CakNun.com

Tempayan Agung

Cahaya Maha Cahaya: Kumpulan Sajak, 1991

Apakah ruang alam semesta ini semacam tempayan maha raksasa yang disangga oleh beberapa malaikat, sementara jutaan malaikat lainnya melayang-layang berseliweran di sekitarnya?

Jutaan matahari, planet dan satelit yang jumlahnya bagai kabut, diisikan ke dalamnya tanpa bersentuhan satu dengan lainnya?

Dan kami, para binatang berakal, sama sekali tak punya arti di dalamnya, membangun gedung-gedung keangkuhan sambil memekik-mekik untuk menyembunyikan kekerdilannya?

Soalnya, apakah tempayan ruang yang agung itu terletak juga di sebuah ruang yang lain, sebab menurut ilmu akal kami mestilah demikian

Pada suatu hari aku ingin duduk-duduk di tepian tempayan itu sambil menyanyikan lagu-lagu kangen kepada Tuhan, dan tanganku ngungun menabuh sebuah gendang yang terbuat dari kesunyian

Wahai, merupakan apa gerangankah tempat yang kududuki ini?

Adakah tepian tempayan itu terdiri dari kayu- kayu yang ditebang oleh para malaikat dari sorga, ataukah ia sekedar kekosongan yang hanya bisa kutatap dengan mata jiwa?

Dari tepian ruang itu aku menyaksikan berjuta matahari yang bagaikan buah-buah anggur berwarna putih gemerlap, sementara bumi, tempat kami memamerkan kata-kata besar dan otot kawat, hanyalah sebiji dari timbunan pasir yang hitam pekat

Satu matahari hanya menyinari satu mili, tetapi jauh dari atas tempayan itu memancar cahaya yang lain, yang tak kutahu sumbernya tapi kupercaya pasti berasal dari lampu kecil di atas istanaNya

Wahai Kekasihku, kusaksikan ruang di atas ruang di atas ruang di atas ruang!

Ketinggian yang Engkau rajai sungguh tak terperikan, namun toh tak pernah aku ketelingsut dari titian cahayaMu yang maha benderang

Di tepian tempayan kecil ini aku bersembahyang, tetapi di manakah para Nabi? Jiwaku menggigil, ingin aku berjamaah bersama mereka, kemudian bersalam-salaman

1984.

Lainnya

Puisi Jalanan

Puisi Jalanan

Hendaklah puisiku lahir dari jalanan
Dari desah napas para gelandangan
Jangan dari gedung-gedung besar

14

14
Sajak Petualang

Sajak Petualang

Sebenarnya aku benci dinding-dinding itu
Sebenarnya aku benci penjara lingkunganku
Sebenarnya aku benci kelahiranku

Lagu

Lagu

59

59