CakNun.com

DENOTASI KONOTASI

Mukadimah Kenduri Cinta edisi Juli 2024

Pernahkah kita berpikir bagaimana satu kata bisa mengubah arah sejarah? Kata-kata bukan sekadar kumpulan huruf, tetapi memiliki kekuatan yang luar biasa dalam membentuk pikiran, perilaku, dan bahkan peradaban manusia. Pemahaman terhadap makna kata, baik denotatif maupun konotatif, memainkan peran krusial dalam kehidupan kita sehari-hari.

Denotasi dan konotasi adalah dua konsep penting dalam linguistik yang memiliki dampak besar pada kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Denotasi merujuk pada makna literal dari sebuah kata, sedangkan konotasi adalah makna tambahan yang bersifat emosional atau asosiatif yang melekat pada kata tersebut. Kedua konsep ini memengaruhi cara kita berkomunikasi dan memahami dunia sekitar.

Denotasi adalah makna yang objektif dan langsung dari suatu kata, tanpa adanya tambahan makna lain. Contohnya, kata “rumah” dalam denotasi berarti bangunan tempat tinggal. Di sisi lain, konotasi adalah makna yang lebih subjektif dan bisa bervariasi tergantung pada pengalaman dan budaya individu. Kata “rumah” dapat memiliki konotasi yang berbeda seperti kenyamanan, keamanan, atau kebahagiaan. Seperti misalnya kalimat gombalan seorang lelaki kepada pujaan hatinya: “Kamu adalah rumah bagiku”. Aah, so sweet….

Penggunaan denotasi dan konotasi yang tepat sangat penting dalam komunikasi sehari-hari. Denotasi memberikan kejelasan, sementara konotasi menambah kedalaman dan nuansa pada komunikasi. Namun, konotasi yang berbeda dapat menimbulkan kesalahpahaman jika tidak dipahami dengan baik oleh semua pihak yang terlibat.

Pengaruh denotasi dan konotasi dalam kehidupan sosial sangatlah signifikan. Konotasi dapat mempengaruhi persepsi dan sikap seseorang terhadap orang lain atau suatu situasi. Misalnya, kata “gila” secara denotatif berarti satu kondisi seseorang yang mengalami gangguan kejiwaan, tetapi secara konotatif bisa diartikan sebagai satu gambaran pada peristiwa yang luar biasa. Kita sering menyebut “ide gila” pada sebuah ide yang out of the box. Persepsi ini dapat mempengaruhi bagaimana seseorang diperlakukan dalam masyarakat. Contoh lain, misalnya, kata “kritik” secara denotatif berarti memberikan masukan atau evaluasi. Namun, konotasinya sering kali negatif, dianggap sebagai serangan atau celaan. Ini bisa menyebabkan konflik dan ketidaknyamanan dalam komunikasi.

Selain itu, konotasi juga dapat digunakan sebagai alat untuk membentuk opini publik. Media sering kali menggunakan kata-kata dengan konotasi tertentu untuk mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap suatu isu. Misalnya, penggunaan kata “pejuang” versus “teroris” untuk menggambarkan kelompok bersenjata dapat menciptakan perbedaan besar dalam persepsi publik. Bahkan kata-kata yang sangat akrab dengan Agama seperti Jihad misalnya, hari ini sangat memiliki makna konotatif yang sangat jauh dari denotasinya.

Budaya memiliki peran besar dalam pembentukan konotasi. Kata-kata yang sama bisa memiliki konotasi yang berbeda di budaya yang berbeda. Misalnya, warna putih di budaya Barat sering dikaitkan dengan kesucian dan pernikahan, sementara di beberapa budaya Asia, warna putih dikaitkan dengan kematian dan duka cita. Perbedaan ini menunjukkan bagaimana konotasi bisa bervariasi secara budaya dan mempengaruhi interaksi antarbudaya.

Sekitar satu dekade yang lalu, Kenduri Cinta mengangkat tema “Ateisme Agama”, sebuah tema yang awalnya dipantik oleh Cak Nun untuk mengulas kembali makna denotatif dari beberapa kata. Saat itu, kata-kata seperti Jihad, Khilafah, bahkan Agama dikupas kembali oleh Cak Nun di sepertiga malam jelang forum Kenduri Cinta usai. Cak Nun mengupasnya dengan sangat sederhana, memberikan beberapa amsal-amsal ringan yang mudah dicerna.

Dimulai dari satu pertanyaan: “Apakah Jibril setelah selesainya Al Qur`an diwahyukan, ia tidak memiliki tugas lagi?”. Sebuah pertanyaan yang memacu lontaran diskusi yang sangat menarik kala itu. Kata Malaikat, sering kali dipahami sebagai salah satu makhluk ciptaan Tuhan. Malam itu, Cak Nun mengajak jamaah Kenduri Cinta untuk memasuki makna Malaikat lebih dalam. Sangat tidak masuk akal jika Tuhan menciptakan Malaikat hanya bertugas pada periode tertentu. Sama halnya ketika Cak Nun memancing nalar sehat kita untuk berani berimajinasi bahwa Muhammad SAW sangat mungkin saat ini sedang ditugaskan di belahan planet lain dari hamparan tata surya yang sedemikian luasnya. Dalam sudut pandang logika akal sehat, tentu akan sangat rugi jika satu makhluk terbaik yang pernah diciptakan oleh Tuhan hanya bertugas di salah satu planet dan hanya ditugasi selama 63 tahun.

Apa yang dilakukan Cak Nun melalui Maiyah adalah satu upaya untuk kembali mengenal makna denotatif dari setiap kata. Termasuk kata Khilafah. Saat publik terfokus pada makna konotatif dari kata Khilafah, Cak Nun sendiri dalam salah satu tulisannya The Scary Khilafah justru mencoba untuk mengajak kita yang membaca tulisan itu menemukan kembali makan denotatif dari Khilafah. Dari syair Lir-Ilir, Cak Nun memberi satu contoh yang sederhana.

Syair itu diawali dengan kata-kata: Lir-ilir… Lir-ilir… Tandure wos sumilir, tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar. Syair pembuka yang menegaskan bahwa Tuhan telah melaksanakan tugasnya untuk menyajikan anugerah di bumi. Tanaman ditumbuhkan, siap dipanen, untuk mewujudkan kesejahteraan manusia. Syair itu kemudian berlanjut; Cah angón… Cah angón… Penekno blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekno, kanggo mbasuh dodot iro. Tugas manusia sebagai Cah angón yang akan menek blimbing adalah tugas Khalifah untuk mengejawantahkan Khilafahnya Tuhan. Lunyu-lunyu penekno… Meskipun licin, pohon belimbing yang bergigir lima buahnya itu harus tetap dipanjat.

Maka dalam tulisan itu, Cak Nun menegaskan bahwa Khilafah adalah desain Tuhan agar manusia mampu mewujudkan keadilan sosial, gemah ripah loh jinawi, baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur, rahmatan lil-‘alamiin.

Tema ini lagi-lagi sebagai batu pijakan, Kenduri Cinta mencoba untuk tetap berdiri sesuai perannya, sebagai pemberi peringatan, indzar, setidaknya untuk Jamaah Kenduri Cinta itu sendiri, bahwa salah satu pangkal persoalan peradaban manusia hari ini adalah akibat dari kesalahan dalam memaknai dan memahami sebuah kata.

Saat kita saat ini menyebut kata Politik, apakah kita dapat memahami Politik sesuai dengan makna denotatifnya? Bagaimana jika kita mendengar kata Demokrasi? Apakah kita juga menemukan makna denotatifnya? Belum lagi saat kita berbincang tentang kebebasan berpendapat, hak asasi manusia, kedaulatan negara, supremasi hukum, keutamaan moral manusia dan lain sebagainya, apakah kita beanr-benar menemukan makna denotatifnya?

Kita bukan sedang menghardik zaman. Kita adalah manusia-manusia yang diberi anugerah oleh Tuhan untuk berfikir. Sebagai manusia, sebagai Khalifah, kita memiliki kebebasan untuk menentukan langkah kita atas dasar perilaku dan pertimbangan kita. Kejernihan kita dalam berfikir akan sangat menentukan apakah keputusan yang kita ambil dalam hidup kita akan memberi manfaat atau mudlarat kepada sesama manusia.

Lainnya