CakNun.com

Ini Pergeseran Paradigma Model Apa?

Mengharukan sekaligus membuat dada terasa sesak. Bagaimana tidak: anak cucu Mbah Nun berhimpun di majelis mereka masing-masing untuk menghantarkan doa harapan, menyatakan cinta kasih di Milad ke-71 Guru Kami Semua.

Demikian pula Majelis Ilmu Padhangmbulan edisi Mei 2024, yang digelar beberapa hari menjelang Milad ke-71 Mbah Nun — tidak hanya menjadi ruang untuk menumpahkan kerinduan, tetapi juga menyajikan atmosfer dialog yang membuat air mata menetes.

Jelas sangat terasa anak cucu Maiyah tengah memendam rindu yang mendalam. Mereka rindu iringan shalawat yang mengantarkan Mbah Nun menuju panggung; rindu bahasa tubuh saat Mbah Nun menyapa jamaah; rindu spontanitas seloroh “dapurane arek-arek” yang lantas disambut sumringah oleh wajah-wajah yang sebelumnya terlihat muram.

Gumpalan-gumpalan rindu tercekat di tenggorokan. Kata-kata tidak mampu diucapkan. Dan sedetik kemudian seorang jamaah Padhangmbulan terbata-bata sesenggukan. Ia sudah menyiapkan audio wejangan Simbah di HP-nya. Ia nyalakan audio yang berisi suara Simbah lalu menyambungkannya dengan microphone. Ribuan jamaah Padhangmbulan terkesiap. Ruang mendadak senyap.

Ini fenomena jenis apa ketika seseorang yang menolak kebesaran, mencopot kemegahan, menanggalkan kemewahan — karena yang selalu Maha Lebih Besar hanya Allah Swt — justru dicintai dan dirindukan oleh anak cucunya? Ini gejala sosial budaya model apa ketika seseorang yang sangat tegas memotong tali-tali otoritas kepatuhan justru selalu dinantikan kehadirannya?

Ini gejala kepemimpinan transformatif model apa ketika ribuan orang yang berkumpul di hadapannya tidak dijadikan sebagai pijakan untuk tangga karier politik, misalnya mencalonkan diri menjadi anggota DPR atau Presiden? Ini tarekat sufi gaya apa ketika orang-orang yang berpotensi menjadikannya mursyid justru dibebaskan cara berpikirnya dari candu fanatisme?

Ini fakta manajemen dakwah teori dari mana ketika ribuan orang berkerumun untuk menyimak wejangan-wejangannya; ketika tata letak panggung, gaya komunikasi, dan lalu lintas dialog disuami-istrikan dengan sapuan musik shalawat dan itu menjadi tajdid model pengajian, yang diam-diam diadopsi oleh beberapa kalangan? Ini aura spiritual aliran apa ketika seseorang yang berani sangat tegas menyatakan dirinya bukan kiai, bukan guru, bukan mursyid justru menyala ilmunya di sanubari setiap orang yang mengaku muridnya?

Antara Tajdid, Anomali, dan Krisis Metode Dakwah

Mbah Nun menolak kebesaran dan otoritas formal dalam dakwah. Paradigma umum dalam banyak tradisi keagamaan adalah bahwa pemimpin spiritual sering kali menempati posisi otoritas yang diakui dan dihormati oleh pengikutnya. Namun, Mbah Nun menanggalkan otoritas tersebut, yang dalam paradigma dakwah konvensional bisa dianggap sebagai anomali.

Meski menolak kebesaran dan otoritas formal, Mbah Nun justru dirindukan dan dicintai oleh anak cucunya. Ini bertentangan dengan ekspektasi bahwa pengikut lebih tertarik pada pemimpin yang menampilkan otoritas dan kebesaran. Anomali ini menunjukkan ada sesuatu yang unik dan berbeda dalam cara Mbah Nun berinteraksi dengan Jamaah Maiyah.

Majelis Ilmu Maiyah yang memberikan ruang untuk musik shalawat, menata letak panggung yang intim, dan menjalin gaya komunikasi yang egaliter, berbeda dengan metode dakwah konvensional yang lebih formal dan struktural. Keberhasilan metode Sinau Bareng menimbulkan pertanyaan tentang keefektifan dan relevansi metode dakwah tradisional.

Musik shalawat, pembacaan puisi, penampilan teater rakyat dalam Sinau Bareng berfungsi bukan hanya sebagai hiburan tetapi juga sebagai medium spiritual. Dalam paradigma dakwah tradisional, penggunaan medium-medium itu sering kali dibatasi atau diatur secara ketat atau malah diharamkan agar sesuai dengan norma-norma keagamaan yang formal. Namun, Majelis Ilmu Sinau Bareng mengharmonisasi medium-medium itu sesuai konteks fungsinya masing-masing dalam maqamat yang tepat.

Ketepatan mengharmonisasi medium-medium itu menciptakan pengalaman sosial, budaya, dan spiritual yang kuat dan menyentuh hati jamaah. Fenomena ini menjadi anomali karena metode tradisional tidak memperhitungkan potensi penuh dari medium-medium itu karena dianggap berada “di luar urusan agama.”

Paradigma tradisional sering menggunakan tata letak panggung yang formal dengan pemisahan yang jelas antara pembicara dan jamaah. Sebaliknya, tata letak panggung yang intim dalam Majelis Ilmu Maiyah memungkinkan interaksi yang lebih dekat dan personal antara Mbah Nun dan arek-arek Maiyah. Ini menciptakan suasana keakraban dan kebersamaan yang berbeda dari dakwah konvensional. Pendekatan ini belum diakui secara luas dalam metode dakwah tradisional.

Mbah Nun menggunakan gaya komunikasi yang egaliter, tidak menempatkan dirinya di atas jamaah sebagai otoritas yang tak terbantahkan, tetapi lebih sebagai teman dan Simbah. Paradigma tradisional justru menempatkan dai atau ulama dalam posisi otoritas yang lebih tinggi, di mana interaksi lebih bersifat satu arah. Gaya egaliter yang ditampilkan Sinau Bareng menantang hierarki konvensional dalam relasi antara pemimpin spiritual dan jamaahnya.

Keberhasilan metode dakwah yang dijalani Majelis Ilmu Maiyah dalam menarik ribuan jamaah dan menciptakan ikatan emosional yang kuat menunjukkan bahwa paradigma dakwah tradisional mungkin tidak lagi sepenuhnya relevan atau efektif. Ketika model Sinau Bareng menunjukkan hasil yang positif dan lebih mampu memenuhi kebutuhan spiritual jamaah, ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang keefektifan metode tradisional.

Metode tradisional yang lebih formal dan struktural dinilai kurang mampu menjangkau dan menyentuh hati jamaah secara mendalam. Ketika jamaah lebih merespons metode yang lebih inklusif dan interaktif, krisis dalam paradigma tradisional muncul karena metode tersebut mungkin tidak lagi sesuai dengan dinamika sosial dan kultural masyarakat.

Ketika semakin banyak jamaah yang merespons metode Sinau Bareng Maiyah, hal ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi dalam cara mereka menerima dakwah. Paradigma metode dakwah tradisional yang tertatih-tatih menyesuaikan diri dengan preferensi ini semakin terlihat tidak memadai lalu memicu krisis yang mendorong pencarian model yang lebih sesuai.

Lantas, siapakah dia sesungguhnya? Budayawan, rohaniwan, sastrawan, ilmuwan, sejarawan, seniman? Jawabannya bisa ya, bisa tidak — bergantung pada keluasan atau kepicikan, kedalaman atau kedangkalan, kejernihan atau keruwetan dari cara berpikir, sudut pandang, dan lingkar pandang orang yang memandangnya. Bahkan ia lebih sunyi dari semua sangkaan itu.

Jombang, 4 Mei 2024

Lainnya