R27.1445H

Lainnya

Angka

Angka

Sebelum acara malam itu dimulai, Cak Zakki mendekati saya untuk mengkonfirmasi hal-hal yang pernah saya ungkapkan beberapa saat yang lalu dan Cak Zakki butuh klarifikasi.

Memasuki Pasca Reformasi: Perubahan Tanpa Melukai

Memasuki Pasca Reformasi: Perubahan Tanpa Melukai

Untuk menuju ke dewasa dalam beragama dan dewasa dalam berpolitik kemanusiaan dan politik kebangsaan maka diperlukan kerendahan hati, keterbukaan pikiran, dan lapang dada seluas samudera ditambah cakrawala dalam menghadapi, membersamai, dan menemui perubahan fundamental yang sangat mungkin segera terjadi atau yang akan terjadi beberapa saat nanti.

Exit mobile version