CakNun.com
Tadabbur Hari ini (28)

Perjumpaan dengan Al-Fatihah

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ
ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ
إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ
ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيم
صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ
غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ

(Al-Fatihah: 1-7)

Tanpa dipengaruhi oleh siapa-siapa. Tidak karena membaca buku atau kitab apapun. Tidak karena ada yang mempengaruhi, menyuruh, menganjurkan, mengiming-imingi atau sentuhan apapun dari orang lain — saya sungguh ingin melakukan perjumpaan dengan ayat-ayat paling agung sekaligus makhluk yang sangat mulia, yang Allah Swt. sendiri memberinya nama: Al-Fatihah.

Awalnya saya terdorong oleh kemewahan wicara dengan ingin membuat judul “Perjumpaan ruh dengan Al-Fatihah”. Tetapi Allah Swt. sudah sangat tegas mempermaklumkan:

وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا

Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (Al-Isra`: 85)

Lantas saya menguakkan kemungkinan lain. Mungkin, misalnya “Perjumpaan Jiwa dengan Al-Fatihah”. Tapi ternyata tidak “aman” juga.

Ruh” itu Bahasa Arab yang digunakan oleh wahyu Allah. Jadi bukan orang Arab yang menuturkannya, Subjeknya adalah Allah, yang bahkan Maha Subyek. Pasti berbeda jika dibanding dengan orang Arab yang berbahasa Arab dan mengucapkan kata “ruh”.

Mungkin perlu didomestikkan menjadi “Perjumpaan Jiwa dengan Al-Fatihah”. Kosakata “jiwa” sangat lazim, baku, dan umum digunakan dalam Bahasa Indonesia. “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”, demikian bagian dari lirik lagu nasional yang sejak kanak-kanak saya dan semua warga sudah hafal.

Tetapi semakin bertambah usia saya sampai sekarang menjadi tua, ternyata semakin tidak menentu pemahaman saya tentang “jiwa”.

Apakah “jiwa” itu terjemahan dari kata “ruh”? Apa beda antara “jiwa”, “nyawa”, “sukma”? Atau “batin” saja yang tampaknya lebih sederhana. Tetapi apakah “ruh” itu “batin”? Apakah ucapan hari raya “Maaf Lahir Batin” bisa diganti dengan “Maaf Lahir Ruh”?

Atau barangkali “Perjumpaan Hati dengan Al-Fatihah”? Berarti perlu juga “Perjumpaan Akal dengan Al-Fatihah”, “Perjumpaan Pikiran dengan Al-Fatihah”. Dan ternyata masih banyak kemungkinan bersama hati, akal, dan pikiran. Bisa “nurani”, yang berbeda dengan “sanubari”. Atau saya turuti kerewelan imajinasi saya, misalnya “Perjumpaan Reflektif dengan Al-Fatihah”, “Perjumpaan Analitik dengan Al-Fatihah”, “Perjumpaan Dialektis dengan Al-Fatihah”.

Melebar lagi, “Perjumpaan Metodologis dengan Al-Fatihah”, “Perjumpaan Fenomenologis dengan Al-Fatihah”. “Perjumpaan Kontemplatif dengan Al-Fatihah”, “Perjumpaan Progresif dengan Al-Fatihah”, “Perjumpaan Kritis dengan Al-Fatihah”. Belum lagi “Perjumpaan Makrifat dengan Al-Fatihah”, yang berarti bisa juga perjumpaan Syariat, Thariqat, dan Hakikat dengan Al-Fatihah.

Lantas coba saya rendah-hatikan. “Perjumpaan Keawaman dengan Al-Fatihah”, “Perjumpaan Sehari-hari dengan Al-Fatihah”. “Perjumpaan Kejujuran dengan Al-Fatihah”, “Perjumpaan Blakasuta dengan Al-Fatihah”, “Perjumpaan Apa Adanya dengan Al-Fatihah”, “Perjumpaan Polos dengan Al-Fatihah”, “Perjumpaan Intim dengan Al-Fatihah”, “Perjumpaan Akrab dengan Al-Fatihah”, atau cakrawala terjauhnya barangkali “Perjumpaan Cinta dengan Al-Fatihah”.

Walhasil sampai sekian lama saya disibukkan oleh tawar-menawar dengan berbagai kemungkinan itu. Mungkin sebagai manusia saya kurang akurat langkah-langkahnya. Mungkin terbiasa terpengaruh cara berpikir fakultatif. Mungkin secara budaya dan psikologis saya belum pernah mengalami “keutuhan”. Mungkin terdidik untuk selalu rewel, sehingga perhatian pikiran saya terkeping-keping, terbelah-belah dan penuh dinding-dinding.

Akhirnya saya berwudlu dan shalat malam. Kemudian membuka mushaf Al-Qur`an yang antik oleh-oleh teman dari Maroko. Setelah Al-Fatihah saya masuk ke “Alif Lam Mim” Al-Baqarah dan berjumpa dengan;

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ

Kitab Al Quran ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”. (Al-Baqarah: 2).

Oo apa berangkat dari ini saja ya. “Perjumpaan Taqwa dengan Al-Fatihah”. Tetapi segera saya dicegat oleh diri saya sendiri yang menohokkan pertanyaan: “Emangnya taqwa itu apa?” Takut. Banyak Kiai bilang taqwa itu takut. Lho, kalau gitu ayat ini gimana dong:

 اِنِّيْٓ اَخَافُ اللّٰهَ ۗوَاللّٰهُ شَدِيْدُ الْعِقَابِ ࣖ

Setan berkata: “Sesungguhnya saya takut kepada Allah”. Dan Allah sangat keras siksa-Nya”. (Al-Anfal: 48)

Kalau taqwa adalah takut, lantas kalau Setan mengaku takut kepada Allah, apa bisa diganti menjadi “Setan bertaqwa kepada Allah”?

Akhirnya saya kelelahan sendiri dan memutuskan untuk istirahat dulu, dan belum melakukan perjumpaan apapun dengan Al-Fatihah.

Emha Ainun Nadjib
26 Mei 2023.

Lainnya

Kerapuhan Psikologis dan Wudlu Kehidupan

Kerapuhan Psikologis
dan Wudlu Kehidupan

Kita tenang-tenang saja. Seakan-akan pasti aman sampai Kiamat. Tidak mungkin terjadi hal-hal yang di luar perkiraan kita. Sampai suatu hari “mak bedunduk”. “Innallaha Khobirun bima ta’malun”.

Apa Password Wifi di Gua Hira

Apa Password Wifi
di Gua Hira

Bagaimana mungkin Kanjeng Nabi mentranskripsikan wahyu yang bertaburan itu sehingga sekarang kita “tinggal enak dan terima jadi” berupa 30 juz, 114 surat, 6.236 ayat, dan 77.845 kata. Padahal tidak ada tape recording, gadget perekam atau alat-alat analog atau digital apapun.