CakNun.com

Persembahan KIAIKANJENG di Kenduri Cinta

“Parkir Cak Nun! Parkir Cak Nun! Parkir Cak Nun!”. Teriakan para tukang parkir di pinggir jalan depan Taman Ismail Marzuki memberi tanda bagi Jamaah Kenduri Cinta untuk memarkirkan kendaraannya di trotoar Jl. Cikini Raya. Malam ini menjadi malam yang indah, malam yang spesial di Kenduri Cinta. Gamelan KiaiKanjeng hadir pada sebuah penampilan yang spesial. Dalam tajuk KIAIKANJENG: SOUL-HEART-SACRED.

Rencana untuk menggelar penampilan KiaiKanjeng di Kenduri Cinta edisi Oktober ini sebenarnya adalah rencana yang sudah lama sekali dirancang oleh teman-teman Kenduri Cinta. Penggiat Kenduri Cinta memiliki sebuah mimpi untuk menggelar sebuah pementasan yang dikhususkan untuk menampilkan kualitas terbaik musikalitas Gamelan KiaiKanjeng.

Pandemi menjadi salah satu alasan mengapa rencana ini tertunda. Namun, rancangan itu masih disimpan karena penggiat Kenduri Cinta sangat optimis mimpi itu bisa terwujud. Kita semua terkenang dengan Konser Kenduri Cinta di awal 2000-an. Terbesit sebuah mimpi untuk kembali menggelar konser serupa untuk KiaiKanjeng. Bisa dibilang, Kenduri Cinta edisi Oktober 2023 ini adalah pilot project untuk menuju kesana.

Maka persiapan untuk Kenduri Cinta edisi Oktober ini pun digarap dengan serius. Bukan hanya penggiat Kenduri Cinta saja yang menyusun rancangannya, namun susunan rencana persembahan KiaiKanjeng di Kenduri Cinta malam ini kemudian disampaikan kepada personel KiaiKanjeng untuk kemudian dirembug dan difinalisasi, mulai dari rundown hingga nomor-nomor yang dibawakan pun dirembug bersama-sama oleh personel KiaiKanjeng dan kemudian nomor-nomor itu dilatihkan kembali secara khusus di Kadipiro.

Nomor “Gundhul Pacul” yang menghentak, dimainkan di awal. Menyapa jamaah Kenduri Cinta yang sudah hadir. Lagu Gundhul Pacul digubah dalam sebuah alunan musik instrumental yang bersemangat. Baru di awal saja, KiaiKanjeng sudah menyapa dengan musik yang penuh semangat dan menghentak. Kepiawaian musikal para personel KiaiKanjeng begitu apik ditampilkan di nomor ini.

Total ada 19 album sudah dilahirkan oleh KiaiKanjeng sejak tahun 1996. Album-album tersebut lahir pada momentum dan peristiwa yang juga spesial. Album Kado Muhammad misalnya, menjadi satu masterpiece Gamelan KiaiKanjeng yang sangat monumental. Pada album tersebut, masyarakat Indonesia kembali mengenal lagu Tombo Ati. Kemudian beberapa nomor lain yang diciptakan dengan apik. Seperti musik puisi Kado Muhammad yang juga sangat legendaris. Di Kenduri Cinta kali ini, nomor yang dibawakan oleh KiaiKanjeng dari album Kado Muhammad adalah nomor musik puisi Rayap-Syanana. Pak Joko Kamto membacakan puisi berjudul “Rayap” yang kemudian diiringi alunan musik “Syanana”.

Dari 19 album itu, tidak semuanya dibawakan oleh KiaiKanjeng malam ini. Hanya beberapa nomor yang diambil dari tiap-tiap album. Namun, bukan tanpa alasan memilih nomor-nomor yang dibawakan di Kenduri Cinta mala mini. Seperti nomor “Raja Diraja” yang diambil dari Album Raja Diraja, sebuah nomor dengan aransemen dangdut yang liriknya terdengar sangat kritis. Dan sangat cocok memang dimainkan malam ini. Di mana akhir-akhir ini kita sedang menyaksikan akrobat politik. Tokoh yang dipuja-puja, yang dikagumi bahkan dinabikan, ternyata mengambil langkah yang tidak bisa diterima oleh pendukung loyalisnya.

Sesudah kau ambil semua
Kau tumpuk harta dan kuasa
Sesudah kau rampok mereka
Tak peduli apapun saja

Akhirnya kau pun jadi tua
Dan semua itu tak berguna
Ketika nyawamu hilang
Yang kau bawa penyesalan

Setelah kau selalu menang
Sesudah kau tak terkalahkan
Akhirnya dirimu sendiri
Tak dapat kau kalahkan
Kau pikir kau Raja Diraja
Padahal esok pagi sirna

Sebuah nomor yang memang di-request secara khusus oleh penggiat Kenduri Cinta, karena memang liriknya sangat relate dengan peristiwa politik akhir-akhir ini.

Selanjutnya, KiaiKanjeng membawakan nomor yang juga sangat monumental, seperti “Wirid Mohon Ampunan” dan “Lir-Ilir”. Dua nomor dengan aransemen gamelan yang sangat khas KiaiKanjeng. Pukulan demung, saron dan demung berpadu dengan drum, bass, gitar, biola, seruling hingga kibor. Begitu magis dibawakan oleh KiaiKanjeng di Kenduri Cinta kali ini.

Selama kurang lebih 2 jam pertama, panggung Kenduri Cinta menjadi miliki Gamelan KiaiKanjeng sepenuhnya. Lebih dari 20 nomor dibawakan. Kita semua mengetahui bahwa personel KiaiKanjeng mayoritas sudah tidak muda lagi, namun mereka begitu enerjik dalam memainkan alat-alat musiknya masing-masing. Tentu saja aransemen pada setiap lagu tidak sama persis dengan aransemen yang orisinal pada setiap albumnya. Namun, sama sekali tidak mengurangi estetika dan kreativitas musikalitas khas KiaiKanjeng.

Jamaah yang hadir sejak awal di Kenduri Cinta malam ini sangat beruntung, karena banyak nomor-nomor KiaiKanjeng yang jarang dibawakan pada setiap pementasan. Tidak hanya membawakan nomor-nomor lagu, tetapi juga personel KiaiKanjeng menceritakan momentum dan peristiwa dari setiap nomor lagu yang dibawakan. Seperti nomor “Sukaro”, sebuah nomor karya Ummi Kultsum yang sangat legendaris dibawakan dengan aransemen ulang KiaiKanjeng.

Di Cikini malam ini begitu indah. Kerinduan kita dengan KiaiKanjeng terobati dengan tuntas dan penuh kegembiraan dan kebahagiaan.

Lainnya

Di Huma Mocopat Syafaat

Di Huma Mocopat Syafaat

Mungkin, ini adalah pertama kalinya kita bisa menyaksikan Pak Mustofa W Hasyim menari dan berjoged.

Melatih Diri Sadar Batas

Melatih Diri Sadar Batas

Judul di atas, yang sekaligus menjadi tema Pengajian Padhangmbulan, Senin, 25 Maret 2024, berangkat dari asumsi bahwa perilaku manusia dan produk budaya yang dihasilkannya belum sadar batas.