“Wasiat Ki Arsantaka” Menyingkap Kabut Sejarah Purbalingga

Dok. Perpustakaan EAN

Novel garapan Agus Sukoco menguak sepak terjang Ki Arsantaka di balik kelahiran Kabupaten Purbalingga. Novel ini berdiri di tengah pretensi pelurusan sejarah dan penarasian fakta kesejarahan yang disembunyikan rezim kolonial Belanda

Purbalingga dan Yogyakarta terbentak jarak 162 kilometer. Bila menggunakan jalur darat, menyetir mobil kiranya sampai tujuan sekitar empat jam. Bagi Agus Sukoco, perintis Simpul Maiyah Juguran Syafaat, bepergian dari Purbalingga ke Yogyakarta merupakan perjalanan mudik. “Secara biologis saya memang orang sana. Tapi secara rohani saya merasa sedang mudik kalau ke Kadipiro. Rumah sejati saya ya ketika dekat sama Mbah Nun,” ucap Agus mengawali bedah buku teranyarnya bertajuk Wasiat Ki Arsantaka di helatan diskusi SastraLiman edisi Januari 2023 (05/01/2023).

Agus tak sendirian. Rombongan empat mobil turut datang ke Rumah Maiyah. Mereka adalah teman-teman penggiat Juguran Syafaat. Novel baru karya Mas Sukoco—panggilan akrabnya—ini merupakan buah dari ketekunan sekaligus kegelisahan batin untuk menuliskan peristiwa masa silam. Motivasi penulisan ini kerap Mbah Nun sampaikan pada setiap kesempatan Maiyahan di berbagai tempat.

Mas Sukoco memetik pesan ini melalui novel setebal 442 halaman itu. Berpuluh tahun Mbah Nun menemani anak-cucu Maiyah dan beribu kali helatan kesempatan Sinau Bareng di berbagai wilayah. Perjalanan nandur Mbah Nun ini berbuah dalam aneka medium karya. “Malam ini kita menyaksikan tanduran dari Mbah Nun itu cukul,” ungkap Mas Helmi Mustofa menyambut SastraLiman.

“Dalam perjalanan menemani anak-cucu ada banyak ilmu, perspektif, dan lain-lain. Itu tidak terhingga jumlahnya,” Mas Helmi melanjutkan, “Beliau sangat mengingatkan: bahwa kita jarang menengok masa lalu. Bahkan meremehkan masa lalu.” Penulisan novel besutan Mas Sukoco ini merupakan perwujudan dari pesan Mbah Nun untuk nguwongke uwong.

Menggugat Sejarah

Dok. Perpustakaan EAN

Penggarapan novel dengan ketokohan utama Ki Arsantaka membuka tabir sejarah di Kabupaten Purbalingga. Novel-sejarah ini bukan hanya berpusar pada peristiwa tokoh utama, melainkan juga serangkaian kejadian di balik peristiwa Pajang hingga Purbalingga. Ada satu poin utama yang ingin Mas Sukoco gugat: Hari Jadi Purbalingga pada bulan Desember, sebagaimana masyarakat dan pemerintah yakini selama ini, cenderung berangkat dari pandangan ahistoris dan politis.

Muasal bulan Desember sebagai Hari Jadi Purbalingga intrik dengan kepentingan Pemerintahan Kolonial Hindia-Belanda. Besluit Gouverneur Generaal waktu itu meneken surat nomor 1 bertarikh 18 Desember 1830. Secarik keputusan tersebut menandai alih-kuasa atas berbagai wilayah bekas Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta (Vorstenlanden) kepada pemerintahan kolonial. Kabupaten Purbalingga termasuk wilayah yang dialihkuasakan setelah berakhirnya Perang Diponegoro.

Ironisnya, peristiwa kolonial itu menjadi dasar rujukan Peraturan Daerah No. 15 Tahun 1996 mengenai penetapan Hari Jadi Purbalingga. Mas Sukoco memandang ganjil peristiwa ini. Bagaimana bisa penetapan sebuah kelahiran wilayah berangkat dari persoalan administratif yang nahasnya bikinan kolonial. Mas Sukoco menggugat praktik kesejarahan itu lewat novelnya. “Penetapan hari jadi kok tidak patriotik? Karena [penandanya] tepat saat Belanda menginjak-injak orang setempat,” kritiknya.

Mengikuti narasi Hari Jadi versi pemerintahan Hindia-Belanda sama dengan turut merayakan resminya penguasaan kolonial di Kabupaten Purbalingga. Mas Sukoco kemudian mendudukkan peranan Ki Arsantaka dan putranya Ki Arsayuda sebagai figur penting yang semestinya menjadi pijakan kelahiran Purbalingga. Kiprah tokoh bapak-anak ini mengawali Hari Jadi Purbalingga karena keduanya telah melakukan babat alas. Itu terjadi pada 23 Juli 1759.

Dua Babad

Dok. Perpustakaan EAN

Terdapat dua sumber yang menjelaskan permulaan sejarah Purbalingga. Pertama, Babad Purbalingga. Menurut catatan Babad Purbalingga, pusat pemerintahan berikut rumah kadipatenan dan alun-alun telah dibangun pada Hari senin Legi, 26 Selo, Tahun Éhé (Jawa) 1684. Tahun ini sama halnya versi masehi 23 Juli 1759. Pada titimangsa tersebut Ki Arsayuda memimpin sebagai adipati atau bupati pertama dengan gelar Raden Tumenggung Dipayuda III (1759-1787).

Selanjutnya diganti anaknya bernama Dipakusuma I (1792-1811) sebagai adipati kedua. Anak sulung Dipakusuma I yang bernama Danakusuma dengan gelar Raden Mas Tumenggung Bratasudira sebagai bupati ketiga kemudian memerintah pada era 1811-1831. Tepat pada tahun 1830 Belanda meneken surat dan titimangsanya dipakai sebagai Hari Jadi Purbalingga sampai sekarang.

Sumber kedua berikutnya adalah Babad Wirasaba yang menjelaskan kawasan Purbalingga lebih tua. Babad ini menguak keberadaan peristiwa Mrapat Kadipaten Wirasaba. Peristiwa ini juga menjadi dasar Hari Jadi di Kabupaten Banyumas dan Banjarnegara. Secara teritorial, dahulu Wirasaba dibagi empat. “Wirasaba, Kejawar, Banjar, dan Merden. Yang aneh, pada pembagian empat wilayah itu, tiga kabupaten lainnya hilang. Yang eksis [hanya] Kejawar yang diberi nama Kadipaten Banyumas,” terang Mas Sukoco. Padahal, menurutnya, Wirasaba itu sebuah daerah di Purbalingga.

Ihwal ke-“purba”-an Purbalingga, pembicara kedua SastraLiman, Gunanto Eko Saputro (Kabag Humas Sekretariat Daerah Purbalingga), menuturkan lebih lanjut. Menurut mantan wartawan Tempo ini, kata “purba” lekat akan Purbalingga karena ditemukan sejumlah 22 situs. “Kami punya prasasti Bukateja. Sekarang [berada] di Leiden. Barangnya ini dari emas,” tutur Gunanto. Prasasti ini berbentuk lempengan emas. Menurut para arkeolog, prasasti Bukateja berasal sekitar tahun 821-840 masehi.

Gunanto menambahkan, selain khalayak menganggap Purbalingga cenderung abangan, sebenarnya di kawasan ini terdapat jejak penyebaran Islam. Ia menyebut nama Syaikh Wali Perkasa yang kiprahnya turut mendirikan Masjid Agung Demak. “Beliau ini dari Pekiringan, Purbalingga. Ada penjelasan di babadnya. Sekarang [babad ini] tersimpan di Museum Sonobudoyo,” kata Gunanto.

Selain menukik ke persoalan peninggalan purba, Gunanto juga menerangkan riwayat Perdikan Cahyana sebagai pusat penyebaran Islam di Purbalingga. Kawasan ini berada di Kecamatan Karangmoncol. “Sosok Sultan Hadiwijaya, penerus Demak itu, terkait juga dengan Wirasaba. Di Purbalingga kan ada Desa Mrebet. Nama desa ini merujuk pada Mas Karèbèt [nama awal Sultan Hadiwijaya sebelum menjadi raja pertama Pajang pada 1568],” paparnya mengimbuhkan.

Novel Sejarah

Dok. Perpustakaan EAN

Pengisahan sepak terjang Ki Arsantaka melalui karya sastra bergenre novel memang pilihan tepat. Alih-alih menggunakan bentuk penulisan sejarah, Novel Wasiat Ki Arsantaka terhindar dari kesan corak bahasa kaku, baku, dan beku. Karya sastra bukan laporan sejarah yang kurang mengundang selera pembaca.

Agaknya novelis ini ingin merebut hati pembaca melalui penyajian nama tokoh berikut latar tempat sefaktual mungkin. Kendati sebuah karya sastra, Mas Sukoco bermaksud menyajikan sejarah alternatif, menggugat kemapanan sejarah bikinan kolonial. Sebuah praktik dekolonisasi melalui penulisan karya fiksi.

Budi Sardjono, pendedah SastraLiman, malam tadi lebih menyoroti perkara novel-sejarah dan strategi naratologi pengarang. Menurutnya, menawarkan rangkaian historis lewat novel merupakan pilihan tepat, sebab karya sejarah sendiri penuh hiruk-pikuk, bahkan “pencerita sejarah” acap berlaku seperti komentator sepak bola. “Lebih pandai dari Lionel Messi,” kritik Pak Budi. Ia melanjutkan, novel karangan Mas Sukoco masuk kategori toponim kabupaten.

“Toponim ini dalam pengertian sejarah kabupaten. Bukan sejarah dalam arti ilmu. Sejarah yang difiksikan. Data yang diimajinasikan. Tapi biasanya lebih menarik novel. Daripada sejarah yang ditulis sejarawan,” imbuhnya. Sekalipun begitu, novelis berbahasa Jawa tersebut memberikan alarm. Novel bermuatan sejarah suatu tempat akan “masuk telinga kanan keluar telinga kiri” bila tak punya ikatan emosi dengan pembacanya. “Ini tantangan pertama!”

Tidak tanggung-tanggung, Pak Budi punya kritik terhadap sejarawan. Walau sejarawan bergelar guru besar, biasanya ia tak berani merekonstruksi sejarah nasionalnya. Ia menuding kecenderungan sejarawan yang masih terpengaruh kuat “kiblat Leiden” yang bersifat Eropa-sentris. Akibatnya, sejarawan yang demikian kurang berani keluar dari tempurung akademiknya: metode, paradigma, teori, dan lain sebagainya.

“Jadi, selama ini sejarah yang kita ikuti adalah sejarah tipu-tipu. Maka, sudah lama saya mengimpikan seperti ini [karya sejarah melalui penulisan prosa]. Kerja sama antara sejarawan dan novelis,” gadang Pak Budi. Kelahiran karya Mas Sukoco, hematnya lebih lanjut, membawa lentera harapan bagi penulisan sejarah Indonesia.

“Novel ini menarik. Saya berharap sejumlah 240 [416 per tahun 2022] kabupaten di Indonesia membuat toponim seperti ini. Model novel inilah adalah sejarah Indonesia. Perkoro sejarawan membantah wani ditantang saja!” provokasinya kepada audiens SastraLiman. Ia berkomentar bahwa dirinya lebih percaya “dongeng Mas Sukoco” daripada sejarah Purbalingga lainnya. Meski Pak Budi gayung bersambut, pihaknya tetap menyampaikan catatan kritis. Kritisisme Pak Budi menyangkut penarasian, imajinasi pengarang, dan pentingnya riset lapangan.

Hasil bacaan Pak Budi menembak jantung penokohan di dalam novel. Menurut penilaiannya, Mas Sukoco terlalu fokus pada tokoh utama, yakni Arsantaka (ayah) dan Arsayuda (anak). “Kalau lihat narasi dan deskripsinya, saya yakin 1000 persen [dia] tidak riset lapangan,” ungkap Pak Budi.

Kelemahan itu berakibat pada tidak detailnya penyajian cerita. Pak Budi memberikan salah satu contoh. Manakala menceritakan kali Bogowonto, pengarang tidak mendeskripsikan kawasan ini secara mendalam. Bentuk fisik, ekosistem sungai, sampai habitat sekitar lebih lanjut luput disajikan Mas Sukoco. “Cuma disebutkan nama tok. Tidak diceritakan detail. [Padahal] ada palung sungai. Ini banyak memakan korban. Jangankan sapi, manusia saja bisa mati,” Pak Budi menunjuk salah satu bagian novel.

Ia berharap kepada calon novelis. Novel sejarah itu punya persyaratan tertentu. Di antaranya riset lokasi, pustaka, dan wawancara sejumlah tokoh. Di samping metode penceritaan, Pak Budi menekankan ketidaktepatan intertekstual sehingga membuat aransemen kisah Wasiat Ki Arsantaka terkesan ganjil.

“Lalu, di sela-sela mengisahkan Arsantaka kok mengutip Lingsir Wengi yang versi campur sari. Yang itu dibuat 1995. Harusnya Lingsir Wengi versi Sunan Kalijaga. Kalau Lingsir Wengi versi Sunan Kalijaga akan membuat novelnya lebih kuat,” terangnya. Pak Budi juga menyayangkan bahwa penulis tidak memperdalam kisah peperangan antara Banyumas dan Mangkubumi, padahal beberapa bagian sebelumnya tampak membawa alur ke masalah besar itu.

“Itu hanya disinggung sekilas. Tidak dijelaskan detail, misalnya, teori perang dadung layang. Melihat musuh dari atas, kalau di bawah supit urang. Mas Agus tidak menyebut [detail teori ini] sama sekali. Kalau disebutkan, pembaca akan terkagum-kagum sebab risetnya kuat,” kata Pak Budi. Pada akhir novel, ia menambahkan, pengarang terkesan lelah. “Beberapa narasi hanya disebut ‘beberapa tahun kemudian.’ Akhirnya, mak bedunduk rampung. Padahal, di balik kata beberapa tahun kemudian, terkuak rentetan peristiwa.”

Kritik atas kurangnya elaborasi latar kultural kebudayaan setempat tak luput menjadi perhatian. Padahal, di Purbalingga sebelah utara terdapat tradisi Gowokan. Tradisi ini merujuk pada riwayat Nyai Gowok yang berusia sekitar 30-40 tahun yang memberikan “pendidikan seks”. Ia mendidik perjaka-perjaka yang sudah disunat untuk mengenal lebih lanjut anatomi tubuh perempuan. Membuat tubuh Nyai Gowok sebagai laboratorium.

Dok. Perpustakaan EAN

Tradisi Gowokan berkembang di area Gunung Slamet. Tradisi ini mulanya lahir dari kalangan istana di Tiongkok. Sampai Jawa lantaran diboyong seraya diperkenalkan seorang perempuan bernama Goo Wook Niang. “Mas Agus tidak meramu tradisi ‘nakal’ setempat pada novelnya. Ia terlampau lugu. Jadi, bolehlah jadi pengarang itu nakal-nakal dikit. Ha-ha-ha,” komentar Pak Budi mengundang tawa penonton.

Budaya Tanding

Segendang dan sepenarian dengan Budi Sardjono, Yai Tohar berharap agar kritik penulisan sebelumnya memicu Mas Sukoco menulis lagi. “Ora kudu diedit. Saya justru lebih tertarik ngomong masyarakat Banyumas. Masyarakat Penginyongan itu seperti apa. Kaitannya dengan Mataram itu sangat tinggi. Saya pikir itu menarik digali,” kata Yai Tohar. Agar punya daya kenakalan, sebagaimana komentar sebelumnya, Yai Tohar memandang perlunya novelis belajar teknik etnografi bagi yang ingin mendalami sejarah dan adat-istiadat.

“Masyarakat Penginyongan beda dengan masyarakat pesisir. Kalau Banyumas itu punya adagium blakasuta (keterusterangan). Kudune wong Penginyongan itu nggak perlu ngikuti pencitraan. Yang perlu digali: kaitan antara era Mataram dan zaman VOC. Keduanya sangat berpengaruh terhadap watak Penginyongan,” bahas Yai Tohar menambahkan.

Pada puncak acara, sementara itu, Mbah Nun mengapresiasi karya besutan Mas Sukoco. Beliau juga mendorong agar “aktivis masyarakat” tersebut mulai berpikir menulis buku berikutnya. Mbah Nun setuju bila buku berikutnya mengkaji sejarah lahirnya Penginyongan.

“Itu termasuk counter culture terhadap Jawa-Yogya. Termasuk di Jawa Timur. Ada boso Suroboyoan. Penginyongan itu perlawanan budaya kepada Mataram. Bukan hanya soal linguistik, tetapi juga kultural dan lain sebagainya. Jadi, untuk mengembalikan martabat Penginyongan, Mas Agus harus nulis buku lagi,” harap Mbah Nun.

Mbah Nun juga mendudukkan persoalan antara sejarah, babad, dan dongeng. Menurutnya, novel yang kerap dipandang sekadar dongeng itu sebenarnya hasil konstruksi sosial modernisme. Adanya klaim atas penulisan sejarah-resmi akhirnya membuat tidak blakasuta terhadap kebenaran.

Itulah sebabnya, Mbah Nun lebih menekankan pada substansi ketimbang bentuk penulisan. “Mas Agus ini jangan dituntut jadi seperti sejarawan dengan metodologi tertentu. Tapi dia mengangkat sosok yang tidak ditulis sejarawan-sejarawan itu. Ini adalah tadabbur. Bagaimana masa silam itu manfaat bagi kita,” jelas Mbah Nun.

Soal teknik penulisan, Mbah Nun melanjutkan, tetap penting diperhatikan. Mbah Nun berharap Mas Sukoco mengindahkan masukan-masukan Pak Budi sebelumnya. Teknik penulisan ini membuat narasi cerita makin detail, kuat, dan sinambung.

“Misalnya Karl May. Ia nulis soal perjalanan ke Amerika secara mendetail. Soal Winnetou, Old Shatterhand, Kepala Suku Apache, Suku Comanche, hingga Old Firehand. Dia tulis begitu rupa secara mendetail. Pembaca seolah seperti berada di sana. Nakal memang diperlukan untuk ekspresi sastra. Jadi, Mas Agus tetap mengikuti apa yang disampaikan Pak Budi”.

“Hidup ini multi-fakta, nuansa, dan dimensi. Memang begitu. Harus ada kenakalan-kenakalan untuk menembus-menembus itu. Pada buku berikutnya Mas Agus semoga ada ekspresi kenakalan-kenakalan begitu,” imbuh Mbah Nun.

Acara dipungkasi sekitar pukul 11 malam. Sebelum acara selesai, beberapa pertanyaan membuka oase diskusi lebih lanjut. Pembahasan seputar pencarian nasab hingga tugas dan fungsi malaikat menambah kehangatan diskusi bulanan SastraLiman. Sementara itu, di luar Pendopo Maiyah, langit masih mengucurkan rahmat hujan tiada henti sampai dini hari.