CakNun.com

Tradisi “Urip Iku Urup”

Bobolnya nilai kemanusiaan saat ini sudah diantisipasi Mbah Nun, dengan berbagai uraian dan ungkapan reflektif. Salah satunya adalah tentang hak asasi manusia yang dijunjung seolah memperjuangkan keadilan paling puncak atas semua kehidupan. Bahkan tidak ada hak asasi Tuhan yang bagi warga Maiyah sesungguhnya yang lebih memiliki hak di atas segala hak makhluk-Nya.

Gegar otak budaya ini semakin memberi bilah jelas, mana yang jernih dan mana yang keruh. Mana yang diikuti sebagai cara hidup dan mana yang dihindarinya. Mana yang asal merasa benar dalam memilih dan yang memilih dalam kebenaran. Masyarakat dunia adalah pemukiman yang diisi oleh manusia sebagai pemegang kendali. Namun tiap-tiap manusia tidak mendapat Pendidikan pengendalian. Tidak membina cara mengendalikan. Tidak ada asupan pelajaran untuk menentukan skala prioritas.

Orang-orang lebih berminat mengajari generasinya dengan bebas memilih, diajari untuk menjadi diri sendiri tapi tidak dikenalkan yang dimaksud ‘diri’ itu yang mana, yang bagaimana, seperti apa, berapa luas dimensinya, berapa banyak layer-layer abstraksinya, darimana dan mau kemana, apa tujuannya, apa bekalnya. Orang-orang lebih berminat menyuntik pemahaman kepada generasinya, untuk menghindari kesulitan dan memberikan fasilitas-fasilitas yang mempermudah kehidupannya. Artinya semakin banyak kemudahan, diyakini akan menjadikan generasi manusia hidup dalam kondisi lebih baik.

Sementara Allah SWT sendiri telah berfirman, bahwa sesungguhnya bersamaan dengan kesulitan terdapat kemudahan. Ini rumus baku kemudahan. Orang yang tidak mau berjumpa kesulitan sesungguhnya menemui kemudahan sesaat, yang alih-alih menabung kesulitan di kemudian hari. Kesulitan yang hadir pada hidup manusia merupakan paket sepasang, sebagai kawan paling akrab kemudahan. Disadari atau tidak, kemudahan yang saat ini jor-joran diinjeksi dalam peradaban menjadi bumerang yang menjadikan generasi manusia makin lemah, manja, dan baperan. Banyak yang justru karena akrab dengan kesulitan, ia tetap tangguh dan tumbuh normal sebagai manusia sesuai fitrahnya. Sedangkan yang dihindarkan dari kesulitan malah menjadi produk-produk gagal untuk menjadi generasi tangguh. Kelakuannya miskin pengetahuan tentang nilai kemanusiaan. Tak paham tenggang-rasa, tepo sariro. Perangainya menjadi menyimpang dan kadang tindakannya menjadi kejam.

Maiyah & Kesulitan

Majlis Ilmu, atau majelis Sinau Bareng Maiyah, mengalami proses tidak lepas dari kesulitan. Setiap bulan, jamaah Maiyah dari segala penjuru berjerih-payah mempertahankan kesanggupan menggelar sinau bareng di simpul pada daerah masing-masing. Pengerahan pikiran, tenaga, dan biaya sudah pasti. Ada yang setiap bulan mendanai acaranya dengan biaya yang tidak sedikit, ada pula yang tidak banyak. Apakah ini tugas semua orang? Tidak, tapi jamaah Maiyah merasa mendapat tugas ini dan harus mengembannya dengan sungguh-sungguh. Apakah mudah mempertahankan itu semua? Untuk apa? Apa gunanya duduk berjam-jam semalaman? Apa gunanya ngobrol ngalor ngidul tanpa juntrung?

Memang setiap awan yang berarak tanpa membawa embun tampaklah anggun, putih cerah dan lincah berduyun menghias langit. Sedangkan yang telah mengandung embun, awan itu tampak suram, mendung, dan mengancam. Apalagi ketika muatan itu dimuntahkan menjadi hujan, tak sedikit orang mengumpat, menyinyir, mengeluh, mendesah, kecuali muntahan itu hadir setelah kemarau panjang. Apa guna Maiyah, sedangkan tahi lalat di tubuh manusia saja ada gunanya, apalagi kegiatan yang melibatkan kemenyeluruhan unsur, yang sinau, ya membangun cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mengasah, menganalisa, mengintrospeksi, memindai peristiwa, mengantisipasi, melakukan eguh. Siapa yang pernah berfikir, bahwa apa yang disumbangkan sinau bareng kepada negara adalah mendanai kondisi, meredam pergolakan, memberi ruang bagi yang dilupakan yang jumlahnya tak sedikit karena merasa disingkirkan oleh kebijakan, sedikit menjadi bahu bagi yang mau bersandar, menjadi telinga bagi yang ingin didengar, menjadi kawan yang siap menemani. Mereka semua bisa menjadi potensi untuk mendobrak kekalahan dengan tindakan buruk, namun dengan ada ruang berkumpul dan mencerahkan, potensi buruk ini luruh dan luntur. Ada penggumpalan harapan dan semangat untuk bangkit lantaran kembali diingatkan tentang Kasih Sayang Allah dan Rasul-Nya.

Lainnya

Kecerdasan Seketika

Kecerdasan Seketika

“Apa orang yang cari untung, mereka untung terus?”

“Tidak!”, audiens menjawab serempak.