CakNun.com

97% Mbah Nun Minded

Foto: Adin (Dok. Progress).

Perjalanan bersama KiaiKanjeng adalah sesuatu. Armada bus menjadi pilihan utama ketika melakukan perjalanan antar propinsi pulang pergi. Masuk bus — seperti masuk rumah dengan ruang-ruang dan kamar yang berindentitas. Depan sebelah kiri adalah singgasana Bobiet Santoso. Dan kursi belakang pak sopir adalah kerajaaan Mas jijid. Itu kursi singgasana yang abadi. Tidak ada yang bisa menggesernya. Bahkan Mbah Nun pun tidak. Ini bukan tentang kuasa dan menang-menangan, tapi itu sudah terjadi sejak jaman awal mereka berkeliling: dari orde baru sampai orde gorong-gorong.

Lalu kursi nomor dua tiga dan seterusnya diisi oleh para personil lainnya. Tapi Pak Joko Kamto tidak ada di deretan itu. Pak Joko adalah sesepuh nya KiaiKanjeng. Penjaga hati. Rujukan penting didalam intern KiaiKanjeng. Maka beliau memilih di kursi paling belakang. Meng-angoni bebek-bebek yang di depan. Begitu juga Pak Nevi, memilih di belakang. Beliau tidak sebagai peng angon. Tapi lebih ke tata estetika keharmonisan perjalanan. Di perjalanan, beliau ini ahli mengomyang. Mengomentari apa saja yang dilihat. Membaca spanduk-spanduk dan papan nama dijalanan. Tentu dengan dipleset-plesetkan. Ada bengkel Servis ganti olie, beliau langsung berkata Gianto Olie. Mas Gik yang duduk tidak jauh hanya senyum-senyum saja. Kegiatan lainnya doyan memutar youtube dengan volume 80 persen. Bayangkan kalau duduk di sekitar sopir. Semua khawatir emosi Pak Sopir tidak stabil.

Ada banyak kisah diantara mereka. Ada banyak adegan yang lucu dan memalukan. Seru dan bermakna tentunya bagi para personil KiaiKanjeng. Dan saya gak yakin, keseruhan dan hikmah-hikmah perjalanan KiaiKanjeng menarik bagi orang lain. Jamaah Maiyah sendiri — 97% Mbah Nun minded. Dalam guyonan kami di kantor, yang di Jogja tinggal Mas Munir dengan kopyah uniknya. Jalan sunyi memang ada. Sedang ditempuh oleh teman-teman KiaiKanjeng.

Di level internal, cucu-cucu para personil KiaiKanjeng sendiri juga tidak tertarik kisah Mbah nya. Di perpustakaan apple musik iphone anakku, tidak ada album KiaiKanjeng. Bunyi gamelan KiaiKanjeng menjadi tidak magic lagi ditelinga anak-anak kita. Zaman telah berubah. Fourtwenty lebih menarik bagi anak jaman sekarang. Tapi tidak masalah. Biarkan saja. Kehidupan harus berjalan, roda harus berputar. Kenangan akan tergerus oleh waktu. Kelak waktu akan menunjukkan bahwa mereka bangga memiliki Mbah bernama Bobiet Santoso, Nevi Budianto, Joko Kamto dan lain-lain.

Suatu malam ketika ada proses latihan, ada suara gamelan KiaiKanjeng mengalun. Membunyikan nomor-nomor wirid Mohon Ampunan dan wirid Rejeki Melimpah. Saya tertegun. Telinga saya kuno — masih saja merasakan kenyamanan oleh alunan gamelannya Pak Nevi. Ada gairah-magic. Ada rasa yang tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata. Subyektif saya mengumpat, menyalahkan abcd yang tidak peka oleh suara.

****

Mbah Nun dan KiaiKanjeng pernah terlibat nyata didalam proses perdamaian konflik Madura Dayak di Kalimantan. Duduk ditengah-tengah mereka yang siap untuk perang. Menghentikan perang kampung di wilayah Mandar. Menstop arak-arakan kampanye Pemilu yang memekakkan telinga. Mencegah tawuran massal teman teman TKI di Malaysia. Menaklukkan orang gila diatas panggung. Mengumpulkan dan menata hati para petani udang yang liar di Lampung untuk kembali dan bekerja sama dengan baik. Dan masih banyak lagi.

Saya tidak sedang mendaftar jasa mereka. Saya hanya cerita dan mencatat kembali seingatnya apa yang sudah dilakukan. Juga mencoba menghiburnya, “Tenang-tenang. Walau cucu kita tidak tertarik dengan apa yang sudah dilakukan, setidaknya kita sudah berbuat sesuatu. Kiaikanjeng bukan sekedar menyajikan musik untuk hiburan telinga. Tapi….” Tidak saya teruskan kalimat itu.

Suatu hari di perjalanan keliling di Nganjuk Surabaya dan Malang, salah satu personil KiaiKanjeng yang statusnya ASN, usai acara pulang ke Jogja diantar sopir.

Mampir lah di restarea sekitaran Nganjuk. Si sopir mau ke supermarket. Dan si ASN itu juga ikut turun untuk ke toilet. Si sopir selesai, dan langsung tancap gas menuju Jogja. Si ASN tiba di parkiran melihat mobil sudah melaju keluar rest area. Di ASN berteriak dengan sangat kencang “Gus Guuussss…”  si Sopir tidak mendengar. Fix tertinggal. Oleh petugas rest area si PNS ditanya. “Jenengan tadi memanggil Gus Gus. Itu tadi Gus sinten. Gus Miftah apa Gus Idham..”

Si ASN tidak mampu menjelaskan. Yang ada adalah lunglai karena tertinggal. Rokok tinggal satu batang. Tas, dompet dan hp juga di mobil. Dengan lemas si ASN menjawab, “sopir tadi namanya Agus!!”

Lainnya